Jabar Hari Ini: 'Bengkel Termahal' di Bandung-Walkot Tasik Nonaktif Divonis 1 Tahun

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 20:18 WIB
Pemotor di Bandung dibikin penasaran dengan bengkel termahal di Kota Bandung. Meski di spanduk tertulis bengkel termahal, bengkel itu justru ramai pelanggan.
Foto: Ini bengkel 'termahal' di Bandung yang bikin pengendara penasaran (Yudha Maulana/detikcom).

Ini Respons Bupati dan Pengamat soal 'Desa Miliarder' Kuningan

Warga 'kampung-desa miliarder' di Tuban, Jawa Timur, dan Kuningan, Jawa Barat, menyita perhatian publik setelah ramai-ramai memborong kendaraan, euforia itu dilakukan warga setelah menerima uang ganti untung dari proyek pemerintah.

Pakar ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi mengatakan euforia keuangan jangka pendek yang tidak diikuti perencanaan yang matang untuk jangka menengah dan panjang berpotensi sulit meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menerima dana tersebut.

"Sebenarnya saya agak mengkhawatirkan bahwa pengelolaan keuangan menjadi kurang terencana, seharusnya proses ganti untung bukan hanya kasus Tuban dan Kuningan, tapi banyak kasus yang sama ganti untung proyek pemerintah maupun swasta, kurang ada edukasi dan sosialisasi terkait penggunaannya," ujar Acuviarta saat dihubungi detikcom, Rabu (24/2/2021).

Menurutnya, ingar bingar warga yang memborong kendaraan setelah menerima dana segar mencerminkan bahwa masyarakat di Indonesia memiliki pola perilaku konsumtif.
"Diharapkan dana yang mereka terima bisa memberikan kesejahteraan yang lebih baik, ini bisa jadi malah sebaliknya, lebih konsumtif dan kurang perencanaan," katanya.

Dia menjelaskan, sebaiknya warga menyimpan dana tersebut di perbankan sambil menyusun rencana untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Usahakan, dana tersebut digunakan untuk membeli aset produktif dan tak menyusut nilai investasinya.

"Mobil itu aset yang menyusut, apalagi mobilnya bukan untuk kebutuhan produksi," ucap Acuviarta.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memutar uang tersebut di pasar saham dan sebagainya untuk meraih cuan lebih besar, namun bila belum beradaptasi dengan iklim dan risikonya masih ada jalan lain.

"Mungkin mereka bisa menggeluti bidang yang mereka kuasai tapi sebelumnya terbatas dana, kalau petani misal bisa mengembangkan pertanian di tempat lain, membeli tanah yang lebih murah dan lain-lain, atau bila memiliki usaha bisa meningkatkan ukuran , skala usaha, tapi itu butuh proses dan perencanaan," tutur Acuviarta.

Bupati Kuningan Acep Purnama angkat bicara mengenai warga 'Desa Miliarder' yang memborong ratusan motor dan mobil usai menerima uang ganti untung proyek Bendungan Kuningan.

Acep menganggap apa yang dilakukan warga di Desa Kawungsari dengan membeli kendaraan dari uang ganti untung itu masih lumrah.

"Kalau sekarang banyak yang membeli motor dan mobil, saya kira itu wajar saja. Yang kemarin tidak bisa beli motor, sekarang bisa, dengan uang ganti untung. Kendaraan itu kan untuk kebutuhan transportasi mereka," kata Acep kepada detikcom, Rabu (24/2/2021).

Dia sudah mewanti-wanti warga yang menerima uang ganti proyek Bendungan Kuningan. Acep meminta warganya itu tidak berlebihan saat menggunakan duit ganti.

"Saya sebagai kepala daerah dan juga orangtua bagi warga sudah mengingatkan untuk tidak berlebihan dalam menggunakan dana dari pembayaran proyek Bendungan Kuningan," ucapnya.

Halaman

(yum/mso)