Pembangunan Industri Daerah Hulu Dituding Penyebab Banjir di Karawang Makin Parah

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 19:51 WIB
Seorang warga menggendong anaknya melintasi banjir di ruas jalan Pantura, Jalan Ahmad Yani, Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Minggu (7/2/2021).  Hujan yang terjadi di wilayah tersebut mengakibatkan sejumlah ruas jalan tergenang banjir dan menimbulkan kemacetan. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/rwa.
Banjir di Karawang/Foto: ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar
Karawang -

Sepuluh tahun terakhir terjadi perubahan iklim yang signifikan sehingga membuat bencana banjir di Karawang semakin meluas dan lama surutnya. Hal itu disebabkan pembangunan industri dan properti di kawasan hulu yang semakin gencar.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (forkadasC+) Yazid Alfaizun, pada Selasa (23/2). "Kami mencatat, perubahan iklim itu terasa selama kurun 10 tahun ke belakang. Hal itu bisa dilihat dari terputusnya siklus 5 tahunan banjir di Karawang," katanya.

Perubahan yang paling terasa, kata Yazid, tujuh terakhir atau sejak 2014. Di mana rentetetan bencana banjir terus terjadi dan semakin meluas.

"Padahal sebelum 2014, dari 2010 dampak banjir tidak begitu meluas. Intenstitas banjir sepanjang tahun juga tidak sering terjadi, kecuali daerah Telukjambe Barat Desa Karangligar," tuturnya.

Menurut Yazid bencana banjir yang makin parah sejak 2014 itu karena ketidakmamouan pemerintah membuat kebijakan yang adaptif. Ia menilai pemerintah tidak mampu meredam investasi yang mengeksploitasi alam besar-besaran.

"Kalau melihat pembangunan, dari tahun 2014 hingga saat ini, begitu pesat terjadi. Salah satunya, pembangunan kawasan baru industri, juga properti. Lebih bahayanya, kawasan tersebut berada di hulu Karawang dengan menyempitkan lahan hijau yang ada," jelas Yazid.

Ditambah lagi, lanjutnya, rusaknya alur air di wilayah kawasan karst di Karawang selatan, akibat eksploitasi dari perusahaan tambang. Bukan hanya itu, beberapa ruang hijau yang seharusnya sebagai run off air (atau tempat parkir air) alih fungsi menjadi perumahan mewah.

Sementara itu, Willy Firdaus, Koordinator Sigap Tarum yang juga Magister Mitigasi Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta mengungkapkan, satu tahun lalu ia telah melayangkan surat terbuka kepada Plh Bupati Karawang Acep Jamhuri yang meminta agar wilayah hulu tidak dijadikan wilayah industri, juga penyelamatan wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) dari pembangunan.

"Saya melayangkan surat, karena saya mendengar bahwa Pemkab akan memberikan izin kepada perusahaan tambang yang akan mengeksploitasi kawasan karst di Karawang," ujarnya saat diwawancarai.

Menurut Willy, kawasan karst sangat penting karena wilayah tersebut adalah istana bagi air untuk menciptakan sistem daur hidrologi bagi kebutuhan manusia.

"Kawasan karst itu sudah tidak bisa diganggu gugat, karena itu adalah benteng bagi ekologis di bagian hulu Karawang, dan penyangga bagi pertahanan alam Karawang," tandasnya.

Banjir juga membuat petani merugi. Berapa lahan yang gagal panen? Klik halaman selanjutnya..

Simak video 'Ridwan Kamil Tinjau Tanggul Jebol Sungai Citarum':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2