Badan Geologi: Penurunan Muka Tanah Pekalongan 6 Sentimeter Per Tahun

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 17:07 WIB
Penurunan Muka Tanah Pekalongan
Pemantauan penurunan muka tanah di Pekalongan. (Foto: tangkapan layar presentasi Badan Geologi)
Bandung - Penurunan muka tanah (land subsidence) terjadi di daerah pesisir Pantai Utara (Pantura). Badan Geologi mencatat penurunan muka tanah terjadi paling parah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, dengan penurunan tanah hingga enam sentimeter per tahunnya.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan untuk mengukur tingkat penurunan muka tanah ini pihaknya telah membuat sumur pantau. "Kita membuat sumur pantau, pada alat pantau ini kita melihat seberapa jauh penurunan muka tanah, hasilnya di tahun 2020, terjadi penurunan enam sentimeter per tahun," kata Eko dalam konferensi virtual, Rabu (21/1) kemarin.

Sebelumnya, Badan Geologi melakukan kajian di sejumlah titik yang berada di pesisir Pantura yang meliputi Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang dan Demak. Para peneliti terdahulu, termasuk ITB, telah melakukan penelitian dan menyepakati bahwa telah terjadi penurunan muka tanah di Pekalongan, walau besaran penurunan tanahnya bervariasi tergantung metode pengukuran.

"Para peneliti sepakat di sana memang ada penurunan cuma besarannya ada yang bervariasi, ada yang 9-10 sentimeter, itu tergantung pada pengukurannya, tapi kami dari Badan Geologi membuat alat pantau, kita mulai Maret (2020). Kita terus pantau penurunan signifikan dari 1,3 sentimeter, kemudian 2,3 sentimeter, kemudian September 2,7 sentimeter, sampai akhirnya ada 6 sentimeter, per tahun. Perbedaan (penghitungan) tidak jadi persoalan karena saling melengkapi," tuturnya.

Badan Geologi telah menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah setempat untuk mencegah dampak dari penurunan muka tanah di Pekalongan dan daerah lainnya. Mulai dari pembuatan tanggul, folder air, penataan drainase dan pengendalian abrasi lewat tanggul, hingga penanaman mangrove.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Andiani mengatakan penurunan muka tanah di Pekalongan disebabkan karena tanah lunak yang ada di daerah itu. "Jadi penyebab penurunan tanah di Pekalongan ini karena keberadaan tanah lunak ada pada daerah itu. Berdasarkan kajian geofisika tim kami, ketebalan tanah lunak itu hingga 40 meter di bawah permukaan. Memang menunjukkan ke arah utara semakin tebal, hasil analisa kami pun menyimpulkan penurunan tanah ke arah utara semakin tinggi," ucap Andiani dalam konferensi yang sama.

Selain itu, penurunan muka tanah juga disebutnya bukan berasal dari eksploitasi air tanah yang berlebihan dari lokasi tersebut. Pasalnya, lokasi industri letaknya cukup jauh dari tempat penurunan muka tanah.

"Berdasarkan kajian kami, meski pun ada pengambilan air tanah di daerah industri, proses penurunan air tanah tidak berhimpit dengan penurunan tanah. Sehingga kami tidak menganggap karena penurunan tanah," ujar Andiani. (yum/bbn)