Aksi Pengedar Uang Palsu Terbongkar Saat Beli Minuman di Indramayu

Sudirman Wamad - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 17:49 WIB
Komplotan Pengedar Uang Palsu di Indramayu
Polres Indramayu menangkap komplotan pengedar uang palsu. (Foto: istimewa)
Indramayu -

Sat Reskrim Polres Indramayu meringkus komplotan pengedar uang palsu (upal) rupiah dan dolar AS. Pelaku merupakan warga Kabupaten Indramayu dan Cirebon.

Kapolres Indramayu AKBP Hafidh S Herlambang mengaku menangkap enam pelaku komplotan pengedar upal, tiga pelaku berasal dari Kabupaten Indramayu, yakni DJL (18), AN (38) dan SOL (43). Sementara itu, tiga pelaku lainnya yakni KAS (44), DAR (18) dan KS (58) berasal dari Kabupaten Cirebon.

"Kasus terungkap saat pelaku berinisial DJL tertangkap tangan pemilik warung ketika berbelanja di Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Indramayu," kata Hafidh dalam keterangan yang diterima detikcom, Kamis (14/1/2021).

Pelaku beli beberapa minuman kemasan dengan menyerahkan selembar uang palsu seratus ribu kepada pemilik warung. Pelaku berharap mendapat kembalian uang asli dari hasil belanja itu.

Menurut Hafidh, pemilik warung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Terisi. Petugas langsung mendalami kasus tersebut. Hasilnya, lima pelaku lain berhasil diringkus di kediamannya masing-masing.

"Selain upal, kita juga menemukan upal dolar AS. Kemudian menyita barang bukti lain seperti ultraviolet detected. Alat ini digunakan untuk menguji keaslian uang," katanya.

Hafidh mengungkapkan keenam pelaku ini berperan sebagai pengedar upal di warung-warung di wilayah Indramayu, Kuningan, Majalengka, Cirebon, hingga Bandung. "Keenam tersangka ini ada hubungannya dengan kelompok lain yang sudah ditangkap oleh Polres Majalengka dan Cimahi," kata Hafidh.

Hafidh menambahkan pihaknya masih mendalami kasus peredaran upal yang dilakukan komplotan ini. Petugas masih memburu pelaku lain dan membongkar lokasi pembuatan upal.

Dari tangan pelaku, petugas menyita sebanyak 100 lembar upal jenis rupiah pecahan 100 ribu, dan 91 lembar upal dolar AS pecahan 100. Para pelaku dijerat pasal 224 KUHP dan UU Nomor 7/2011 tentang mata uang dengan ancaman kurungan penjara 10 tahun.

(bbn/bbn)