Sultan Kacirebonan Gemar Koleksi Koin, Ada Uang Setengah Gulden

Sudirman Wamad - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 15:43 WIB
Keraton kecirebonan mengoleksi mata uang asing zaman dulu
Keraton kecirebonan mengoleksi mata uang asing zaman dulu (Foto: Sudirman Wamad)
Cirebon -

Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon, Jawa Barat, mengoleksi mata uang dari Eropa dan Asia pada zaman dulu. Ribuan koin dan lembaran mata uang zan dulu ini tersimpan di museum Keraton Kacirebonan.

Ketua Unit Kepurbakalaan Keraton Kacirebonan Elang Iyan Ariffudin menerangkan mata uang yang dikoleksi itu terbagi menjadi tiga kategori, yakni pada masa penjajahan Belanda, Jepang dan kemerdekaan Indonesia.

"Memang koin-koin dan lembaran mata uang ini asli, koleksi dari sultan-sultan Keraton Kacirebonan pada zaman dulu. Sengaja disimpan karena memiliki nilai historis," kata Iyan saat berbincang dengan detikcom di Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu (13/1/2021).

Iyan menerangkan ketertarikan Sultan Kacirebonan mengoleksi mata uang sudah dilakukan sejak era Sultan VI Pangeran Raja Sidek Arjaningrat hingga Sultan IX Pangeran Raja Abdulgani Nata Diningrat, yang saat ini masih menjabat sebagai sultan. "Sultan kami memang gemar mengoleksi sesuatu. Intinya jangan terbuang. Ini benda yang mempunyai nilai sejara perjalanan Indonesia," kata Iyan.

Iyan mengatakan salah satu koin tertua yang dikoleksi Keraton Kacirebonan adalah pecahan dua setengah gulden Belanda. Koin tersebut berbahan perak. Selain itu, ada juga koin gulden yang tengahnya berlubang.

"Koin yang tengahnya berlubang itu memang sengaja dibuat waktu itu. Karena Ratu Belanda saat itu sudah menikah," kata Iyan.

Iyan mengatakan pihak Keraton Kacirebonan rutin merawat koin-koin koleksi para raja itu. Proses perawatan menggunakan cairan pembersih logam.

Koleksi koin para sultan itu tersimpan di meja kaca yang berada di museum Keraton Kacirebonan. Koin tersimpan di tiga mangkok keramik.

Selain mengoleksi koin, Keraton Kacirebonan juga memiliki sekitar 50 barang kuno lainnya. Barang kuno atau benda pusaka itu peninggalan dari era Sunan Gunung Jati hingga para sultan. Beberapa di antaranya, gamelan pusaka, kereta, dan lainnya

(mud/mud)