ADVERTISEMENT

Emak-emak di Bandung Lawan Pandemi COVID-19 Lewat Tani Pekarangan

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 15 Des 2020 15:17 WIB
Emak-emak di Bandung lawan pandemi dengan bercocok tanam di pekarangan rumah
Emak-emak di Bandung lawan pandemi dengan bercocok tanam di pekarangan rumah (Foto: Yudha Maulana)
Bandung -

Jawa Barat dihadapkan dengan potensi krisis pangan pada 2021 mendatang. Prediksi krisis tersebut terjadi karena beberapa negara pengekspor pangan mulai menghentikan ekspor pangannya ke Indonesia.

Berdasarkan hasil kajian Neraca Pangan Jabar, komoditas strategis yang akan mengalami defisit di antaranya telur ayam ras, daging sapi, bawang putih, minyak goreng dan gula pasir. Prediksi itu jelas akan membuat masyarakat kian terjepit, ekonomi belum pulih karena COVID-19 harus menghadapi krisis pangan pula.

Walau begitu, emak-emak di Kampung Waas, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung tak mau pasrah menghadapi keadaan. Mereka menyadari sejak COVID-19 mewabah pada Maret 2020 lalu, situasi pekerjaan kepala keluarga mereka akan semakin sulit.

Seperti halnya yang dilakukan Irmawati (21), alih-alih menanti bantuan dari pemerintah, ia dan emak-emak lainnya yang rata-rata merupakan buruh tani mengambil peran kerja dengan bertani di pekarangan rumahnya.

"Lima bulan lalu, Yayasan Odesa Indonesia menawarkan kepada saya agar memulai usaha. Lahan di sekitar rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran. Saya diberikan bantuan 100 polybag dan benih sayuran. Dan sekarang sudah lebih 600 polybag. Setiap minggu selalu ada panen," kata Irma, Selasa (14/12).

Ia garap pertanian pekarangan itu di tengah waktu luangnya, bersama dengan suaminya. Waktu untuk menggarap tani pekarangan ini tidak mengambil waktu kerja yang biasa dihabiskan di ladang. Menurutnya, hasil panen bisa rutin karena jadwal tanam mudah diatur, tak perlu menanti musim hujan.

"Berbeda dengan tani di ladang yang biasanya menunggu musim hujan baru menanam dan panen massal," kata Irmawati. Ia pun mulai menanam berbagai macam sayuran seperti packcoy, caisim, bawang daun, seledri, bayam merah, bayam hijau, selada bokor, kangkung, cabe, dan Kelor.

Sejak awal pandemi menekuni tani pekarangan, Iramawati mengakui jika keuntungan secara ekonomis tani pertanian ini tak akan serta merta besar. Tetapi setidaknya dalam jangka waktu 30 hari, uang belanja sayuran setiap bulannya bisa dihemat hingga Rp 300.000.

Ia tak sendiri dalam menggarap tani pekarangan ini di Kampung Waas, setidaknya 10 emak-emak lainnya pun mulai menekuni usaha baru tersebut di pekarangan rumahnya. Awalnya, ujar Irmawati, tetangganya yang kebanyakan buruh tani belum terbiasa dengan tani pekarangan. Tetapi perlahan, keadaan berubah.

"Banyak orang yang kurang menerima pekerjaan ini karena alasan misalnya, takut hasil panennya tidak ada yang membeli. Soalnya biasanya mereka menjual saat musim panen tiba satu tahun 2 kali. Sementara kalau tani pekarangan itu memanennya bisa kapan saja. Ada juga yang merasa ribet karena harus mengumpulkan tanah dan pupuk," katanya.

Menurut Ujang Rusmana, Petani yang menjadi penggerak pertanian Yayasan Odesa Indonesia untuk memulai tani pekarangan ini hanya dibutuhkan modal sekitar Rp 300 ribu yang bisa dipanen secara rutin.

"Kalau tani ladang itu modalnya biasanya besar. Rata-rata di Cimenyan butuh 10 juta. Panen kalau harga bagus bisa jadi duit Rp 17 juta bruto selama 4 bulan. Itupun belum tentu dihitung tenaga kerjanya. Sementara tani pekarangan bisa dimulai dengan modal Rp 300 ribuan dengan panen rutin dan bisa dilakukan kapan saja tanpa pertimbangan hujan atau kemarau. Kalau ladang hanya bisa tanam di musim hujan," kata Ujang.

"Keuntungan tani pekarangan perpolybag. Misalnya 300polybagpackcoy, butuh modal Rp 98.000. Benihnya butuh Rp 40.000. Hasilnya pada 40 hari adalah Rp 200.000. Tanam kedua keuntungannya juga sama Rp 200.000 tapi tidak belanja polybag dan tinggal modal benih saja," katanya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT