Perjuangan Pria 'Penunggu' Bak Sampah di Sukabumi Saat Pandemi COVID-19

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 13:34 WIB
Eman seorang pemulung di Kota Sukabumi
Eman (50) seorang pemulung di Kota Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom).
Sukabumi -

Eman (50) berjalan perlahan sambil menenteng karung plastik menuju bak penampungan sampah di Jalan Bhayangkara, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.

Eman adalah seorang pemulung yang terus berjuang di tengah pandemi COVID-19. Dia membuat gubuk di bawah jembatan di daerah yang berdekatan dengan Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri. Setiap hari, dia menunggu orang membuang sampah di bak penampungan yang hanya sejauh 10 meter dari gubuknya itu.

Di bak penampungan sampah itu dia mencoba mengais rejeki demi bisa menyambung hidup. Berbagai jenis sampah yang bisa dimanfaatkan dan dijual seperti botol bekas dia kumpulkan.

"Kalau saya jual sehari bisa dapat Rp 10 ribu," tuturnya saat ditemui detikcom, Selasa (4/8/2020).

Eman mengaku sudah 4 tahun bekerja sebagai pemulung. Namun sudah satu tahunan ini dia sengaja 'ngepos' membuat gubuk di kawasan Bhayangkara. Gubuk itu dibuat Eman bersama pemilik bengkel yang lokasinya berdekatan.

Gubuk Eman hanya cukup untuk dua orang. Dindingnya terbuat dari papan dan besi bekas. Sementara atapnya dari balihi bekas dan spanduk. Sebuah kasur lusuh dia jadikan tempat istirahat sehari-harinya.

"Asli saya dari Bojonglopang, Jampang Tengah. Punya adik dua sudah menikah semua ikut suaminya. Ibu sudah meninggal dunia, kalau bapak pulang ke Madura," ucapnya.

Jauh sebelum kondisi Eman terposting di media sosial, sudah banyak yang datang dan memberikan bantuan sekedarnya mulai dari warga hingga orang yang sekedar melintas.

Terkadang, ada juga anggota polisi yang memberinya makanan. Banyak juga yang menawarkan pekerjaan, namun pria itu dengan halus kerap menolak dengan alasan tetap ingin hidup bebas.

"Saya pernah bekerja, bantu-bantu rumah tangga. Nyapu, beres-beres. Tapi enggak betah takutnya malah jadi beban orang. Kalau sekarang saya nunggu sampah di bak, kalau ada plastik saya kumpulin," ujarnya.

Amin, pemilik bengkel yang lokasinya seberang jalan tempat gubuk menceritakan kondisi Eman. Ia mengenal Eman sebagai figur yang jujur.

"Dia makan, minum kopi apa dari saya. Kadang-kadang ngutang juga tapi dia bayar, sejauh yang saya tahu orangnya baik dan enggak neko-neko. Cuma memang dia suka bawa teman, nah temannya ini yang suka berantakin di situ jadi terlihat kumuh," ungkap Amin.

(sya/mso)