Kematian Massal Ikan di Sungai Citarum, DLH-Satgas Cari Titik Pencemar

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 13:06 WIB
Ikan tawes hingga sapu-sapu mati karena sungai Citarum tercemar limbah
Ikan-ikan mati di aliran sungai Citarum (Foto: Luthfiana Awaluddin)
Bandung -

Kematian massal ikan dan organisme penghuni Sungai Citarum di Karawang diiringi dengan bau limbah menyengat serta warna air sungai yang berubah hitam pekat sejak 31 Juli 2020. Mencegah perusakan ekologis yang lebih serius, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat (DLH Jabar) dan Satgas Citarum Harum memburu sumber pencemaran lingkungan.

"Hari ini ketua harian Satgas Citarum, staf kami dan komandan sektor lagi mencari sumber pencemar di lapangan," ujar Kepala DLH Jabar Prima Mayaningtias saat dihubungi detikcom, Selasa (4/8/2020).

Saat ditanya upaya untuk mengurangi dampak kerusakan ekologis, Prima mengatakan saat ini Satgas Penataan Ekosistem tengah melakukan sejumlah upaya. "Kami punya wadah Satgas penataan ekosistem yaitu panglima, dan ada komandan sektor di lapangan yang menangani," ujar Prima.

Santa (58), tukang perahu eretan di wilayah Purwadana, Gempol, mengatakan pencemaran ini disinyalir berasal dari limbah industri. Ia bercerita perubahan bau dan warna sungai terjadi sejak Jumat sore (31/7). Menjelang magrib, Santa mengaku melihat aliran sungai tiba-tiba menghitam. Seketika, lanjut dia tercium bau menyengat.

"Saya sampai mual-mual," ujar Santa yang setiap hari membantu warga menyeberang sungai ke Kampung Sumedangan.

Saat pagi hari, Santa dikagetkan dengan bangkai ikan yang berceceran di pinggir sungai. Mulai dari ikan tawes, mujair, lundu dan berbagai ikan lainnya. Bahkan saat detikcom, menyusuri Citarum Senin siang, ditemukan banyak ikan sapu-sapu yang mati. Bau menyengat juga tercium menusuk hidung.

"Setiap hari ikan mati mengambang, pemancing juga tak ada lagi yang ke sini," tutur Santa.

Peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) menduga ikan mati secara tak wajar karena air berbau dan berubah warna. "Jika ikan mati di air berbau dan berubah warna patut diduga terjadi pencemaran," kata Riska Darmawanti, peneliti Ecoton, kepada detikcom melalui telepon, Senin (3/8/2020).

Riska menuturkan, terdapat dua kemungkinan ikan-ikan tersebut mati. Pertama, karena air sungai mengandung limbah beracun sehingga ikan shock. "Racun atau panas ini yang membuat ikan shock stres lalu mati," ujarnya.

Kemungkinan lainnya, lanjut Riska, karena berkurangnya kadar oksigen dalam air akibat proses purifikasi atau pemurnian limbah oleh bakteri di dalam sungai.

Tonton video 'Ada Ikan Purbakala dan Sumur Keramat di Objek Wisata Cibulan':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)