1.456 Hewan Kurban Ditemukan Sakit-Tak Cukup Umur Dijual di Bandung Barat

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 22:17 WIB
Penjualan hewan kurban di Bandung Barat
Foto: Istimewa
Bandung Barat -

Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat menemukan hewan kurban dalam kondisi sakit dan cacat namun tetap dijual ke masyarakat.

Berdasarkan data Disnakan Bandung Barat, ada sebanyak 56 ekor hewan kurban sakit. Rinciannya 50 ekor domba, lima ekor sapi, dan satu ekor kambing. Ada pula satu ekor domba dijual dalam kondisi cacat.

Tak hanya yang sakit dan cacat, ditemukan juga 1.400 ekor hewan kurban dijual dalam usia terlampau muda. Rinciannya sapi 369 ekor, domba 984 ekor, dan kambing 47 ekor.

"Kita temukan hewan kurban yang masih muda untuk dijual, jadi kami minta tidak dijual karena tidak memenuhi syarat. Ada juga hewan kurban yang cacat dan sakit, itu juga tidak boleh dijual," ungkap Kepala Bidang Kesehatan dan Pengendalian Hewan Disnakan KBB Wiwin Apriyanti, Rabu (29/7/2020).

Menurutnya hewan kurban seperti sapi dan domba yang layak dijual harus memiliki kondisi sempurna dari buah zakar yang seimbang, mata jernih, cuping hidung basah, bulu bersih, dan segar.

"Kalau yang cacingan bisa dilihat dari bulu rontok saat diusap. Kalau yang sakit itu tidak layak dijual karena membahayakan saat dikonsumsi dan merugikan pembelinya juga," bebernya.

Setelah melakukan pemeriksaan hewan kurban yang dijual, saat penyembelihan pun pihaknya akan melakukan pemeriksaan kualitas daging karena dikhawatirkan ada penyakit dan daging yang mengandung cacing.

"Saat pemotongan juga nanti akan ada pemeriksaan. Khawatirnya ada cacing pada daging atau jeroan. Kalau seperti itu, harus dibuang karena membahayakan kalau dikonsumsi," tegasnya.

Sementara itu, di tengah pandemi COVID-19 para penjual hewan kurban mengaku mendapat banyak keuntungan. Hal itu disebabkan adanya pembatalan ibadah haji membuat pejualan hewan kurban mengalami peningakatana. kurban.

"Karena keberangkatan haji dan umrah ditunda, mereka yang sudah niat berangkat tapi tak jadi, beralih membeli sapi kurban. Alhamdulillah memberikan berkah juga buat kita penjual hewan kurban," ungkap Ana Gugum, salah satu penjual hewan kurban.

Sejak bulan Mei hingga beberapa hari jelang Idul Adha, penjualan sapi kurban di peternakannya sudah tembus 510 ekor. Bahkan omset penjualan melonjak hampir 50 persen dibanding tahun lalu.

"Sebetulnya sempat pesimis saat ada COVID-19 tapi ternyata malah untung. Pembelinya kebanyakan memesan sapi super, mulai dari jenis sapi limosin, simental, brahma, dan PO yang beratnya mencapai 700 kilogram dengan kisaran harga Rp 40 juta ke atas. Alhamdulillah penjualan sangat bagus, tidak ada dampak dari COVID-19," ujarnya.

Biasanya ia juga kerap menerima pesanan hewan kurban dari sekolah maupun pesantren. Namun karena aktivitas sekolah belum normal, maka penjualan hewan kurban ke sekolah dan pesantren pun terhenti.

"Kalau tahun kemarin lumayan banyak juga hewan kurban yang terjual ke sekolah-sekolah dan pesantren, tapi sekarang penjualannya turun. Mungkin karena belum sekolah lagi, masih belajar online," terangnya.

(mso/mso)