May Day, Serikat Buruh di Sumedang Bagikan Masker-Hand Sanitizer

Muhamad Rizal - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 16:45 WIB
Buruh Sumedang Memperingati May Day
Sejumlah buruh memperingati May Day di Sumedang. (Foto: Muhamad Rizal/detikcom)
Sumedang -

Massa tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Kabupaten Sumedang membagikan masker dan hand sanitizer kepada pengendara yang melintas di kawasan Rancaekek, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (1/5/2020). Mereka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di tengah pandemi COVID-19.

Biasanya kegiatan May Day selalu diwarnai long march dan demonstrasi, namun kini selagi wabah COVID-19, para buruh menggelar aksi sosial dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan menerapkan physical distancing.

Dalam aksi yang berlangsung hanya 30 menit tersebut, mereka menggelar aksi sosial dengan membentangkan spanduk berukuran 10 meter yang intinya menolak RUU Omnibus Law. Terlihat Aksi puluhan buruh itu mendapatkan pengawalan ketat dari aparat gabungan dari TNI dan Polri.

Ketua PPB KASBI PT Kahatex Rusmanto mengatakan meski dalam situasi pandemi virus Corona ini, tidak menyurutkan semangat kaum pekerja untuk menyuarakan perjuangannya sebagai buruh yang butuh kesejahteraan. Namun dalam memperingati May Day kali ini, ia menjelaskan, pihaknya melakukan aksi yang berbeda dari sebelumnya.

"Kami mendukung pemerintah dalam penanganan wabah virus Corona (COVID-19). Kegiatan May Day 2020 ini kami isi dengan pembagian masker dan hand sanitizer. Kita juga memakai APD sebagai bentuk bahwa kita peduli terhadap wabah virus Corona ini," kata Rusmanto di lokasi aksi, kawasan Rancaekek, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (1/5/2020).

Mengingat situasi pandemi Corona, kata Rusmanto, pihaknya tidak berorasi untuk menyampaikan aspirasi buruh. Namun, sambung dia, aspirasi buruh disampaikan melalui tulisan di sebuah spanduk untuk sekadar mengingatkan pada hari ini ialah May Day.

"Kami tetap menolak RUU Omnibus Law. Dalam RUU tersebut ada beberapa elemen yang akan hilang seperti upah minimum dan hak dasar buruh," tutur Rusmanto.

(bbn/bbn)