Unak Anik di Jabar

Serunya Tradisi Ngubyag Balong

Faizal Amiruddin - detikNews
Selasa, 04 Feb 2020 13:13 WIB
Tradisi Ngubyag Balong Pangandaran
Tradisi ngubyag balong (Faizal Amiruddin/detikcom)
Pangandaran -

Ratusan warga Dusun Citelu, Pangandaran, bersukacita. Mereka turun ke kolam ikan untuk bersama-sama menangkap ikan dengan tangan kosong. Tak peduli pekatnya air kolam, mereka adu ketangkasan menangkap ikan.

Pemandangan tersebut terjadi di Desa Mekarsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, pekan lalu atau Jumat (31/1). Tangan warga itu meraba-raba berharap ikan yang mulai kelimpungan mendekat. Suasana riuh, kerap terdengar canda tawa. Ketika ikan ditangkap, sorak sorai warga pecah.

Ngubyag balong, demikian istilah untuk kegiatan menangkap ikan bersama-sama di empang dengan tangan kosong tersebut. "Ini tradisi masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur. Si empunya hajat ingin berbagi dengan masyarakat," kata Tursiman, salah seorang warga Citelu.

Kali ini, yang punya hajat ialah Dede Arifin, salah seorang warga yang baru saja terpilih menjadi Kepala Dusun Citelu. Tak kurang dari satu kuintal ikan dia masukkan ke kolam untuk ditangkap oleh warga. "Di wilayah kami, kalau ada pemilihan, entah itu kepala dusun, apalagi kepala desa, rasanya tak lengkap kalau tidak ngubyag balong," ujar Tursiman.

Tradisi ngubyag balong memang tak hanya milik masyarakat Kecamatan Cimerak. Ngubyag balong menjadi tradisi masyarakat Sunda atau wilayah Jawa Barat. Hanya beda istilah saja, di sebagian wilayah ada yang menyebutnya ngobeng lauk, ada pula yang menyebut ngecak balong. Kebiasaan ini turun-temurun dilakukan masyarakat Jawa Barat.

"Intinya, yang sedang punya hajat ingin berbagi dan menciptakan sarana silaturahmi yang hangat. Semua berkumpul dalam keadaan kotor, tak ada sekat, semua warga sama, egaliter. Tertawa bersama. Tua-muda, pria-wanita semuanya bisa ikut," kata Kabid Kebudayaan Disparbud Pangandaran Aceng Hasyim mengomentari tradisi tersebut.

Meski dilombakan atau diadu ketangkasan menangkap ikan, pada akhirnya semua peserta tetap kebagian. "Esensinya bersedekah, bentuk rasa syukur. Buktinya di akhir acara, air kolam dikosongkan. Ikan yang tidak bisa ditangkap saat ngubyag akhirnya dibagikan kepada warga. Alhasil, warga sekampung hari itu makan ikan, semua bergembira," tutur Aceng.

Menurut dia, tradisi ini layak untuk dijaga. Ya karena memiliki nilai-nilai positif dalam kegiatannya.

(bbn/bbn)