Tanah Turun 1-20 Cm Per Tahun, Bandung Raya Bakal Krisis Air di 2030

Tanah Turun 1-20 Cm Per Tahun, Bandung Raya Bakal Krisis Air di 2030

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 04 Des 2019 15:13 WIB
Potensi likuifaksi di Bandung. (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Potensi likuifaksi di Bandung. (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Bandung - Wilayah Bandung Raya mengalami laju penurunan tanah (land subsidence) yang mengkhawatirkan. Penurunan tanah di sejumlah titik bisa mencapai 1-20 centimeter per tahunnya.

Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengatakan, fenomena tersebut mulai terdeteksi sejak tahun 1980-an di wilayah cekungan Bandung.

"Penelitian kami dilakukan secara berkelanjutan dari tahun 2000, tiap tahun kita ukur dengan menggunakan citra satelit dan GPS," ujar Andreas saat dihubungi detikcom, Rabu (4/12/2019).


Menurut Andreas, daerah yang terjadi penurunan tanah yang signifikan terjadi di Cimahi, Dayeuhkolot, Gedebage, Rancaekek, Majalaya, Banjaran dan Katapang.

"Kalau dijumlahkan sudah ada yang ambles hingga 3 meter, di beberapa tempat ada yang 4 meter. Fenomenanya bisa terlihat dari dinding dan fondasi rumah yang retak, ada juga rumah yang lokasinya jadi lebih bawah dari badan jalan," kata Andreas.

"Kalau di Cimahi, ada di Leuwigajah. Tepatnya di wilayah industri," ucap Andreas melanjutkan.


Namun untuk dampak yang lebih masif, penurunan tanah bisa membuat cekungan sehingga memperluas area banjir di sejumlah titik seperti Dayehkolot dan Rancaekek.

Dari hasil penelitiannya, fenomena penurunan tanah di Bandung lebih cepat dan luas dibandingkan dengan kota lainnya seperti Jakarta, Pekalongan atau Surabaya. "Jika Bandung berada di bibir pantai, mungkin akan lebih cepat tenggelam," katanya.
Selanjutnya
Halaman
1 2