Kisah Eks Napi Bandung Kembali Berdaya Lewat Lampion Pipa

Kisah Eks Napi Bandung Kembali Berdaya Lewat Lampion Pipa

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 01 Nov 2019 14:20 WIB
Eks narapidana di Bandung Barat membuat lampion pipa. (Yudha Maulana/detikcom)
Eks narapidana di Bandung Barat membuat lampion pipa. (Yudha Maulana/detikcom)
Bandung Barat - Pernah mendekam di balik jeruji besi tak membuat Adhe Abdul Rosyid (48) berhenti berkarya. Ia bahkan mengajari mantan narapidana lainnya membuat lampion pipa yang bernilai seni tinggi.

Adhe tampak anteng mengukir corak pada sebilah pipa. Tangannya meliuk-liuk sambil menggenggam gerinda kecil, menggambar bunga dalam relung imajinya, tanpa cetakan pola.


Setelah gambar terukir, Adhe melubangi beberapa sisi gambar tersebut, kemudian memasukkan lampu di celah pipa. "Nah, kalau sudah keluar cahaya (dari lampu) begini, jadi lebih cantik," kata Adhe saat ditemui di rumahnya, Jumat (1/11/2019).

Adhe memanfaatkan pipa-pipa bekas bangunan dari tempat sampah atau rongsokan. Limbah itu kemudian ia bawa ke bengkel sekaligus rumahnya di Kampung Cijeungjing, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, untuk diolah.

"Sehari bisa selesai tiga lampion. Saya dibantu enam mantan narapidana lainnya. Mereka juga belajar membuat lampion. Untuk sementara ada yang membuat bagian kaki atau mengampelas," katanya.

Kisah Eks Napi Bandung Kembali Berdaya Lewat Lampion PipaFoto: Yudha Maulana/detikcom
Saat ini, Adhe telah memiliki 20 corak lampion yang berbeda dengan berbagai ukuran. Satu set lampion ia jual mulai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

"Inspirasinya saya lihat dari YouTube, kemudian saya coba buat. Dua bulan masa percobaan karena pipa sering bolong terkena gerinda," ucapnya.


Sebelumnya, Adhe menekuni usaha ukiran atau menata gazebo, sehingga ia tak begitu kesulitan saat mengalihkan kreasinya ke pipa. Ia pun bisa menerima pembuatan corak lampion pipa sesuai pesanan.

"Sekarang paling hanya soal modal dan pemasarannya saja, kalau alat-alat sekarang cukup. Sejauh ini pembeli paling hanya dari mulut ke mulut saja," ujarnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2