Saksi Ungkap Kisah Racun dan Lipstik Habib Bahar Palsu di Bali

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Kamis, 09 Mei 2019 14:30 WIB
Tim pengacara habib Bahar bin Smith menghadirkan saksi meringankan. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Bandung - Nurcholis kecewa atas ulah remaja yang mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar bin Smith di Bali. Dia mengungkapkan kekesalannya saat dihadirkan di persidangan.

Nurcholis merupakan rekan Hamid Isnaeni yang sama-sama warga Bali. Dia juga turut bertemu dengan dua remaja Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam alias Zaki yang mengaku-ngaku habib Bahar. Belakangan ulah habib Bahar palsu itu terbongkar. Keduanya lalu dianiaya habib Bahar bin Smith.


Nurcholis dihadirkan sebagai saksi yang meringankan oleh tim pengacara habib Bahar dalam persidangan kasus penganiayaan yang digelar Pengadilan Negeri (PN) Bandung di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Jalan Seram, Kota Bandung, Kamis (9/5/2019).

Dia menceritakan awal pertemuannya dengan Zaki dan Cahya. Saat itu, dia dihubungi Hamid yang bercerita ada habib Bahar bin Smith di Bali yang kehilangan uang Rp 6 juta.

"Ketika bertemu, dia mengenalkan diri kalau dia habib Bahar, nah satu lagi namanya Alatos. Mengaku habib Bahar dan menyebut istrinya juga. Yang bicara ini si Alatos," ucap Nurcholis.

Ia sudah mendengar cerita soal hilang uang Rp 6 juta itu lantas mengajak rekan-rekannya untuk urunan. Uang Rp 4 juta akhirnya terkumpul dan diberikan kepada Cahya dan Zaki melalui tangan almarhum Usman.

"Itu (memberi uang) karena zuriah rasul (turunan nabi). Saya harus hormati," kata Nurcholis.


Nurcholis lantas mengantar Zaki dan Cahya ke bandara menggunakan mobil pinjaman. Sebelum sampai di bandara, dia mengajak mereka makan terlebih dahulu.

"Saat makan itu, sorban (Cahya) sempat dibuka. Tapi si Zaki ini mencolek supaya ditutup lagi. Saya lihat saat mencolek itu karena ada di sampingnya," ujarnya.

Hal itu menimbulkan kecurigaan bagi Nurcholis. Dia curiga lantaran Cahya yang mengaku habib Bahar tak banyak berbicara.

"Alatos itu yang banyak bicara. Jabar yang mirip habib Bahar banyak diam. Alatos ini bilang waktu itu habib Bahar habis diracun, enggak banyak bicara, pita suaranya rusak. Kedua, bilang habib Bahar biasanya bibirnya merah, sekarang nggak pakai lipstik," tutur Nurcholis.

Kecurigaan Nurcholis bertambah saat mendengar tujuan Cahya dan Zaki datang ke Bali. Mereka mengaku datang ke Bali atas undangan salah satu pengajian. Mereka yang sudah tiba di Bali, menyebut panitia pengajian itu kabur.

"Di Bali itu kalau ada kegiatan keagamaan pasti ramai. Ini enggak ada. Apalagi sekaliber Bahar, enggak ada ramai-ramai," ucapnya.


Kecurigaan Nurcholis terjawab. Setelah Zaki dan Cahya pulang, Zaki menelepon Nurcholis dan mengaku telah berbohong.

"Setelah pulang dari Bali, Zaki sempat telepon saya malam hari. Kebetulan ada saksinya karena saya pakai speaker. Dia bilang, 'pak Nurcholis saya minta maaf saya sudah bohongi, saya pun dibohongi Jabar baru kenal Jabar pagi tadi di Bali. Terus dia bukan habib, saya yang habib. Saya Alatas turunannya'," Nurcholis menjelaskan.

"Lalu saya bilang, 'kamu besok urusan sama Allah'. Terus dia bilang, 'saya akan pertanggungjawabkan semua ini di depan habib Bahar apapun konsekuensinya, akan tanggung'. Makanya saya di Bali kaget kenapa ada persidangan ini," tutur Nurcholis.

Cahya dan Jabar memang mengaku-ngaku sebagai habib Bahar saat di Bali. Perbuatan tersebut diketahui oleh habib Bahar bin Smith. Akibatnya, keduanya dianiaya oleh Bahar.


Bahar bin Smith: Orang Mengaku Habib Harus Dipukul dan Dipenjara! (dir/bbn)