DetikNews
Rabu 05 Desember 2018, 15:14 WIB

Mengungkap Misteri Macan Kumbang Mati Ditembak Warga Soreang

Mochamad Solehudin - detikNews
Mengungkap Misteri Macan Kumbang Mati Ditembak Warga Soreang (Foto: repro foto viral macan kumbang mati ditembak)
Bandung - Sejumlah aktivis dan pegiat lingkungan menelusuri misteri kasus penembakan macan kumbang yang terjadi di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hasil investigasi yang dilakukan mereka ditemukan sejumlah fakta yang harus ditindaklanjuti oleh pihak terkait, terutama BBKSDA Jabar.

Temuan pertama dari hasil investigasi oleh tim jaringan Walhi Jabar terdiri dari berbagai organisasi ini menemukan bahwa macan kumbang yang mati ditembak warga bukan berasal dari alam liar. Kemungkinan besar macan tersebut dipelihara sesuai dengan keterangan dari masyarakat dan BKSDA sebelumnya.

"Bekas cakaran di pohon dimana macan ditembak, dilihat cakarnya tumpul. Itu merupakan hal janggal untuk macan liar. Bila dilihat memang bukan macan turun dari gunung," kata pegiat Forum Pemerhati Macan Tutul Jawa Agung Ganthar Kusumanto saat ditemui di Kantor Walhi Jabar, Jalan Cikutra, Kota Bandung, Rabu (5/12/2018).


Melihat kulit dari macan kumbang yang diamankan BKSDA, satwa malang tersebut berjenis kelamin jantan dan masih berusia muda atau sekitar bawah dua tahun. Lantaran usia masih muda itu sangat berpotensi besar dijadikan peliharaan atau diperjualbelikan.

"(Untuk dipelihara atau diperjualbelikan) interest-nya memang sering kali hewan usia muda. Karena gampang dijinakkan dan lain-lain," ucap Ganthar.

Terlepas dari itu, pihaknya mendorong BKSDA agar dapat menelusuri sehingga diketahui asal usul macan kumbang itu. Sebab hingga kini belum jelas histori macan yang termasuk hewan dilindungi tersebut.

"Intinya ini harus diusut tuntas. Ini macan datang dari mana, karena sudah jelas tidak turun dari Gunung Tilu dan ini macan muda," kata Ganthar.


Pegiat lingkungan dari Gunung Institute Pepep DW yang terlibat dalam investigasi memastikan habitat macan kumbang yang mati ditembak warga bukan dari alam liar. Dia mengungkapkan kasus penemuan macan di Kampung Pangguyangan yang menjadi lokasi penembakan itu merupakan kejadian pertama.

Sebelum kejadian penembakan, sambung dia, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehadiran macan. Apalagi, menurut Pepep, jarak antara Gunung Tilu sebagai tempat yang berpotensi menjadi habitat macan ke Kampung Pangguyangan cukup jauh mencapai 25 km.

Warga Kampung Pangguyangan justru memperkuat dugaan bila macan tersebut hasil peliharaan. Karena berdasarkan hasil keterangan dari salah seorang warga di kampung lainnya mendengar ada warga di Kampung Sela Awi memelihara macan lalu lepas.

Setelah ditelusuri lebih lanjut oleh Pepep dan tim lainnya, mulai terungkap sebuah dugaan kuat bahwa macan tersebut berasal dari tempat wisata Taman Love yang lokasinya tidak jauh dari tempat penembakan dan Kampung Sela Awi.

"Ceritanya langsung mengerucut di sini. Dari narasumber di sana, kemungkinan yang memelihara macan itu di sebuah tempat wisata namanya Taman Love," tutur Pepep.


Pihaknya langsung menelusuri kembali informasi tersebut dan menemukan fakta bila tempat wisata bernama Taman Love mengoleksi satwa terbilang eksotik. Bahkan di area dalamnya terdapat sebuah kandang besar terbuat dari besi yang kosong.

"Masuk ke Taman Love, kondisinya menyimpan satwa eksotik. Di lokasi juga menemukan kandang berukuran besar, tidak mungkin untuk kucing (biasa), kalau kita menduga," ucapnya.

Melihat fakta-fakta yang ada, Pepep mendorong BBKSDA Jabar dan pihak terkait untuk menggelar investigasi lanjutan. Pihaknya ingin kasus penembakan ini bisa terungkap secara jelas tanpa ada dugaan-dugaan.

"Mendorong investigasi lanjutan. Tidak hanya dugaan, ini titik poin pentingnya memelihara jelas melanggar, macan lepas juga membahayakan. Ini harus ditentukan biar kita lihat sumber di mana jangan-jangan ada satwa lain yang dilindungi (yang dipelihara di Taman Love)," ujar Pepep.

Ketua Badan Pembina (BP) Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jabar Dedi Kurniawan menyatakan pihaknya akan terus menyelidiki agar kasus ini cepat tuntas.

"Kami dorong terus (BKSDA) menggali para pelaku, karena ada hal-hal penting yang perlu dikaji. Kami juga sepakat akan terus melakukan upaya (pengusutan), tahap demi tahap," ujar Dedi.



Simak Juga 'Bikin Resah, Macan Kumbang Dihujani Peluru oleh Warga Soreang':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed