detikNews
Selasa 24 April 2018, 14:44 WIB

Cerita Jampi dan Mandi Kembang Sang Dukun Cabul di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Cerita Jampi dan Mandi Kembang Sang Dukun Cabul di Sukabumi Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi saat berbincang dengan dukun cabul, Arifin Rismawan. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom).
Sukabumi - Sejumlah wanita galau berparas cantik di Sukabumi menjadi korban pencabulan pria mengaku dukun, Arifin Rismawan. Sang dukun berambut gondrong tersebut punya ritual khusus untuk memperdaya 'pasien'.


Arifin membenarkan kronologi aksi perdukunan yang diungkap polisi. Namun dia membantah disebut memaksa menelanjangi korban. Menurut Arifin, korban yang mayoritas wanita dewasa ini secara sukarela membuka baju saat proses ritual.

"Mereka datang, lalu konsultasi seperti biasa. Mereka kebanyakan yang ingin gampang jodoh, punya masalah percintaan dan rumah tangga. Saya ajak mereka masuk ruangan, lalu saya bacakan jampi pangirut (membuat orang terpesona)," tutur Arifin di ruang tahanan Polsek Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (24/4/2018).



Dia menuturkan siapa pun yang memiliki dan membacakan mantra pangirut bakal membuat orang atau target menjadi tergila-gila. Jampi itu diperoleh Arifin dari beberapa orang guru, salah satunya warga Sulawesi.

Dengan jampi itu, Arifin mengklaim berhasil membuat korban klepek-klepek. Setelah terkena sugesti, korban bersedia menuruti segala perintah si dukun.

"Saya suruh (korban) buka baju sampai telanjang, mereka menuruti. Saya enggak paksa-paksa. Setelah dia (korban) telanjang, ya saya juga ikut telanjang. Enggak sampai begituan (hubungan badan), saya cuma pegang-pegang saja sebagai bagian dari syarat (ritual)," ujar Arifin berdalih.


Setelah pelaku puas menyalurkan nafsunya, sebagian korbannya diajak Arifin mandi kembang. "Tidak semua (mandi kembang), ada beberapa saja yang begitu. Lainnya hanya saya wariskan jampi saja," katanya.

Arifin mengakui menakut-nakuti korbannya. Dia bilang aura 'pasien' bakal tertutup kalau tidak menurut. Namun hal itu ditegaskan Arifin bukan ancaman, namun pilihan kepada 'pasien'.

"Saya bilang, kalau nurut maka auranya terbuka. Kalau enggak nurut, auranya buyar dan tertutup. Saya biasa saja bilangnya, enggak pakai ancaman," ucap Arifin.

Di kantor polisi, Arifin sempat memperagakan jampi andalannya tersebut. "Tangta tengteu, padeleu-deleu kasima dengdeu ku bulu Panon. Tep, kleyer kapiangeun angeun mangka luas mangka asih ka awaking, Aing," kata Arifin berbahasa Sunda.

[Gambas:Video 20detik]


(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed