×
Ad

Mungkinkah Rudal Iran Mencapai Eropa?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 25 Mar 2026 14:43 WIB
Seorang laki-laki di pusat kota Teheran berjalan melewati spanduk yang menggambarkan rudal diluncurkan dari Iran. (Atta Kenare / AFP via Getty Images)
Jakarta -

Peluncuran rudal balistik jarak jauh dari ibu kota Iran di Teheran menuju pangkalan militer gabungan UK-AS di Pulau Diego Garcia yang terletak di Samudra Hindia merupakan eskalasi konflik yang nyata di Timur Tengah.

Rudal yang ditembakkan Iran itu diklaim tidak mengenai sasaran. Namun Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut ini adalah pertama kalinya Iran meluncurkan rudal jarak jauh semacam itu sejak pertempuran Israel-AS dan sekutunya melawan Iran dimulai, 28 Februari lalu.

Iran belum angkat bicara terkait penembakan rudal tersebut. Berbagai media massa di Iran mengutip media internasional dalam pemberitaan mereka.

Para ahli kini menelisik implikasi dari serangan rudal Iran tersebut, termasuk maknanya untuk berbagai target potensial yang lebih luas.

Salah satu pertanyaan mereka, bisakah rudal Iran itu mencapai ibu kota negara-negara di Eropa termasuk Berlin, Paris, dan London?

Seorang menteri di kabinet Inggris mengatakan "tidak ada penilaian untuk mendukung" klaim IDF bahwa Iran memiliki rudal jarak jauh yang mampu mencapai London.

BBC

"Program rudal Iran telah sejak lama menjadi titik fokus pengawasan komunitas internasional," kata Ghoncheh Habibiazad, jurnalis BBC News Persian.

"Meskipun Iran berkeras bahwa program pengembangan rudal mereka murni bersifat defensif dan berakar pada strategi pencegahan nasional, sejumlah kritikus berpendapat bahwa kemajuan dalam kemampuan rudal jarak jauh mereka dapat mengubah dinamika keamanan regional," ujar Ghoncheh.

Satu bulan belum berlalu sejak negosiasi untuk mengatasi kekhawatiran atas apa yang dituduh sebagai ambisi nuklir Iran, tapi Israel dan AS kemudian menyerang Iran.

Gugusan Kepulauan Chagos, yang salah satu di antaranya adalah Pulau Diego Garcia, berjarak sekitar 3.800 kilometer dari Iran.

Wall Street Journal dan CNN memberitakan penembakan rudal balistik Iran ke pulau tersebut. Keduanya mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, yang mengklaim tidak satu pun rudal Iran yang mencapai pulau itu.

Salah satu rudal, menurut pejabat itu, gagal di udara, sementara yang lainnya dicegat oleh rudal kapal perang AS. BBC telah mengecek dan menyimpulkan bahwa klaim itu benar.

Segera setelah insiden tersebut, IDF mengatakan banyak kota di Eropa, Asia, dan Afrika dapat dicapai oleh rudal Iran. IDF pada 2025 mengklaim Iran berencana mengembangkan rudal dengan kemampuan seperti itu.

BBC

Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengunggah video di media sosial setelah peluncuran ke arah Kepulauan Chagos.

"Iran meluncurkan rudal balistik antarbenua dua tahap dengan jangkauan 4.000 kilometer. Rudal-rudal itu tidak dimaksudkan untuk mengenai Israel," katanya.

"Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa. Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung," tudingnya.

Sejumlah kalangan, termasuk pakar pertahanan dan mantan kepala Komando Pasukan Gabungan Inggris, Jenderal Richard Barrons, menilai analisa baru perlu dilakukan terhadap persediaan dan jangkauan rudal Iran.

"Sebelumnya kami mengira rudal Iran memiliki jangkauan 2.000 kilometer, tapi faktanya Diego berjarak 3.800 kilometer dari Iran," kata Barrons.

Prototipe rudal Iran dipajang di sebuah jalan, di Teheran, Iran, 22 Maret 2026. (Reuters)

Hingga saat ini, Iran menyatakan telah memberlakukan batasan sendiri terhadap program rudal balistik mereka, dengan jangkauan terjauh 2.000 kilometer. Merujuk klaim ini, artinya Israel berada dalam jangkauan rudal Iran, tapi tidak dengan kawasan Eropa.

Ayatollah Ali Khamenei pada tahun 2021 menyatakan bahwa pembatasan program rudal mereka adalah pilihan politik. Dia berkata, Iran tidak memiliki kendala teknis dalam pembuatan rudal.

Di sisi lain, proyek itu juga dibuat di tengah penentangan dari para pemimpin militer dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Ayatollah Ali Khamenei berulang kali menyebut ingin mempertahankan Iran ancaman Israel dan tak berniat menyerang Eropa yang bukan sasaran Teheran.

Namun, pada September 2025, seorang anggota parlemen Iran mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa IRGC telah berhasil melakukan uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua. Namun dia tidak memberikan rincian tentang jangkauan rudal tersebut.

Kemampuan jangkauan rudal Iran

Pemerintah AS sejak lama menuduh bahwa program luar angkasa Iran memungkinkan negara itu mengembangkan teknologi untuk membangun rudal balistik antarbenua.

Beberapa pakar sepakat dengan tudingan itu. Karin von Hippel, mantan direktur jenderal Royal United Services Institute di London, berkata "dengan asumsi rudal mencapai Diego Garcia, Iran juga mengembangkan rudal balistik antarbenua yang dapat mencapai hingga 10.000 kilometer, meskipun kita belum melihatnya beraksi."

Merujuk jarak yang disebut Hippel, artinya rudal yang ditembakkan dari Iran berpotensi mencapai daratan AS.

Serangan Iran terhadap Samudra Hindia, menurut sejumlah pakar, menunjukkan bahwa batasan internal terhadap pengembangan rudal jarak jauh Iran sebenarnya telah dihilangkan.

Sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran terlihat di langit, dalam foto yang diabadikan dari kamp Bureij yang dihuni pengungsi Palestina Jalur Gaza. (AFP via Getty Images)

Namun sejumlah kalangan ragu apakah rudal jarak jauh Iran benar-benar bisa mencapai Eropa atau bahkan AS.

"Tidak ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan Inggris atau bahkan dapat melakukannya jika mereka mau," kata Steve Reed, Menteri Perumahan UK.

Namun isu yang juga mencuat adalah apakah Iran telah menguasai teknologi untuk melakukan serangan jarak jauh seperti itu.

Terdapat aspek psikologis yang tampak dalam isu ini.

Beberapa pihak percaya bahwa Iran selama konflik dengan Israel dan AS sebenarnya tidak pernah bermaksud untuk mengenai target serangan mereka. Iran justru dianggap hendak mengirimkan peringatan.

"Bukan berarti mereka berpikir bahwa besok mereka akan menyerang London atau Paris, tapi bagi mereka itu adalah elemen lain yang memungkinkan mereka untuk membangun pencegahan," kata Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen militer Israel yang sekarang bekerja untuk Institut Studi Keamanan Nasional yang berbasis di Tel Aviv.

Respons Israel terhadap peristiwa di Samudra Hindia pekan ini juga dapat diinterpretasikan sebagai seruan mereka memanggil negara lain untuk berseketu.

"Tentu saja Israel akan mengatakan ini karena sesuai dengan kepentingan mereka untuk memperluas perang dan melibatkan sebanyak mungkin negara lain di samping Amerika dan Israel," kata Richard Shirreff, mantan wakil komandan NATO untuk Eropa.

"Kita harus menolak ajakan ini. Ini adalah perang Trump, tanpa tujuan akhir dan strategi yang jelas, yang telah menjadi begitu rumit.

"Kita diberitahu bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan enam bulan yang lalu. Kita tidak bisa mempercayai apa pun yang keluar dari AS tentang hal ini," ujarnya.

Lihat Video 'Klaim-klaim Kemenangan Trump Atas Iran':




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork