Langkah strategis ini dinilai sangat esensial untuk meminimalkan dampak kerugian materiil maupun timbulnya korban jiwa. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menegaskan penguatan kapasitas relawan merupakan wujud tanggung jawab mutlak pemerintah daerah. Ia mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi memberikan dukungan penuh terhadap agenda pelatihan tersebut.
"Kami mengapresiasi dan sangat support kegiatan peningkatan kapasitas teman-teman relawan. Ini menjadi bagian tanggung jawab pemerintah daerah agar kalau ada kebencanaan, penanganannya bisa lebih cepat," ujar Sumarno pada keterangan tertulisnya, Jumat (4/9/2026).
Menurut Sumarno, kecepatan penanganan bencana memerlukan kompetensi yang teruji dari para relawan di lapangan. Kecepatan tindakan dinilai berbanding lurus dengan meminimalkan dampak kerugian materiil maupun korban jiwa.
Menghadapi potensi bencana di musim kemarau saat ini, Pemprov Jateng menyoroti ancaman kebakaran lahan dan tempat pembuangan sampah. Sumarno mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan melakukan pembakaran di luar rumah.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengonfirmasi tingginya risiko kebakaran akibat kelalaian atau human error. Lahan pertanian dan perkebunan menjadi area paling rawan terdampak aktivitas ceroboh tersebut. Pihaknya pun memastikan seluruh tim selalu siaga merespons setiap kemunculan titik panas.
"BPBD tetap harus siap. Begitu terdeteksi titik panas (hotspot) yang berefek pada potensi kebakaran, kita langsung bergerak memadamkan bekerja sama dengan Damkar setempat," ucap Bergas.
Berdasarkan data BPBD Jateng, sebanyak 615 insiden kebakaran telah melanda sepanjang periode 1 Januari hingga 30 Agustus 2026. Angka tersebut mencakup 282 kebakaran hutan dan lahan serta 333 musibah kebakaran gedung maupun permukiman.
Tingginya frekuensi kejadian ini menuntut kesiapsiagaan personel melalui pelatihan terpadu. Agenda peningkatan kapasitas kali ini diikuti oleh 150 peserta terpilih dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Materi pelatihan dipandu langsung oleh instruktur berpengalaman dari Basarnas. Fokus utama pembekalan menitikberatkan pada teknik pencarian dan pertolongan perkotaan atau Urban Search and Rescue (SAR).
(anl/ega)









































