Anak-anak Migran Asal Indonesia Ikut Membentuk Wajah Australia di Masa Depan

ABC Australia - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 11:30 WIB
Jakarta -

Tanggal 26 Januari adalah hari libur nasional yang dikenal sebagai 'Australia Day' atau 'Hari Australia', sebuah hari yang paling kontroversial hingga saat ini.

'Australia Day' dianggap sebagai sebuah hari perayaan kebangsaan, tapi sekaligus peringatan atas sejarah kolonisasi terhadap budaya asli Aborigin.

Bagi banyak warga, 'Australia Day' menjadi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman, seperti menggelar 'barbecue' atau pergi liburan ke pantai.

Tapi bagi penduduk asli benua Australia dan keturunannya, mereka menyebutnya sebagai 'Invasion Day atau 'Hari Penjajahan', hari berduka atas masa lalu dan meningkatkan kesadaran soal ketidakadilan sosial.

Mungkin selama ini Anda mengira jika sebutan "orang Australia" hanya merujuk pada orang berkulit putih.

Tapi penduduk asli benua Australia adalah suku Aborigin dan Kepulauan Selat Torres dan wajah masa depan Australia akan semakin beragam.

Aboriginal men perform a traditional smoking ceremony.

Upacara yang diberi nama 'smoking ceremony' biasanya digelar saat perayaan 'Australia Day' yang jatuh tanggal 26 Januari. (Foto: Supplied)

Hannah Tunstill, usia 37 tahun lahir di Adelaide dengan ibu asal Sulawesi Utara dan ayahnya adalah warga kulit putih Australia.

"Kedua orang tua saya bertemu di Australia dan ibu saya sudah tinggal di Adelaide hampir 40 tahun," kata Hannah kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia.

"Ketika orang bertanya mengenai latar belakang saya, saya mengatakan saya orang Australia dengan latar budaya Indonesia."

Hannah sekarang bekerja sebagai guru musik dan juga di bidang administrasi bidang seni.

Walaupun tidak lancar berbahasa Indonesia dan tidak pernah tinggal lama di Indonesia, Hannah terlibat dalam berbagai kegiatan budaya Indonesia.

"Saya merasa beruntung karena ayah saya bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan sangat berminat dengan hal-hal mengenai bahasa, sejarah dan budaya Indonesia," kata Hannah.

"Saya dan adik laki-laki saya memang dibesarkan dalam pendidikan Barat, namun orang tua kami membawa kami ke dalam berbagai budaya Indonesia."

Berbicara mengenai identitas diri, Hannah mengatakan dia sering mendapat pertanyaan mengenai latar belakang keluarganya dan biasanya dengan senang hati menjawab.

"Hanya saya tidak suka dengan orang kulit putih Australia yang kadang bertanya dari negeri mana saya berasal," katanya.

"Pertanyaan itu seperti mengatakan bahwa orang Australia hanya 'satu jenis' saja, hal yang tidak benar.

"Kadang saya juga mengalami pernyataan rasis yang menyuruh saya kembali ke negara asal saya.

"Saya kadang merasa lucu saja, karena ini adalah juga negeri dimana saya berasal."

"Tetapi saya sudah tidak pernah mendengar hal seperti itu lagi belakangan, jadi mudah-mudahan keadaan sudah berubah," katanya lagi.

Dengan latar belakang Indonesia dan Australia, Hannah mengatakan sayang sekali saat ini masih banyak warga Australia yang tidak banyak mengetahui soal Indonesia, belum lagi beberapa perguruan tinggi berencana menghentikan program pengajaran bahasa Indonesia.

"Ini seperti menghilangkan kesempatan bagi pemahaman yang lebih mendalam antar negara tetangga, di mana masing-masing memiliki perbedaan, namun juga kualitas yang bagus di masing-masing pihak."

"Saya merasa ikatan saya dengan Indonesia merupakan bagian penting bagi saya dan akan lebih baik lagi bila orang-orang di sekeliling saya bisa mengalami apa yang saya alami."

"Itulah mengapa saya suka tampil dan juga mengajar gamelan dan ikut terlibat dalam kegiatan seperti [acara] Indofest di Adelaide."

"Saya berharap akan ada lebih banyak restoran Indonesia di sini, sehingga saya bisa membawa teman-teman saya ke sana," kata Hannah yang juga terlibat dengan kelompok gamelan Sekar Laras di Flinders University, Adelaide.

"Meski saya tidak memiliki hubungan keluarga dengan budaya Jawa Tengah [dalam soal gamelan] namun saya merasa saya merayakan dan menghargai akar budaya Indonesia saya."

(ita/ita)