detikNews
Minggu 31 Juli 2016, 10:51 WIB

Misi Menjernihkan Air Kotor di Bandung dengan Mikroba

Masnurdiansyah - detikNews
Misi Menjernihkan Air Kotor di Bandung dengan Mikroba Takeshi (kanan), Abraham (kiri) Foto: Masnurdiansyah
Bandung - Seorang peneliti pria asal Jepang bertekad untuk menjernihkan air yang kotor di Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya. Dia optimistis mampu menjernihkan air dengan memakai alat yang murah tanpa mengeluarkan biaya hingga berjuta-juta.

Peneliti tersebut bernama Takeshi Sato. Dia akan membuat alat pemurni air bernama "You".

"Januari 2017 saya akan melakukan pemurnian air-air kotor di Bandung dengan menggunakan alat yang sudah ada hidup di alam, yaitu mikroba," ucap Takeshi melalui Abraham Suryapratama sebagai penerjemah, saat ditemui di Gedung Indonesia Menggugat, jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Minggu (31/7/2016).

Mikroba adalah organisme yang berukuran kecil yang muncul dari jasad renik yakni tumbuhan atau hewan yang telah mati dengan ukuran sangat kecil.

Penelitian kolaboratif ini dilakukan oleh organisasi nonpemerintah Ryukensei Indonesia yang diwakili oleh Abraham Suryapratama, bekerjasama dengan NGO Ecological 1st-AID Jepang yang diwakili oleh Takeshi Sato. Penelitian juga turut mengajak para mahasiswa dari beberapa Universitas di Kota Bandung serta melibatkan masyarakat setempat di sekitar area penelitian.

Takeshi didampingi oleh Bram sapaan akrab Abraham Suryapratama menyampaikan, penyelamatan lingkungan perlu dilakukan agar masyarakat bisa kembali menikmati air jernih. Penjernihan air di Bandung dan sekitarnya menurut mereka merupakan hal yang penting

"Kami ingin menolong lingkungan, pertolongan pertama lingkungan adalah hal yang begitu penting, agar masyarakat bisi memiliki cara pandang terbaru dalam menjernihkan air," ujarnya.

Takeshi mengatakan, program ini bertujuan memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi yang memiliki air kotor. Selain itu hal ini menjadikan penelitian dan pengembangan bagi masyarakat agar memiliki perubahan dalam hidup, terpenting merawat air. Dirinya akan menawarkan serta mengajarkan masyarakat dalam proses pembuatannya. Program jangka panjang ini akan terus berlanjut.

"Ini sifatnya berkelanjutan hingga warga mampu mengembangkan dan merawat alat, bahkan mampu menyebarkan cara pemurnian dan menjaga sumber air kepada masyarakat lainnya. Warga pun menjadi lebih peka dan mampu mandiri," kata pria yang berusia 40 tahun ini.

Alasan menggunakan mikroba, ia nilai mampu memakan kandungan air kotor hingga menjadi jernih. Waktu proses penjernihan air yang lama memang diakui oleh dirinya, namun penggunaan alat ini sangat murah bahkan dikatakan lebih aman jika dibanding memakai alat berbahan kimia, dengan harga yang sangat mahal.

"Bisa saja memurnikan air di Bandung dengan program filter air, tetap dengan program filter air harganya sangat mahal, seharga dua kamera Digital SLR (tipe profesional). Alat ini dibuat dengan harga yang murah, karena bahan untuk membuat alat ini banyak tersedia di Bandung seperti bambu bekas. Cara bekerja alat ini digerakan dengan pompa. Kita tidak memberikan alat, karena prototipe akan dibuat di sini, " ucapnya.

Ia mengungkapkan, saat ini banyak alat penjernih air menggunakan bahan kimia. Sehingga hasil dari penjernihannya kerap kali menyisakan bahan kimia dalam air tersebut. Penggunaan mikroba menjadi salah satu jawaban agar terhindar dari sisa-sisa kandungan kimia dalam penjernihan air. Mikroba akan diciptakan setelah air kotor dari beberapa titik yang ditentukan rampung diteliti.

"Mulai sekarang saya tidak akan menjernihkan air dengan bahan kimia, karena setelah penjernihan air banyak sisa klorin yang tertinggal. Dengan klorin bukan menyelesaikan masalah tapi menjadi masalah baru yaitu gatal karena bahan kimia," jelasnya.

Awalnya ia mengaku, dibawa oleh Bram untuk meneliti beberapa air kotor di Kota Bandung. Setiap menemui sungai kotor mereka berhenti untuk mengecek kandungan di dalam air. Ini dilakukan untuk melihat dan menentukan apakah alat yang akan ia bawa dari negera asalnya cocok atau tidak untuk dipasang.

"Saya memilih kota ini (Kota Bandung) karena dia (Bram) membawa saya kemari untuk bersama-sama menciptakan alat untuk menjernihkan air kotor di sini. Saya selalu berhenti untuk mengecek untuk menentukan apakah alat yang akan dibawa dari Jepang cocok dengan tempat tersebut, karena alatnya harus sesuai titik tuju," terang pria yang bekerja sebagai pengajar di Universitas Jepang.

Dalam proses kinerjanya alat ini dikatakan Takeshi, mampu membuat 30 ton air jernih dalam jangka waktu satu hari, atau sebanyak 150 bath tub dengan kapasitas 200 liter. Penciptaan Mikroba ini harus menghindari tempat-tempat yang lembab dan harus ada sinar matahari.

"Nantinya setiap tempat yang telah ditentukan, akan dipasang empat hingga lima Mikroba, asal harus ada cahaya matahari," lanjut pria berkacamata asal negeri bunga Sakura ini.

Tetap saja setiap alat memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan alat ini dikatakan Takeshi tidak mampu menjernihkan air kotor yang telah terkontaminasi oleh merkuri (air raksa) dan nuklir. Ia juga mengaku, telah meneliti air di tempat pembuangan sampah di Jepang, dan telah memiliki sertifikat penjernihan air yang diberikan pemerintah negaranya.

Penelitian Sudah Berjalan

Penelitian dilaksanakan di Desa Parakan Muncang, Bogor dan Desa Sindang Pakuon, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang berlangsung selama setahun sejak Sabtu, 23 Januari 2016 sampai Januari 2017.

Seraya menambahkan, Bram yang mendampingi Takeshi beralsan kenapa memilih wilayah tersebut sebagai awal mula dari penelitiannya. Pada mulanya wilayah itu merupakan rawa dan sawah dan kini berubah menjadi pemukiman padat. Terlebih komposisi penduduk di dusun tersebut terdiri dari 70 persen pendatang dan 30 persen penduduk asli. Pekerjaan warga setempat rata-rata berada di sektor pertanian, perdagangan, dan buruh, terlebih wilayah tersebut kini tumbuh pasar tradisional hingga beberapa tempat industri yang mencemari populasi air.

"Sesungguhnya di sana sudah tersapat Penyediaan Air Minum (PAM) yang hanya dapat digunakan oleh 300 keluarga. Karena banyak pendatang rasa empati terhadap lingkungan relatif minim sehingga banyak warga disana juga sulit membayar iuran air sementara kebutuhan konsumsi air tetap tinggi,"ujar Bram.

Setelah tim mendapatkan data awal maka akan diproses untuk menuju langkah penelitian selanjutnya, seperti daerah Leuwi Gajah (Cimahi), Bojong Tanjung (Dayeuhkolot), Cukanggenteng Kecamatan Pasirjambu, Bandung dan sejumlah titik lainnya.

Mereka berharap, kedepannya masyarakat mampu mengoperasikan alat 'You' dengan sendiri dan merawat mesin penjernih air yang telah dibuat dan diajarkan sebelumnya. Program ini diberi nama 'Program Senyum', yang mencakup penyuluhan kepada warga berupa pengembangan partisipasi warga dalam pemurnian air dan pendekatan terhadap perusahaan tekstil yang kerap membuang limbahnya ke aliran sungai.

"Warga harus mampu mengembangkan dan merawat alat 'You' ini, bahkan mampu merawat dan menjaga sumber pemurnian air. Masyarakat juga harus secara sukarela menjalani dan merawat program dan mesin yang telah dipasang," tutup Bram.
(mad/mad)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com