Ilustrasi : Edi Wahyono
Kamis, 21 Maret 2024Apa kabar siklus Wolbachia? Penerapan teknologi mutakhir guna memberantas demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dan penolakan. Sejauh ini progres nyamuk ber-Wolbachia tak seindah yang dibayangkan.
Di Semarang, awal program pelepasan nyamuk ber-Wolbachia menyasar empat kecamatan, yakni Kecamatan Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, dan Mijen. Secara bertahap, pelepasan pertama dilakukan pada 8 September hingga 21 November 2023.
“Progresnya itu tidak seindah yang kita bayangkan secara teori. Jadi di Tembalang dan Banyumanik mungkin bisa melepas empat kali atau lima kali ya. Tapi hasilnya, nyamuknya yang mengandung Wolbachia juga di luar ekspektasi. Harusnya sudah sampai di angka 50 persen, ini baru di angka 20 atau 25 persen,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam kepada detikX pada Selasa, 19 Maret 2024.
Supaya bisa menurunkan angka kasus demam berdarah dengue, secara teoretis, penetasan telur nyamuk Wolbachia harus mencapai 60 persen, dilanjutkan dengan perkawinan secara alami antara nyamuk Wolbachia dan nyamuk Aedes aegypti biasa.
Menurut Hakam, ada sejumlah tantangan yang dihadapi di lapangan yang membuat hasilnya kurang optimal. Misalnya kurang telitinya ‘orang tua asuh’ atau warga yang merawat telur Wolbachia dalam memilih jenis air sebagai media penetasan. Air seharusnya bersih agar telur bisa menetas, tapi ada beberapa kasus ‘orang tua asuh’ yang menggunakan air sumur yang mungkin mengandung alga sehingga mengancam telur-telur nyamuk Wolbachia.
Di sisi lain, terkadang ‘orang tua asuh’ juga tidak disiplin dalam menengok ember-ember telur tempat menetas, karena gangguan serangga, hujan, ataupun angin bisa menyebabkan telur rusak dan hilang begitu saja.
Tantangan yang agak berat lainnya adalah munculnya keraguan ‘orang tua asuh’ ketika merawat telur-telur nyamuk Wolbachia. Ketika musim demam berdarah tinggi, Hakam bercerita, terdapat orang tua asuh yang merasa bahwa merekalah yang menyebabkan kasus tersebut tinggi karena telah mengembangbiakkan nyamuk. Oleh sebab itu, terdapat daerah yang mesti diedukasi kembali dan ditunda penetasan telur Wolbachia-nya.
Alhasil, hingga kini belum bisa disimpulkan apakah nyamuk Wolbachia memiliki dampak terhadap penurunan kasus. Sebab, kata Hakam, program penetasan ini mesti berjalan setidaknya selama 12 bulan baru bisa dilihat pengaruhnya.
“Kalau misalnya mau menurunkan kasusnya, baru nanti setelah program Wolbachia-nya sudah selesai. Kita belum bisa menilai secara detailnya,” ucap Hakam.

Nyamuk ber-Wolbachia yang siap kawin dengan nyamuk Aedes aegypti.
Foto : Pradito Rida Pertana/detikJogja
Sejauh ini keberhasilan penetasan nyamuk Wolbachia paling tinggi terdapat di Kecamatan Banyumanik, yaitu sebesar 22 persen, disusul Gunungpati 18 persen, Tembalang 17 persen, dan Mijen 16 persen. Kendati demikian, keempatnya masih jauh dari target yang disasar.
Kota Semarang merupakan satu dari lima kabupaten/kota dalam pilot project penyelenggaraan teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Dasar hukumnya tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1341/2022 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Penanggulangan Dengue dengan Metode Wolbachia. Empat kota lainnya adalah Jakarta Barat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).
Di Bandung, implementasi Wolbachia mengalami kendala serupa dengan di Semarang. Ekspektasi penetasan telur belum mencapai angka 60 persen. "Kota Bandung sudah dimulai, baru satu kelurahan di Kecamatan Ujungberung. Ini baru berjalan 19 persen, padahal harus 60 persen populasi nyamuk ber-Wolbachia, baru bisa berdampak pada penurunan penyakit DBD," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu di Balai Kota Bandung, Senin (18/3/2024).
Sedangkan di Jakarta Barat, implementasi program ini masih tertunda dalam proses kesepakatan dengan pemerintah kota.
“Belum, belum. Masih persiapan, baru minggu lalu Pak Pj Gubernur ketemu Pak Dirjen P2P Kemenkes untuk hal-hal teknis di lapangan seperti apa,” kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Erizon Safari kepada detikX.
Optimisme penerapan Wolbachia becermin dari keberhasilan Yogyakarta menetaskan telur nyamuk Wolbachia di atas 80 persen. Yogyakarta menjadi daerah riset teknologi Wolbachia selama kurun waktu 12 tahun. Pada 2016, angka kasus DBD di Kota Yogyakarta mencapai 1.705 dengan tingkat kematian 0,4 persen.
“Dengan adanya Wolbachia ini memang kasusnya jadi turun drastis, tidak ada kematian, fogging-nya juga turun drastis. Kini, per 20 Maret, ada 43 kasus dan kematian nol. Fogging masih 6 kali,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani kepada detikX.
Teknologi Wolbachia merupakan program dari World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, yang berkolaborasi dengan Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM), Monash University Australia, dan Yayasan Tahija. Riset ini dimulai sejak 2011.
Peneliti utama Wolbachia, Adi Utarini, menyebut bakteri Wolbachia sudah terbukti aman bagi manusia, hewan, maupun lingkungan.
Baca Juga : Darurat Wabah Demam Berdarah

"Pascapelepasan di Yogyakarta, kami tetap melakukan pemantauan secara kontinu bersama Dinas Kesehatan dan tidak ada dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan. Teknologi Wolbachia aman bagi manusia dan lingkungan. Dan di Kota Yogyakarta, teknologi ini menurunkan kegiatan fogging sebesar 83 persen," kata Prof Uut mengutip detikJogja, Minggu, 19 November 2023.
Sains Versus Teori Konspirasi
Siti Fadillah Supari, Menteri Kesehatan RI periode 2004-2009, sempat mengutarakan penolakannya terhadap program Wolbachia. Tudingannya cukup santer mempertanyakan keamanan penerapan Wolbachia sebagai pengendali DBD. Teknologi Wolbachia ia klaim ditakutkan akan mengganggu keseimbangan alam dan rantai ekologi dunia.
"Ini yang membuat ketidaknyamanan menurut saya sebagai bangsa yang berdaulat. Dari segi kesehatan, DBD menurut saya telah terkendali dengan program-program dari Kemenkes," katanya dalam konferensi pers Senin, 13 November 2023.
Siti juga menyebut kemungkinan bakteri Wolbachia bermutasi dengan parasit lain yang bisa berujung munculnya penyakit yang lebih mematikan. Bukan hanya Siti, di media sosial juga bermunculan teori konspirasi nyamuk Wolbachia sebagai bentuk penolakan terhadap implementasinya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Dokter Siti Nadia Tarmizi mengatakan Wolbachia sebenarnya bukanlah hal teramat baru. Metodologi Wolbachia sudah diterapkan di sembilan negara, belum termasuk Indonesia. Nadia juga menjelaskan teknologi Wolbachia tidak akan mengganggu keseimbangan alam karena Wolbachia merupakan bakteri alami yang ada pada serangga.
“Sebenarnya bakteri ini sudah ada di nyamuk-nyamuk Aides, tapi secara natural itu membutuhkan waktu. Karena itu, kita percepat dengan memberikan bakteri Wolbachia (yang) nanti diharapkan dapat berkembang sendiri, dan nanti kita tahu akan menggantikan populasi yang tidak ber-Wolbachia,” jelas Nadia kepada detikX.
Dampaknya, lanjut Nadia, nanti penanganan DBD bisa dilakukan lebih baik karena nyamuk ber-Wolbachia ini dipastikan tidak akan memindahkan virus dengue dari orang yang sakit ke orang yang sehat.
Nadia menerangkan Kemenkes juga tengah melakukan sosialisasi yang melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat sekitar. Selain untuk memberikan pemahaman terkait manfaat nyamuk Wolbachia ini, penting untuk menangkis beragam hoaks dan teori konspirasi di media sosial.
“Masyarakat mungkin ada yang belum memahami betul nyamuk Aides yang ber-Wolbachia ini, ya kita tahulah karakteristik masyarakat kita gampang percaya hoaks tersebut karena di medsos ini banyak sekali hoaks tentang nyamuk Wolbachia ini. Dikatakan adanya rekayasa genetik, kan tidak ada sama sekali rekayasa genetik itu,” ucap Nadia.

Menteri Kesehatan dan Wali Kota Semarang memulai program membagikan telur nyamuk ber-Wolbachia di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Selasa (30/5/2023).
Foto : Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Tersebarnya hoaks dan penolakan Wolbachia tak hanya terjadi di dunia maya. Bali, yang menjadi salah satu wilayah pelepasan nyamuk Wolbachia, mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Alhasil, pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, yang seharusnya sudah dilakukan pada akhir tahun lalu, tertunda hingga sekarang.
Ketua Kluster Kedokteran dan Kesehatan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional dan pengurus PB IDI dan PP IAKMI, Dokter Iqbal Mochtar, menilai teknologi Wolbachia ini sebenarnya konsep dan evidence base-nya sudah terbukti bagus. Singapura, misalnya, menjadi negara yang penerapan Wolbachia-nya berhasil menurunkan demam berdarah sampai 70 persen.
“Di Indonesia masalahnya adalah minimnya sosialisasi dan komunikasi publik. Untuk sebuah program yang terbilang 'novel' bagi sebuah negara, mestinya ada sosialisasi dan komunikasi publik yang adekuat sebelum meluncurkan sesuatu. Jadi jangan masyarakat hanya dianggap sebagai objek yang harus menerima apa saja program pemerintah. Mereka harus diajak dan dilibatkan agar tidak ada penolakan,” jelas Iqbal kepada detikX.
Terkait dengan banyaknya beredar teori konspirasi menyoal Wolbachia, sebenarnya bukan hal yang jarang di dunia kesehatan dan teknologi. Teori konspirasi memang sudah lama kerap digaungkan di berbagai topik kesehatan.
“Bukan hanya Wolbachia, bahkan AIDS, vaksin anak-anak, dan COVID juga ada yang menganggapnya konspirasi. Karena hal ini, keberhasilan program penanggulangannya menjadi terhambat,” terangnya.
Kendati demikian, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menilai pemberantasan DBD tak bisa hanya mengandalkan nyamuk Wolbachia. Selain penerapan biaya teknologi yang tinggi, pengoptimalan komunikasi risiko terkait dengan penyakit endemik Indonesia tak boleh dilupakan.
“Strategi komunikasi risiko pemerintahnya sudah tidak seperti dulu, mungkin kalah dengan program-program lain. Setidaknya saat ini adalah momen yang tepat untuk membangun kembali bukan hanya literasi di masyarakat, tapi di antara pemerintah sendiri, bahwa dengue fever adalah isu global, bukan isu lokal, dan Indonesia adalah hotspot-nya endemik dari dengue fever ini,” tandasnya.
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi, Devandra Abi Prasetyo
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban