Spotlight

Wawancara Khusus Maruarar Sirait:

Megawati & Rachmawati Satu Bapak Beda Partai

Maruarar Sirait resmi mendeklarasikan dukungannya kepada Prabowo-Gibran karena yakin Jokowi juga mendukung keduanya. Menurutnya tak masalah jika ada perbedaan sikap politik dalam satu keluarga.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 25 Januari 2024

Terik matahari pukul 14.00 WIB pada Senin, 22 Januari 2024, nyaris tidak terasa dari balik pagar hitam rumah di Jalan Diponegoro Nomor 33, Menteng, Jakarta Pusat. Halamannya begitu sejuk dengan hiasan bunga-bunga dan beberapa tumbuhan tropis. Sebagian rumput halaman tertutup dedaunan rindang dari pohon beringin putih yang menjulang dari dekat tembok depan rumah. Di tengah halaman, tumbuh pohon botol berbatang gendut dengan sedikit daun. Sang empunya rumah pernah mengklaim kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pohon itu sudah berusia 200 tahun.

Ada pemandangan mencolok terlihat di depan garasi rumah. Di antara empat mobil mewah yang terparkir di garasi itu, terpajang sebuah karangan bunga ucapan selamat ulang tahun dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Seorang penjaga rumah bilang, karangan bunga itu sudah ada sejak 23 Desember 2023. Tertulis ‘Selamat Ulang Tahun ke-54 Ara Sirait’. Panggilan akrab mantan politikus PDI Perjuangan, Maruarar Sirait.

“Tapi kalau keluarga yang orang-orang tua (panggil saya) Maruarar,” kata Ara kepada detikX saat ditemui di rumahnya pada Senin, 22 Januari 2024.

Ayah Ara, Sabam Gunung Panangian Sirait, merupakan salah satu pendiri Partai Demokrasi Indonesia (PDI), cikal bakal PDI Perjuangan, yang dipimpin Megawati Soekarnoputri saat ini. Sejak kecil Ara dididik sebagai kader partai dan diajari ideologi Sukarno. Ara masih ingat, ketika masih berada di sekolah dasar dahulu, dia bersama kader PDI Perjuangan lainnya ikut membantu memasang spanduk partai ayahnya itu di Bundaran Hotel Indonesia.

Beranjak dewasa, Ara pernah diminta menjadi saksi bagi PDI di tempat pemungutan suara di daerah rumahnya pada Pemilihan Umum 1987. Waktu itu, Ara masih duduk di kelas II sekolah menengah atas. Pada 27 Juli 1996, Ara ikut turun membentengi ‘kandang banteng’ di Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, yang kala itu diserbu massa pendukung Ketua Umum PDI versi kongres Medan yang didukung rezim Orde Baru, Soerjadi, serta sejumlah aparat kepolisian dan TNI. Penyerbuan itu dikenal dengan sebutan Peristiwa Kudatuli atau Peristiwa Sabtu Kelabu.

Maruarar Sirait saat berkampenye untuk memenangkan Ganjar Pranowo di Subang, Jumat (16/6/2023).
Foto : Dwiky Maulana Velayati/detikJabar

Pada 1999, bapak dua anak ini resmi mengikrarkan diri bergabung dengan PDI Perjuangan mengikuti jejak ayahnya. Karier Ara di PDI Perjuangan terbilang moncer. Bersama PDI Perjuangan, Ara berhasil menduduki kursi DPR RI selama tiga periode beruntun 2004-2019. Ara bahkan pernah ditawari satu kursi menteri oleh Presiden Joko Widodo pada 2014, meski akhirnya gagal lantaran disebut-sebut tidak mendapatkan restu dari Megawati dan Puan Maharani.

Karier Ara di dunia politik sedikit meredup setelah pada 2019 dia gagal kembali melenggang ke Senayan. Kegagalan Ara melaju ke Senayan ini disebut-sebut lantaran Megawati memintanya pindah daerah pemilihan dari sebelumnya di Subang, Majalengka, dan Sumedang ke dapil Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur. Setelah Pemilu 2019 itu, nama Ara seperti seakan menghilang dari kancah politik Indonesia.

Ara kembali muncul pada 2023 mengampanyekan calon presiden yang diusung PDI Perjuangan Ganjar Pranowo di beberapa daerah. Namun dia tidak lagi terlihat aktif mengampanyekan Ganjar setelah, pada 11 Oktober 2023, mantan Gubernur Jawa Tengah itu menghapus fotonya berpelukan dengan Ara dari akun Instagram pribadinya.

Peristiwa-peristiwa itu belakangan dihubungkan dengan keputusan Ara memilih mundur dari PDI Perjuangan pada Senin, 15 Januari lalu. Empat hari setelahnya, Ara secara resmi mengikrarkan diri mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden dari Koalisi Indonesia Maju, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Pada Senin, 21 Januari lalu, reporter detikX Fajar Yusuf Rasdianto dan Alya Nurbaiti serta reporter 20detikAgus Dwy Nugroho berkunjung ke rumah Ara untuk mendengar langsung alasannya pamit dari PDI Perjuangan. Seorang penjaga rumah meminta kami menunggu di sebuah ruangan, di dekat pergola di ujung halaman rumah. Setelah 30 menit menunggu, Ara hadir dengan pakaian yang sudah rapi. Dia mengenakan kaus putih beledu dan jins berwarna biru dongker. Ara bilang dia harus siap-siap menghadiri acara bersama Prabowo.

“Acara teman-teman Amerika Serikat, yang pernah belajar di Amerika Serikat, di Plaza Senayan,” kata Ara. Kami hanya mendapatkan waktu 30 menit untuk mewawancarai Ara. Berikut perbincangan lengkapnya.

Sejak kapan Anda terlibat aktivitas partai politik?

Saya umur berapa tahun ya, masih SD kelas berapa sudah pasang spanduk di Hotel Indonesia. Itu senang begitu. Adik-adik saya nggak ada yang begitu. Waktu saya SMA kelas dua, saya sudah menjadi saksi di Gang Bakti (Bintaro) dekat rumah bapak saya, jadi saksi di TPS. Saksi PDI, nunggu dari pagi sampai sore. Waktu peristiwa 27 Juli (1996), waktu kantor DPP PDI Perjuangan diserang, saya datang dari rumah, parkir di dekat kantor Parkindo (Partai Kristen Indonesia), sekarang jadi Yayasan Komunikasi, di Jalan Matraman Raya. Kami datang ke situ, kami ikut berantem, lempar-lempar.

Anda memutuskan masuk partai ikuti kata hati nurani atau ikut-ikutan dengan ayah?

Oh, kami keluarga yang sangat demokratis. Buktinya adik saya (Barata Sirait) di Gerindra, pernah jadi caleg Gerindra, kalau nggak salah sekitar 10 tahun lalu. Kami hormati demokrasi. Seperti Bu Mega, kan juga demokratis. Contohnya Ibu Megawati dengan Ibu Rachmawati (Soekarnoputri) satu bapak, partainya beda nggak? Waktu Pak Susilo Bambang Yudhoyono presiden, Bu Mega di luar pemerintahan. Ibu Rachmawati dukung Pak SBY nggak? 

Bagi saya, politik itu bukan keluarga. Itu feodal kalau mengatakan politik itu keluarga. Sukarno itu adalah suatu ajaran, makanya ada anak ideologis, anak biologis. Belum tentu anak-anak biologisnya, cucu biologisnya, ideologis. Mesti diuji itu. Sukarno menjadi besar karena bukan hanya didukung dan dijalankan oleh keluarganya. Jadi ini urusan partai, bukan urusan keluarga.

2014 Bu Mega punya kesempatan menjadi calon presiden, punya hak prerogatif yang diberikan partai dalam kongres, tapi dia memilih Mas Jokowi sebagai calon presiden PDI Perjuangan. Pada saat sebagian waktu itu teman-teman saya di PDI Perjuangan ingin mencalonkan Bu Mega, tapi Bu Mega dengan kata hatinya memilih Pak Jokowi. Sekarang juga bagus, 2024 kita tahulah bagaimana ada keinginan Mbak Puan, siapa yang nggak tahu kan, tapi Bu Mega memilih Mas Ganjar, itu bagus.

Pidator terakhir Maruarar Sirait sebagai Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih di Jakarta Selatan, Senin (20/3/2023). Kini Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih adalah Kepala LKPP Hendrar Prihadi.
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Setelah hiatus dari dunia politik pada 2019, bisnis Anda berkembang pesat. Boleh dikatakan sekarang Anda sudah jadi pengusaha sukses. Mengapa masih tertarik pada dunia politik?

Politik itu memperjuangkan apa yang kita yakini benar. Apa itu? Agenda. Agenda misalnya bagaimana Indonesia cegah radikalisme karena Indonesia adalah plural. Bhinneka Tunggal Ika. Beda suku, agama, etnis, pilihan politik tetap satu. Ya itu kita memperjuangkan itu. Dan memperjuangkan siapa? Contoh bagaimana 2014 sebelum PDI Perjuangan secara formal mendukung Pak Jokowi sebagai calon presiden, kami, saya sudah mendukung. Kenapa? Kita masa mau jadi politisi yang hanya terima perintah saja? Apa enaknya menjadi politisi yang hanya menerima perintah, menjalankan perintah? Itu kan level apa, begitu kan?

Kita juga harus bisa memperjuangkan apa yang kita yakini benar, termasuk di partai. Walaupun ada konsekuensi, ada yang suka, ada yang nggak suka, biasa saja. Kita nggak bisa berpolitik cari orang suka semua sama kita. Sama seperti sekarang yang saya lakukan sekarang. Saya memilih pamit dari PDI perjuangan, karena saya memilih mengikuti jalan politiknya Pak Jokowi.

Jadi itu alasan Anda pamit dari PDI Perjuangan dan memilih mendukung Prabowo-Gibran. Memangnya Jokowi mendukung Prabowo-Gibran?

Saya meyakini begitu.

Hanya keyakinan saja? Tidak ada obrolan atau perintah?

Meyakini. Nggak ada obrolan. Kita nggak perlu ada perintah untuk menjalankan apa yang kita yakini. Bahkan kalaupun ada perintah B, kalau kita yakin yang A, kita jalanin yang A. Karena apa yang saya yakini, yang bisa melanjutkan pikiran, perjuangan Bung Karno adalah Pak Jokowi.

Memang seberapa dekat Anda dengan Jokowi?

Oh, saya memang sudah berkawan sama Pak Jokowi sudah lama sekali. Bukan baru sekarang, dari (Jokowi) Wali Kota Solo, dari sebelum gubernur, sebelum presiden, sampai presiden, bahkan nanti sesudah tidak jadi presiden pun saya akan tetap menjadi sahabat beliau. Karena sahabat itu bukan karena jabatan, karena kami memang bersahabat, setia kawan, ya. Kami cocok, pikiran kami, perjuangan kami, begitu.

Dalam unggahan Instagram Anda pada 15 Januari 2024 yang menerangkan alasan Anda pamit, Anda juga mengunggah foto bersama Jokowi. Kapan Anda tepatnya bertemu Jokowi?

Ya, pada hari yang sama saya datang ke kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro. Sorenya.

Kami dapat info, sebelum mundur dari PDI Perjuangan, Anda sudah lebih dulu bertemu dan berkomunikasi dengan Pak Prabowo soal keputusan mendukungnya, benar?

Kalau komunikasi dengan Pak Prabowo dan Mas Anies (Baswedan), saya bersahabat baik sama semua calon presiden dan semua calon wakil presiden. Kami bersahabat sangat baik. Ya, sama Mas Anies kami sering waktu itu mengundang acara, waktu itu saya Ketua Taruna Merah Putih, acara Taruna Merah Putih, kami sama-sama memperjuangkan Pak Jokowi gubernur. Saya bikin acara di Tugu Proklamasi, Mas Anies datang, ada fotonya. Pak Hary Tanoe (Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo) datang, ya begitu.

Jadi kapan sebetulnya Anda diminta bergabung dan mendukung Prabowo?

Kemarin di Majalengka, saya surprise gitu ya, di depan sekitar 10 ribu orang beliau, terus terang saya kaget, tanya saja sama Pak Prabowo ya. Tiba-tiba, sambil dia pidato, dia katakan, ‘Mas Ara saya minta untuk membantu di TKN (Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran)’. Itu saya baru tahu begitu.

Maruarar Sirait saat mendampingi Prabowo berdialog dengan MPH Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), di Salemba, Jakarta, Jumat (19/1/2024).
Foto : Pradita Utama/detikcom

Diminta gabung di tim apa?

Saya ikut Pak Prabowo saja. Pak Prabowo kan kita harus percaya. Seperti saya percaya dengan Pak Jokowi.

Sumber kami di PDI Perjuangan bilang mereka sudah tahu Anda dekat dengan Prabowo sejak Oktober 2023. Itu alasan mengapa Ganjar menghapus fotonya yang sedang berpelukan dengan Anda.

Kalau dekat, dekat semua. Saya dekat, harus dekat sama semuanya. Karena, bagi saya, kerukunan yang diajarkan oleh Jokowi dan Prabowo itu harus dilanjutkan.

Jadi sebetulnya kapan Anda punya pemikiran pamit dari PDI Perjuangan? Dan apa pertimbangannya?

Semua orang tentu punya pertimbangan. Dan pertimbangan itu, kalau di keyakinan saya, pasti kita berbicara dengan keluarga terdekat, istri, anak, orang tua, ya bicara juga sama adik-adik, bicara juga dengan kawan-kawan, sahabat terdekat, bicara juga dengan konsultan-konsultan politik yang saya kenal, politisi yang saya kenal, ke partner-partner pengusaha. Kebetulan saya berapa tahun ini fokus di dunia usaha. Dan ya mayoritas mendukung langkah saya. Dan paling penting adalah kita berkonsultasi sama Tuhan.

Apakah keputusan Anda mundur ada kaitannya dengan peristiwa gagalnya Anda jadi menteri pada 2014, pemindahan dapil pada 2019, dan dihapusnya foto Anda oleh Ganjar?

Gini, kalau menurut kamu, yang nawarin saya pindah partai banyak nggak? Sudah saya nggak jadi menteri, kalau kamu betul pelajari saya, saya masih aktif nggak, membantu apa… kegiatan-kegiatan? Misalnya saya Ketua Taruna Merah-Putih, mendorong caleg-caleg dari Taruna Merah-Putih. Ya sudah. Waktu Mas Jokowi maju 2019, saya aktif membantu nggak? Jadi, ya kamu nilai sendiri kualitas kader saya seperti apa dengan apa yang saya alami.

Jadi selama ini Anda merasa masih loyal buat PDI Perjuangan?

Loyalitas kepada partai harus kalah terhadap loyalitas kepada negara, menurut saya. Dan kita harus mengikuti hati kita. Ya, ada orang yang mengikuti perintah partai atau petugas partai. Tentu saya memilih menjadi petugas rakyat. Saya memilih menjadi petugas rakyat, yang mengikuti hati nuraninya. Apalagi saya berdoa untuk itu. Dan saya siap risikonya. 

Dengan Anda berpaling dari PDI Perjuangan, artinya sekarang sudah tidak ada lagi penerus Sabam Sirait di PDI Perjuangan

Ya, itu nggak ada masalah, kan…. Itu kan hak demokrasi orang, suami-istri saja boleh dong punya pilihan yang berbeda. Ya, kan? Anak sama bapak boleh loh pilihan yang berbeda. 

Bagaimana hubungan Anda dengan PDI Perjuangan saat ini?

Baik, dong. Saya tetap menghormati, saya mengucapkan terima kasih di IG saya. Saya titip salam semua. Anak perempuan saya yang memberi nama Ibu Mega. Gita Cempaka, Amaris Berliana Sirait Gita Cempaka. Kami bersama-sama sudah panjang sekali, tapi kami makanya harus menjaga tetap kekeluargaan. Kalau punya pikiran dan pilihan yang berbeda, ya pamit baik-baik, sopan, gentle gitu loh, sportif saja.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Alya Nurbaiti, Agus Dwy Nugroho
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE