INVESTIGASI

Tembakan Penghabisan untuk Brigadir J

Sembari mengendap-endap, Bharada E mendekati Brigadir J yang sudah terkapar. Dari jarak sekitar 2 meter, Bharada E melepaskan tembakan terakhirnya ke arah kepala Brigadir J. Peluru melesat dari bagian kepala belakang, melewati otak dan tembus ke hidung. Satu ajudan lainnya yang melihat kejadian itu hanya bersembunyi di balik kulkas.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 1 Agustus 2022

Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J tertelungkup tak bernyawa. Posisinya tidak jauh dari kaki tangga di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat, 8 Juli 2022, sore. Kaus putih yang ia kenakan berubah menjadi merah darah. Hanya tersisa sedikit corak putih di bagian lengan kanan. Darah segar seperti berkubang di sekeliling jasad Yoshua.

Dari hasil autopsi tahap pertama yang tim detikX lihat, Brigadir J tewas akibat tujuh luka tembak. Satu tembakan menembus dari kelopak mata bawah ke kelopak mata atas. Terlihat sebaran jaringan darah di bagian pelipis matanya. Itu menandakan, ketika tembakan terkena, Brigadir J masih hidup. Bola matanya masih utuh, tidak terlihat luka tembak itu melukai matanya.

Satu luka tembak lain tembus dari bibir bawah kanan ke rahang sampai melubangi tulang selangka. Satu luka tembak di dada bagian kanan. Satu luka tembak dekat ketiak. Satu luka tembak di pergelangan tangan. Satu luka tembak di dua jari tangan seperti tersayat. Terakhir, satu luka tembak di bagian belakang kepala yang melesat ke jaringan-jaringan otak dan tembus melalui hidung.

Bharada E usai dipanggil untuk memberikan keterangan kepada Komnas HAM, Selasa (26/7/2022).. 
Foto :  Rifkianto Nugroho/detikcom


Belakangan dia baru tahu bahwa itu ternyata tembak-tembakan antara Bharada E (dan Yoshua).”

Luka di bagian kepala itu merupakan tembakan penghabisan yang dipantik Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E ke Yoshua. Sebagaimana diceritakan Richard kepada Komnas HAM, sebelum tembakan terakhir itu, ia perlahan merangkak menuruni anak tangga dan mendekati Yoshua yang sudah terkapar. Ketika jaraknya sudah cukup dekat, sekitar 2 meter, Richard pun melepaskan tembakan penghabisan itu untuk memastikan Yoshua sudah tidak bernyawa.

“Itu versi yang diceritakan E kepada kami. Jangan disalahartikan seolah-olah kami yang bilang,” tutur Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Taufan Damanik kepada reporter detikX melalui sambungan telepon pada Jumat, 22 Juli 2022.

Dalam dugaan aksi tembak-menembak di antara dua ajudan Ferdy Sambo ini, ada setidaknya lima orang yang berada di tempat kejadian perkara. Mereka adalah P (istri Ferdy Sambo), Bripka Ricky (ajudan), S (asisten rumah tangga), serta tentu Yoshua dan Richard. Ricky, menurut kesaksiannya kepada Komnas HAM, menyaksikan aksi tembak-tembakan tersebut. Tetapi dia tidak tahu persis siapa orang yang sedang adu tembak dengan Yoshua.

Ketika itu Ricky hanya mendengar istri Ferdy Sambo teriak-teriak meminta tolong dengan memanggil namanya dan Richard. Dia, yang saat itu berada satu lantai dengan P, berlari menuju ruang utama tempat P berteriak. Di situ, Ricky melihat Yoshua sedang mengacungkan senjata ke arah tangga. Dia tidak melihat siapa orang yang berada di tangga itu. Ketika Yoshua akhirnya melepaskan beberapa tembakan ke atas, Ricky langsung bersembunyi di balik kulkas.

“Belakangan dia baru tahu bahwa itu ternyata tembak-tembakan antara Bharada E (dan Yoshua),” jelas Taufan menceritakan ulang apa yang Ricky sampaikan ke Komnas HAM.

Cerita Ricky ini, kata Taufan, mirip dengan keterangan Richard kepada Komnas HAM. Richard bilang, saat itu dia berada di lantai dua dan tengah membantu S yang sedang bersih-bersih kamar. Dia mendengar P memanggil-manggil namanya sembari berteriak minta tolong. Richard lantas berlari menuruni anak tangga. Di situ dia melihat Yoshua sedang berada di ruang utama. Richard bertanya, “Ada apa?”

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, kata Richard, Yoshua justru mengacungkan senjatanya dengan dua tangan ke arah Richard. Yoshua mengokang senjata di tangannya dan langsung melepaskan beberapa tembakan. Richard pun berlari ke arah atas. Dia bersembunyi, mengeluarkan pistol Glock 17, lalu mengokangnya. Dia kemudian menuruni beberapa anak tangga dan membalas tembakan Yoshua. Tembakan pertama langsung mengenai Yoshua, kata Richard.

Yoshua mundur sampai membentur kursi pijat sehingga membuat dia sempoyongan dan tubuhnya berputar ke belakang. Tembak-menembak terus berlanjut sampai akhirnya Yoshua terkapar dan didor tepat di bagian kepalanya oleh Richard. Setelah suasana mulai senyap, barulah Ricky datang dan bertanya kepada Richard, “Ada apa?” Richard diam dan tidak menjawab karena dia masih syok dengan peristiwa yang dialaminya.

“Kemudian tiba-tiba sudah datang Pak Sambo karena ditelepon istrinya. Baru setelah itu, Pak Sambo telepon macam-macam itu, tidak tahu ia telepon ke mana saja. Tapi, setelah itu ada petugas datang, Provos datang,” jelas Taufan. "Perkara percaya atau tidak, kita cek lagi nanti. Saya juga tidak akan serta-merta percaya juga."

Ekshumasi untuk autopsi ulang jenazah Brigadir J di daerah Sungai Bahar, Muarojambi, Jambi, Rabu (27/7/2022).
Foto : Wahdi Septiawan/Antarafoto

Sekuens Waktu Kejadian

Dokumen hasil analisis rekam CCTV yang tim detikX dapatkan menunjukkan bahwa kemungkinan peristiwa yang menewaskan Yoshua itu terjadi kurang dari 11 menit 36 detik. Analisis ini didapat dari selisih waktu antara Ferdy dan istrinya sejak terakhir kali terlihat di rumah pribadi Ferdy di Jalan Saguling III, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Rentang waktunya terjadi dari pukul 17.09 lewat 17 detik sampai 17.20 lewat 43 detik.

Dalam hasil analisis rekaman CCTV ini, P terlihat meninggalkan rumah di Jalan Saguling III pada pukul 17.07 lewat 30 detik. Dia menumpang mobil Lexus berwarna hitam. Sedangkan Ferdy keluar dari rumah pribadinya dengan menggunakan mobil dinas sekitar pukul 17.09 lewat 17 detik. P hendak pulang ke rumah dinas di Kompleks Polri. Sementara itu, Ferdy mau pergi bermain badminton.

Jarak rumah pribadi dengan rumah dinas Ferdy Sambo sekitar 1 kilometer. Aplikasi Google Maps yang tanggal dan jamnya telah disesuaikan dengan waktu peristiwa itu terjadi menunjukkan waktu tempuh dari rumah pribadi Ferdy ke rumah dinasnya sekitar 5-10 menit. Artinya, minimal P bisa tiba di rumah pribadinya pada pukul 17.12 lewat 30 detik.

Lima menit berselang, pada pukul 17.17 lewat 22 detik, CCTV merekam petugas Patwal berupaya memutar balik motornya menuju rumah dinas Ferdy Sambo. Lokasi Patwal putar balik itu hanya berjarak satu rumah dari rumah dinas Ferdy. Saat itulah diduga petugas Patwal ditelepon ajudan Ferdy dan mengabarkan telah terjadi sesuatu di rumah dinas. Ferdy juga terlihat dalam rekaman CCTV yang sama.

Saking kondisinya yang sangat mendesak, Ferdy disebut sampai turun dari mobil dan berlari menuju rumah dinasnya. Lebar Jalan di Kompleks Polri memang cukup sempit. Saat detikX mengukurnya secara langsung, lebarnya hanya sekitar delapan langkah orang dewasa. Sulit bagi mobil ataupun motor Patwal 1.000 cc untuk memutar balik.

Tim detikX telah berupaya mengkonfirmasi dokumen ini kepada Inspektur Pengawasan Umum Polri Komjen Agung Budi Maryoto. Namun, sampai naskah ini diterbitkan, Agung sama sekali tidak menggubris permintaan wawancara kami. Dokumen yang sama juga kami mintakan konfirmasi kepada Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo. Dedi juga enggan menjawab pertanyaan yang kami ajukan.

Melalui asisten pribadinya, Dedi hanya menjawab saat ini Polri belum bersedia berbicara apa-apa terkait kasus dugaan pembunuhan Brigadir J. “Karena semua terkait Brigadir J, maka beliau belum bisa sampaikan, agar tidak mengganggu pemeriksaan timsus,” tulis asisten pribadi Dedi kepada reporter detikX pekan lalu.

Di sisi lain, Ketua Komnas HAM Taufan Damanik membenarkan sekuens kejadian dalam dokumen itu. Namun dia masih meragukan akurasi waktunya. Salah satunya lantaran kesaksian Richard yang menyebut, sesampai di rumah Dinas Ferdy Sambo, ia langsung ke atas untuk beberes. Asumsi Taufan, beberes itu paling tidak membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

“Makanya itu, menurut saya, akurasinya harus dicek lagi. Saya juga sudah minta tim saya untuk cek ulang akurasi waktunya,” tegas Taufan.

Ancaman Pembunuhan terhadap Brigadir J

Vera Simanjuntak yakin bahwa meninggalnya Brigadir J atau kekasihnya itu bukan hanya disebabkan oleh tembak-tembakan. Pengacara Vera, Ramos Simanjuntak, mengatakan kliennya menduga ada tindak penganiayaan yang menyebabkan Yoshua tewas. Dugaan itu muncul lantaran banyak kejanggalan dari luka-luka Yoshua yang dilihat keluarganya saat disemayamkan di rumahnya di Jambi pada 10 Juli lalu.

Dugaan itu kemudian semakin dikuatkan dengan kesaksian Vera kepada Komnas HAM yang menyebut bahwa sehari sebelum kematiannya, Yoshua mengaku telah diancam akan dibunuh oleh orang-orang yang disebut ‘skuad-skuad’. Tim detikX telah mendengarkan rekaman suara kesaksian Vera tersebut.

Ancaman itu, kata Vera, disampaikan Yoshua melalui video call sekitar pukul 20.30-23.30 WIB pada Kamis, 7 Juli 2022 atau sehari sebelum peristiwa penembakan terjadi. Yoshua bercerita kepada Vera bahwa dia akan dibunuh. Ancaman pembunuhan itu datang lantaran Yoshua dituduh menjadi penyebab istri Ferdy Sambo jatuh sakit.

“Diancam tidak boleh naik ke atas (lantai dua, kamar P di rumah pribadi Ferdy Sambo). Kalau naik, dibunuh,” kata Vera dalam rekaman itu.

Richard dalam kesaksiannya terhadap Komnas HAM membantah adanya ancaman pembunuhan itu. Richard mengatakan justru Yoshua-lah yang paling sering marah-marah ke ajudan Ferdy lainnya. Yoshua diketahui salah satu ajudan Ferdy yang paling senior di Jakarta. Di atas Yoshua, masih ada Ricky yang lebih senior, berpangkat bripka. Namun belakangan, Ricky lebih banyak ditugaskan Ferdy di Magelang.

Pengacara istri Ferdy Sambo, Arman Hanis, mengakui kliennya memang kerap terlihat gampang lelah dan kerap hampir jatuh karena sakit yang dideritanya sebelum peristiwa dugaan pembunuhan Yoshua terjadi. Namun dia tidak menyebutkan sakit apa yang diderita istri Ferdy Sambo itu. Hanya, yang pasti, Arman sangat meragukan kalau itu disebut sebagai penyebab ancaman pembunuhan terhadap Yoshua terjadi.

Sebaliknya, Arman justru mengatakan tindakan penembakan ini murni merupakan pembelaan ajudan Ferdy yang ingin melindungi P karena tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Yoshua. Yoshua, kata Arman, sebagaimana terbaca dalam berita acara pemeriksaan P, telah masuk ke kamar tanpa izin. Di kamar itu, Yoshua mencoba menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh P.

“Klien kami teriak minta tolong ke E dan R itu,” tutur Arman kepada reporter detikX pekan lalu. “Karena itu, sekarang kondisi klien saya, sahabat saya ini, masih trauma banget.”

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik memberikan keterangan pers usai menerima keterangan dari tim Dokkes Polri terkait kasus penembakan Brigadir J, Senin (25/7/2022).
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Psikolog P yang ditunjuk langsung Polda Metro Jaya, Novita Tandry, mengatakan kondisi pasiennya saat ini memang sedang tidak stabil. Istri Ferdy Sambo itu terus menangis dan tidak mau makan sejak kejadian tersebut. Berat badannya sampai turun 5 kilogram.

“Bu Putri masih trauma dan sangat terguncang sampai sekarang,” tukas Novita.

Sementara itu, kondisi Richard saat ini masih dalam pemantauan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Pada Jumat, 29 Juli lalu, LPSK telah melakukan asesmen terhadap Richard sebagai bagian dari penilaian layak atau tidaknya mendapat perlindungan.

Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengatakan kondisi Richard terlihat baik-baik saja saat proses asesmen. Dia hanya terlihat masih syok dan trauma atas peristiwa yang terjadi di rumah Ferdy Sambo.

"Kalau soal ancaman, dia bilang tidak ada ancaman," pungkas Hasto.


Reporter: Rani Rahayu, Ahmad Thovan Sugandi, Fajar Yusuf Rasdianto
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE