INVESTIGASI

Lika-liku Luka
Brigadir Yoshua

Pengungkapan kasus penembakan di rumah jenderal polisi bintang dua masih menyisakan sejumlah kejanggalan. Sudah ada tiga pejabat Polri yang dilucuti jabatannya terkait penanganan kasus ini.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 25 Juli 2022

Tiga lembar surat diterima keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua atau Brigadir J. Satu dari tiga surat tersebut berlogo Polres Jakarta Selatan, sedangkan dua lainnya berlambang Rumah Sakit Bhayangkara Polri. Surat-surat itu muncul setelah Yoshua ditemukan meninggal dunia di rumah dinas bosnya, Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Jumat dua pekan lalu.

Tiga dokumen tersebut adalah surat keterangan tes antigen, pengawetan jenazah, dan permintaan visum et repertum. Dokumen-dokumen itu sama sekali tidak menjelaskan penyebab kematian Yoshua. Dalam surat permintaan visum dari Polres Jaksel pun, dugaan penyebab kematiannya dibiarkan kosong.

"Sampai kemarin itu yang kami dapatkan hanya surat permintaan hasil visum, bukan hasilnya," kata kuasa hukum keluarga Yoshua, Martin Lukas, kepada reporter detikX pekan lalu.

Bagi keluarga, ini adalah hal yang janggal. Sebab, tak ada pemberitahuan kepada pihak keluarga sebelum dilakukan pemeriksaan forensik terhadap tubuh Yoshua. "Di mana-mana visum itu, kan, dilakukan berdasarkan persetujuan keluarga, bukan dilakukan dulu baru izin," lanjut Martin.

Potrait Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E yang menembak Brigadir Yoshua.  
Foto : Akun Instagram @richardlumiu

Ketika dokter mau menjelaskan, komandannya yang mendampingi itu menghentikan penjelasan dokter. Komandannya bilang: jangan jelaskan!"

Keluarga juga menemukan kejanggalan di bagian data surat permintaan visum tersebut. Di surat yang ditandatangani oleh perwakilan Kapolres Jaksel itu, pekerjaan Yoshua disebut sebagai 'pelajar/mahasiswa', bukan polisi.

Permasalahan data pun terdapat pada surat keterangan pengawetan jenazah yang ditandatangani Kepala Instalasi Forensik RS Polri Dokter Arif Wahyono. Dalam dokumen tersebut, usia Yoshua tertulis 21 tahun. Padahal Yoshua berusia 28 tahun.

Kepada detikX, Arif mengakui telah menandatangani surat keterangan pengawetan jenazah. Namun dia enggan menjelaskan secara rinci bagaimana mungkin kesalahan data itu bisa terjadi. "Salah ketik saja kayaknya," kata Arif.

Tim dari Polres Jaksel membawa Yoshua ke RS Polri pada Jumat, 8 Juli 2022, malam dalam kondisi meninggal dunia. Di tubuhnya, terdapat beberapa luka tembak.

Penyidik meminta dokter forensik RS Polri melakukan visum dan autopsi terhadap tubuh Yoshua. Di sisi lain, adik Yoshua, Mahreza Hutabarat, yang juga polisi di Jakarta, mendapat perintah dari atasannya untuk pergi ke Mabes Polri. Sesampai di Mabes, Reza dibawa ke RS Polri oleh seorang polisi berpangkat AKBP untuk dipertemukan dengan jasad kakaknya yang sudah tertutup di dalam peti.

Martin Lukas mengatakan Reza dilarang melihat kondisi tubuh kakaknya. Reza hanya diminta menandatangani surat yang diduga persetujuan visum dan autopsi.

Dokter forensik yang ada saat itu, menurut Lukas, sebenarnya sempat ingin menjelaskan kondisi dan penyebab kematian Yoshua kepada Reza. Namun seorang polisi melarangnya.

"Ketika dokter mau menjelaskan, komandannya yang mendampingi itu menghentikan penjelasan dokter. Komandannya bilang: jangan jelaskan!" kata Martin, berdasarkan cerita Reza yang ia dengar.

Brigadir Yoshua diduga meninggal dunia pada pukul 17.00 WIB di rumah dinas bosnya, Irjen Ferdy Sambo. Polres Jakarta Selatan dan Mabes Polri menyebut Yoshua meninggal setelah beradu tembak dengan ajudan Ferdy lainnya, Bhayangkara Dua Richard Eliezer atau Bharada E.

Polisi mengklaim peristiwa saling tembak itu terjadi setelah adanya pelecehan seksual yang dilakukan Yoshua terhadap istri Ferdy berinisial P. Menurut polisi, P berteriak meminta tolong saat Yoshua melakukan pelecehan seksual di kamarnya di lantai satu. Mendengar teriakan P, Richard, yang berada di lantai dua, langsung bereaksi mengecek lokasi.



Lokasi rumah dinas Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo yang menjadi tempat penembakan Brigadir Yosua. 

Dari tangga, Richard kemudian menanyakan apa yang terjadi di bawah kepada Yoshua. Yoshua berada di depan kamar P. Yoshua menjawab pertanyaan Richard dengan tembakan dan Richard pun membalasnya.

Peristiwa saling tembak pun terjadi. Dengan pistol HS-9, Yoshua menembakkan tujuh amunisi. Sedangkan Richard menembakkan lima amunisi dari pistol Glock 17 di tangannya.

Akibatnya, Yoshua mengalami tujuh luka dari lima tembakan Richard. Dua luka di antaranya karena ada peluru yang menembus. Sementara itu, Richard tidak terkena satu pun peluru dari pistol Yoshua. Belakangan, pihak kuasa hukum keluarga Yoshua menyebut Yoshua tidak hanya mengalami luka tembak, tetapi juga diduga mengalami luka akibat benda tumpul.

Polisi belum menjelaskan bentuk pelecehan yang dituduhkan kepada Yoshua terhadap P. Namun polisi menyebut Ferdy Sambo sedang tidak berada di rumah dinas itu saat kejadian.

Ketua Indonesia Police Watch Sugeng Teguh Santoso mengatakan Ferdy Sambo menghubungi Kepolisian Metro Jakarta Selatan tak lama setelah kejadian. Kapolres Jaksel Budhi Herdi Susianto kemudian datang ke lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

Meski begitu, Sugeng mengatakan, Budhi tidak melakukan sterilisasi TKP. Police line baru dipasang beberapa hari setelah kejadian. "Harusnya dipasang police line dan ketua RT diberi tahu," kata Sugeng. "Jadi (olah TKP) itu tersembunyi."

Kejanggalan-kejanggalan berlanjut pada hari setelah kejadian. Sabtu, 9 Juli 2022, Mabes Polri mengantarkan jenazah Yoshua ke pihak keluarga di Jambi. Dipimpin oleh Pemeriksa Utama Biro Provos Propam Polri Komisaris Besar Leonardo David Simatupang, keluarga diminta menandatangani berita acara penyerahan jenazah Yoshua. Namun keluarga tidak diperkenankan membuka peti.

Pada mulanya keluarga tidak terima. Ayah Yoshua, Samuel Hutabarat, dan istrinya, Rosti Simanjuntak, memaksa polisi membuka peti tersebut. Mereka ingin memastikan jenazah itu benar-benar anaknya. Akhirnya keluarga dipersilakan melihat bagian wajah Yoshua.

"Lalu, setelah runding-runding, barulah dibuka petinya dan dilihat cuma sebatas dua kancing pakaian saja. Waktu itu dibuka sambil menunjukkan kalau di tubuhnya sudah dilakukan autopsi," kata Rohani, tante Yoshua, kepada reporter detikX, pekan lalu.

Keluarga Yoshua pun akhirnya menandatangani berita acara penyerahan jenazah. Kepada Kombes Leonardo David Simatupang, keluarga kemudian meminta pemakaman Yoshua pada Senin, 11 Juli 2022, dilakukan dengan upacara kedinasan. Leonardo disebut menyetujui permintaan tersebut.

Sambil menunggu hari pemakaman, Minggu, 10 Juli 2022, keluarga Yoshua diam-diam membuka peti jenazah ketika sudah tidak ada lagi polisi dari Mabes Polri. Dari sinilah keluarga menemukan berbagai luka di tubuh Yoshua. Keluarga pun kemudian mendokumentasikannya dengan foto dan video.

Tim penyidik kepolisian melakuan pra rekonstruksi di kediaman Ferdy Sambo, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Sabtu (23/7/2022).
Foto :  Pradita Utama/detikcom

Sebanyak 14 foto dan satu video yang diterima detikX menunjukkan, selain luka tembak, terlihat ada beberapa jahitan di tubuh Yoshua, memar di bagian dada, serta luka di mata, dagu, hidung, leher, dan di belakang telinga. Versi keluarga, Yoshua bahkan disebut mengalami dislokasi rahang, telinga bengkak, dan luka sayatan di bahu kanan.

Seorang dokter forensik di salah satu rumah sakit daerah menyebut jahitan-jahitan di tubuh Yoshua menunjukkan bahwa terdapat luka di bagian tersebut yang sudah diperiksa oleh dokter forensik RS Polri. Itu juga termasuk luka di belakang telinga yang, jika dilihat dari foto, tampak tidak seperti luka tembak.

"Jahitan yang di belakang telinga menunjukkan di tempat tersebut ada luka yang telah diperiksa dan selanjutnya dijahit," kata dokter ini.

Setelah mendokumentasikan luka di sekujur tubuh Yoshua, keluarga pun meminta petugas medis mengawetkan jasad Yoshua. Pada hari itu, formalin disuntikkan ke tubuh Yoshua.

Yoshua kemudian dimakamkan keesokan harinya. Namun, tidak seperti yang dijanjikan Kombes Leonardo Simatupang, pemakaman dilakukan tanpa upacara kedinasan. Keluarga tidak mendapat penjelasan sama sekali.

Penjelasan itu baru didapat keluarga setelah pemakaman. Kala itu segerombolan polisi yang dipimpin perwakilan Mabes Polri Kepala Biro Pengamanan Internal Brigadir Jenderal Hendra Kurniawan merangsek masuk ke rumah keluarga Yoshua tanpa permisi. Mereka masuk rumah tanpa melepas sepatu.

Sumber detikX yang mengetahui peristiwa itu mengatakan, sebelum berbicara kepada pihak keluarga, polisi meminta keluarga menutup rapat pintu dan jendela. Kedatangan Hendra itu untuk menjelaskan kronologi meninggalnya Yoshua dan alasan administrasi yang membuat pemakaman Yoshua tidak bisa dilakukan secara kedinasan. Namun, sebelum menjelaskan, Hendra disebut melarang keluarga merekam pertemuan itu.

"Tidak boleh merekam, karena ini aib," kata sumber ini menirukan Hendra.

Sementara itu, pengacara keluarga Irjen Ferdy Sambo, Arman Hanis, hingga tenggat naskah ini belum merespons permohonan wawancara yang diajukan tim detikX melalui pesan singkat dan telepon.

Insiden di rumah Inspektur Jenderal Ferdy Sambo yang menewaskan Brigadir Yoshua baru diumumkan ke publik tiga hari setelah kejadian. Saat ini, peristiwa tersebut berbuntut dua perkara hukum, yaitu dugaan ancaman pembunuhan dan pelecehan seksual atas laporan P, istri Ferdy. Satu lagi, kasus dugaan pembunuhan, atas laporan kuasa hukum keluarga Yoshua. 


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi, Rani Rahayu, May Rahmadi, dan Ferdi Almunanda (kontributor Jambi)
Penulis: May Rahmadi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE