INVESTIGASI

Rekam Jejak Herry Wirawan

Penceramah yang Menjadi Predator Seks

Herry Wirawan pernah menempuh jenjang S2, tapi ia dikeluarkan oleh kampusnya. Dia tak terlalu dikenal oleh kerabat dan tetangga di tempat tinggalnya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 22 Desember 2021

Herry Wirawan memperkosa 13 santriwati di lingkungan Yayasan Manarul Huda Antapani yang ia kelola. Tidak banyak yang tahu soal latar belakang Herry. Tim detikX menggali rekam jejak Herry dari orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Setelah melalui perjalanan kurang-lebih lima jam dari wilayah Kota Garut menuju Garut Selatan, tim detikX tiba di kediaman Hendra—bukan nama sebenarnya. Hendra merupakan kerabat Herry.

Penampakan Herry Wirawan di Rutan Kebonwaru Bandung.
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom


Saya teh tidak mau tadinya, tapi dipaksa. Saya teh sudah nolak. Saya teh takutnya anak saya dibawa-bawa orang gitu, takutnya hamil, takutnya dijual gitu. Kan di kota banyak kejadian kayak gitu. Saya udah takut awalnya.”

Hendra menuturkan, istrinya merupakan bibi istri Herry. Sepengetahuan Hendra, Herry merupakan putra seorang buruh tani, tidak ada keturunan kiai atau tokoh agama.

“Saya kenal dia sekitar 2012-2014 ketika dia (Herry) menikah dengan ponakan istri saya. Saya datang ke nikahannya,” ujar Hendra kepada reporter detikX.

Herry menikah pada 2012 dan dikaruniai dua buah hati. Ketika menikah, Herry mengaku bekerja sebagai guru honorer salah satu sekolah dasar di Kota Bandung.

Kemudian, pada 2016, Herry mendapat kepercayaan dari seorang donatur untuk mendirikan yayasannya sendiri. Herry juga mendapat kepercayaan mengelola salah satu rumah di daerah Antapani, Bandung, Jawa Barat, untuk dijadikan Yayasan Manarul Huda Antapani.

Hubungan kekeluargaan tersebut membuat Hendra percaya terhadap Herry. Dia akhirnya menerima tawaran merekomendasikan anak-anak kerabatnya untuk menjadi santriwati atau murid di Yayasan Pendidikan dan Sosial Manarul Huda Madani Boarding School Cibiru. Sekolah tersebut didirikan oleh Herry. Terlebih Herry menawarkan sekolah di tempat itu gratis. Apalagi Bandung merupakan wilayah yang lebih menjanjikan untuk menuntut ilmu.

“Karena dia (Herry) sudah mendirikan yayasan, donatur tetapnya sudah ada, maka saya percaya dan izinkan anak-anak. Itu nggak ada paksaan apa pun, ya,” tuturnya.

Sidang Herry Wirawan Digelar Tertutup, Begini Suasana di PN Bandung.
Foto : Wisma Putra/detikcom

Sepengetahuan Hendra, Herry merupakan pribadi yang santun dan lulusan sebuah pondok di daerah Garut. Herry juga diketahui mendalami kitab kuning sama seperti dirinya. Namun semua anggapan Hendra ini pupus ketika mengetahui tindak pidana pemerkosaan yang dilakukan Herry.

Hendra mengaku yang membuat hatinya semakin tersayat adalah beberapa korban yang diperkosa oleh Herry merupakan kerabatnya.

“Warga di desa ini yang saya arahkan untuk sekolah di tempat Herry ini masih kerabat saya. Awalnya enam orang yang berangkat dari sini. Tiga di antaranya menjadi korban Herry,” ujarnya.

Salah satu orang tua korban Lina—bukan nama sebenarnya—yang masih ada hubungan kerabat dengan Herry Wirawan, juga menceritakan hal senada. Dia juga diminta Herry agar menyekolahkan anaknya di yayasan itu.

Awalnya Lina menolak tawaran Herry. Dia keberatan anak perempuannya bersekolah di asrama tanpa pengawasan dirinya secara langsung. Dia khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Celakanya, semua yang ia khawatirkan benar-benar menjadi nyata.

“Saya teh tidak mau tadinya, tapi dipaksa. Saya teh sudah nolak. Saya teh takutnya anak saya dibawa-bawa orang gitu, takutnya hamil, takutnya dijual gitu. Kan di kota banyak kejadian kayak gitu. Saya udah takut awalnya,” ujar Lina kepada reporter detikX dengan logat Sunda yang kental.

Lina menjelaskan hubungannya dengan Herry masih kerabat jauh dari neneknya. Hal tersebutlah yang membuat Lina sedikit menaruh kepercayaan. Ditambah, menurut pengakuan Lina, Herry pernah ke Mekah dan dikenal sebagai ustaz.

Rumah Tahfidz Herry Wirawan di Bandung.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

“Masih saudara jauh dari Nenek, sepupu gitu. Kan dia udah ke Mekah segala. Si nu (Herry) gelo eta teh. Masa saya nggak percaya. Udah jadi ustaz dan kelihatannya lugu gitu. Masa saya nggak percaya,” tuturnya.

Tim detikX juga menghampiri alamat rumah Herry di kawasan Dago, Bandung. Ketika sampai di desa tersebut, awalnya tim detikX tidak diterima oleh Aep, sekretaris RT setempat. Sebab, Aep merasa malu karena desanya terbawa-bawa imbas terungkapnya perlakuan biadab Herry.

Kepada reporter detikX, Aep menuturkan, Herry pertama kali masuk ke wilayahnya pada 2010. Namun, sejak 2014, ia tidak pernah menjumpai Herry lagi.

Menurut Aep, Herry mengisi ceramah, bahkan khotbah salat Jumat, di masjid desa. Ini membuat sebagian warga menganggapnya berperilaku sopan.

“Sebenarnya dia mengajukan suket (surat keterangan) untuk pindah domisili dari Garut sudah sejak 2010. Cuma, dari 2013 akhirlah sudah hilang, nggak pernah kelihatan lagi,” kata Aep.

Kepada Aep, Herry berdalih ingin meneruskan kariernya di Bandung. Informasi yang ia terima, pada saat itu Herry menjadi pengajar di pesantren di daerah Ciumbuleuit.

Herry memang warga asli Garut. Dia lahir 36 tahun yang lalu. Masa SMA ia habiskan di sekolah negeri daerah Garut. Dia sempat pindah ke daerah Lembang, Bandung, pada 2005. Kemudian Herry menempuh jenjang S1 di Sekolah Tinggi Agama Islam daerah Cimahi.

Herry sempat tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana program studi Manajemen Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Nusantara pada 2013. Namun, dari dokumen yang detikX terima, status Herry di universitas tersebut sudah dikeluarkan.

Selain itu, Herry tercatat sebagai Ketua Kelompok Kerja Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah Jawa Barat. Hal tersebut dibenarkan oleh Abdurrohim, Kepala Bidang Pondok Pesantren Kementerian Agama Jawa Barat.

Ira Mambo, pengacara Herry, menuturkan, saat ini sedang berlangsung persidangan kasus hukum terhadap kliennya. Persidangan ini tertutup untuk umum. "Hakim tidak akan memutus berdasarkan opini publik, tapi berdasarkan hukum dan fakta persidangan," ucapnya kepada reporter detikX


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE