INVESTIGASI

Muslihat Syahwat Ustaz Bejat

Herry Wirawan selalu menjejali para santrinya dengan bualan manipulatif sebelum memperkosanya. Dia menyalahgunakan relasi kuasanya sebagai seorang guru atau pemimpin pesantren untuk memaksa korban.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa 21 Desember 2021

Pemerkosa 13 santriwati di Bandung punya satu kalimat pemungkas untuk memperdaya korbannya. Dengan kalimat tipu muslihat itu, dia memperkosa para santriwatinya secara bergantian, yakni pada pagi, siang, dan malam. Aksi bejat itu ia dilakukan bertahun-tahun sejak 2016.

“Nggak apa-apa, ini bukan dosa. Ini ketaatan kepada guru,” kalimat itulah yang selalu disampaikan pemimpin Pondok Pesantren Manarul Huda, Bandung, Herry Wirawan, kepada korbannya saban kali hendak melakukan tindakan bejat.

Di pondok pesantren itu, ketaatan terhadap guru adalah doktrin yang selalu disampaikan Herry kepada para santriwatinya.

Gedung Yayasan Manarul Huda yang di Antapani, Bandung.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX


Jadi pemaksaannya tidak keras. Dibujuk dulu, diapa, ya kadang-kadang dipaksa, tapi lebih seringnya halus gitu.”

“Jadi pemaksaannya tidak keras. Dibujuk dulu, diapa, ya kadang-kadang dipaksa, tapi lebih seringnya halus gitu,” ungkap psikolog korban pemerkosaan Herry, Yuli Suliswidiawati, kepada detikX di sebuah vila di Lembang, Bandung, Rabu, 15 Desember 2021.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Livia Istiana Iskandar menuturkan, dalam melancarkan aksi asusilanya, Herry kerap memanfaatkan relasi kuasa yang dia miliki sebagai seorang guru. Dia bertindak manipulatif.

“Masa ada bapak yang mau mencelakakan anaknya,” begitu kata Herry kepada para korbannya sebagaimana disampaikan Livia kepada detikX via telepon pekan lalu.

Dalam surat dakwaan yang detikX dapatkan, Herry kerap memulai aksinya dengan menyuruh para korban datang ke kamarnya untuk memijat. Di situ, dia pelan-pelan merayu korban agar mau memenuhi nafsu bengisnya. Herry bilang kepada korban bahwa ia sudah jarang berhubungan intim dengan istrinya. Sebab itu, dia ingin korbannya memenuhi lonjakan syahwat biadabnya itu.

Seperti yang terjadi pada Dewi—bukan nama sebenarnya. Pada pertengahan Oktober 2018, santriwati berusia 17 tahun itu disuruh Herry datang ke kamarnya. Di situ, Herry banyak berbohong tentang kondisi pernikahannya sudah tidak lagi seindah dulu. Sembari bincang-bincang itu, Herry lantas melakukan pelecehan seksual. Dia mengeluarkan kalimat manipulatifnya.

“Jangan takut gitu, nggak ada seorang ayah yang akan menghancurkan masa depan anaknya,” kata Herry sebagaimana tertuang dalam surat dakwaan tersebut.

Rayuan itu berhasil memaksa Dewi menjadi tak setakut sebelumnya. Herry pun berhasil melancarkan tindakan bengisnya. Semenjak hari itu, setiap lima hari sekali selama tiga tahun, Herry memperkosa Dewi. Hingga Dewi ketahuan hamil pada 5 Mei 2021.

Sebuah rumah yang dijadikan basecamp atau tempat penampungan santriwati korban pemerkosaan Herry Wirawan dan bayinya di Jalan Cibiru Hilir, Cileunyi, Bandung.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Hasil visum Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih, Bandung, pada 7 Juni 2021 menunjukkan Dewi hamil dengan usia kandungan 22 minggu. “Selaput dara robek arah jam tiga, jam enam, dan jam sembilan; hamil 22 minggu; dan hasil pemeriksaan menyimpulkan selaput dara tidak utuh,” begitu bunyi asesmen hasil visum yang tertuang dalam surat dakwaan.

Korban lainnya Asih—juga bukan nama sebenarnya—mengalami kejadian serupa dengan Dewi. Pada pertengahan Desember 2017, remaja 17 tahun itu disuruh datang ke kamar Herry. Di kamar itu, Herry lagi-lagi membual masalah keluarganya kepada Asih. Herry bilang istrinya emoh diajak berhubungan intim. Mertuanya, kata Herry, juga tidak mau mereka punya banyak anak.

Setelah sesi curhat itu, Herry memaksa Asih agar mau berhubungan intim dengannya. Herry berjanji, jika Asih mengiyakan, dia akan membiayai sekolahnya sampai kuliah.

Dalam surat dakwaan terungkap, berbagai aksi bejat Herry itu dilakukan di beberapa lokasi, di antaranya Yayasan Manarul Huda, Antapani; Pesantren Manarul Huda, Cibiru; dan basecamp tempat tinggal para korban Herry di Cileunyi. Juga di Apartemen The Suites Metro Bandung, Hotel Atlantic, Hotel Prime Park, Hotel B&B, dan Hotel Ne. Herry memperkosa Asih nyaris tiga kali sehari, pagi, siang, dan malam, sampai akhirnya Asih hamil.

“Perbuatan Terdakwa mengakibatkan Anak Korban Dewi hamil serta melahirkan seorang anak pada 17 Oktober 2019,” bunyi surat dakwaan itu.

Modus serupa dilakukan Herry terhadap 11 korban lainnya. Dia selalu meyakinkan bahwa aksi bejatnya itu bukanlah bentuk pemerkosaan, melainkan sebuah ketaatan terhadap guru. Herry juga menjanjikan kepada semua korbannya bahwa mereka akan dibiayai sekolahnya sampai mereka meraih cita-cita. Ketika korban hamil, Herry selalu mengatakan akan bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka.

“Ya sudah, nggak apa-apa, masa harus digugurin, Bapak juga tanggung jawab,” kata Herry tertulis dalam surat dakwaan.

Segel garis polisi di pintu masuk Yayasan Manarul Huda yang di Antapani, Bandung.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Berdasarkan fakta persidangan, Herry diduga telah memperkosa 13 santriwatinya selama 2016-2021. Delapan di antara mereka telah hamil dan melahirkan. Satu di antaranya bahkan sudah melahirkan sampai dua kali. Total ada sembilan anak yang lahir lantaran tindakan bejat Herry.

Yayasan Manarul Huda yang dibangun diduga hanya menjadi sarana Herry untuk memenuhi nafsu bengisnya. Dia menargetkan anak-anak di desa-desa kecil dan miskin di wilayah Garut, Tasikmalaya, Bandung, hingga Tangerang Selatan. Herry memanfaatkan kerabat-kerabatnya untuk mencari calon santriwati untuk pesantren miliknya dengan janji seluruh biaya sekolahnya akan digratiskan.

Banyak orang tua korban dengan latar belakang ekonomi yang serba-kekurangan akhirnya teperdaya janji manis Herry. Dia juga memanfaatkan pencitraannya sebagai penceramah yang dikenal banyak orang.

“Kan dia mah udah ke Mekah segala. Si nu gelo eta (Si orang gila itu). Masa saya nggak percaya. Sudah jadi ustaz, kan kayaknya lugu gitu,” ungkap salah seorang orang tua korban, Sutinah—bukan nama sebenarnya—kepada detikX pekan lalu.

Kasus predator seksual Herry Wirawan telah disidangkan di Pengadilan Negeri Bandung sejak November 2021. Belakangan, sudah memasuki sidang keenam dengan agenda keterangan para saksi. Total sudah ada 21 saksi yang dipanggil ke pengadilan, terdiri atas 13 saksi korban dan saksi santriwati yang bersekolah di pesantren Herry.

Sumber detikX yang hadir dalam enam kali persidangan kasus asusila itu mengatakan Herry sama sekali tidak membantah keterangan para saksi dan dakwaan jaksa. “Setelah jaksa baca dakwaan, itu kan hakim terus mengkonfirmasi itu ke Terdakwa (Herry). Nah, dia cuma diam, tidak membantah, tidak juga mengiyakan,” kata sumber ini kepada reporter detikX pekan lalu.

Infografis: Luthfy Syahban
Sumber : REPORTASE DETIKX

Pengacara Herry Wirawan, Ira Margaretha Mambo, membantah bahwa Herry hanya diam ketika dimintai konfirmasi oleh hakim maupun jaksa. "Yang benar itu, klien kami selalu menjawab pertanyaan hakim, tapi jawabannya itu iya atau tidak. Kami tidak bisa mengatakannya karena persidangan berlangsung tertutup," ungkap Ira ketika ditemui reporter detikX di salah satu kafe di Bandung, Rabu, 15 Desember 2021.

Sekarang, menurut Ira, masih terlalu dini untuk menyimpulkan apa pun dalam kasus Herry. Sebab, proses hukum masih berjalan. Dia meyakini majelis hakim bakal memutuskan secara objektif dalam penyelesaian kasus ini. Untuk itu, Ira pun meminta kepada semua pihak agar tidak terlalu tendensius menilai Herry. Biarkan proses hukum berjalan sampai bukti-buktinya cukup untuk hakim mengambil keputusan.

“Dan proses hukum adalah pembuktian suatu perkara tindak pidana. Tolong dihargai itu. Hakim tidak akan memutus berdasarkan opini publik, tapi berdasarkan hukum dan fakta-fakta persidangan,” pungkasnya.


Reporter: Fajar Yusuf, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Rani Rahayu, Fajar Yusuf
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE