INVESTIGASI

Perbudakan Seksual di Sekolah Bodong

Herry Wirawan membangun sekolah dan memperkosa belasan muridnya hingga melahirkan. Anak yang dilahirkan korban diklaim Herry sebagai anak yatim dan dijadikan alat untuk meminta bantuan dana kepada berbagai pihak.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 20 Desember 2021

Seorang anak perempuan mengurung diri di dalam kamar. Sudah enam hari anak tersebut tak mau makan dan minum. Dia menghabiskan hari-hari dengan menangis. Hikmah Dijaya, seorang kepala desa, mendatangi rumah anak tersebut dan perlahan menggali cerita. Ternyata anak ini adalah korban pemerkosaan yang dilakukan oleh Herry Wirawan.

“Sikapnya (anak perempuan ini) aneh. Postur tubuhnya itu menggemuk, terus dia tidak bisa bertatap muka dengan ibunya, dengan keluarga. Dia hanya di kamar dan jamban,” ujar Hikmah kepada reporter detikX.

Herry memperkosa sejak anak perempuan ini berusia 14 tahun, pada Oktober 2018. Pemerkosaan dilakukan secara rutin, lima hari sekali. Hingga pada 5 Mei 2021, korban hamil dan pulang ke rumah orang tuanya.

Pintu gerbang Madani Boarding School
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX


Waktu pengaduan ke Polda (Jawa Barat) itu usia kandungannya masih 5 bulan, sekarang mah udah lahiran.”

Herry merupakan seorang guru berusia 36 tahun, sekaligus pemimpin Yayasan Manarul Huda, Antapani. Yayasan tersebut, berdasarkan data Education Management Information System Kementerian Agama dan Kemendikbud, berbentuk pondok pesantren. Herry juga pemilik Rumah Tahfidz Al Ikhlas dan Madani Boarding School di Cibiru. Sedangkan korban pemerkosaan yang didatangi Hikmah merupakan santriwati Herry.

Perlahan muncul keberanian dari anak perempuan tersebut. Sampai akhirnya ia berharap bisa melaporkan ke kepolisian. Hikmah lantas meminta bantuan rekannya di LBH Serikat Petani Pasundan Garut untuk mendampingi korban melaporkan ke Polda Jawa Barat.

“Waktu pengaduan ke Polda (Jawa Barat) itu usia kandungannya masih 5 bulan, sekarang mah udah lahiran,” ungkap Hikmah. Korban ini anak seorang buruh tani serabutan. Orang tua korban mau menyekolahkan anaknya ke tempat Herry karena ada tawaran gratis.

Aduan dari korban ini perlahan membuat korban Herry lainnya berani berbicara. Hingga belakangan baru diketahui, Herry memperkosa 13 santriwatinya. Delapan santriwati di antaranya telah melahirkan. Bahkan salah satu di antara korban pemerkosaan Herry sampai melahirkan dua kali.

“Akal sehatnya udah nggak ada, nggak punya nurani dia,” kata Hikmah menuding Herry.

Yudi Kurnia, pengacara korban menegaskan, kasus yang dilakukan Herry ini menyangkut perbudakan seksual. Sebab korban dieksploitasi sedemikian rupa sebagai pekerja.

"Bisa aja ini kita tarik adanya perbudakan seks untuk mencari dana, karena dengan lahirnya anak itu menjadikan objek untuk mendapatkan sumbangan, yang kedua dia bekerja setiap harinya tanpa mendapatkan hak anak untuk belajar melainkan malah disuruh membuat pekerjaan administratif sebagai tata usaha begitu ya kalau sekolah formal, ini kan tidak ada pekerja," ungkap Yudi kepada reporter detikX.

Hikmah Dijaya, seorang kepala desa di salah satu tempat tinggal korban pemerkosaan.
Foto : Isfari Hikmat/detikcom

"Pekerjaan TU itu dikerjakan oleh anak-anak itu, kaya buat proposal itu kan untuk mendapatkan keuntungan, jadi saya rasa sudah masuk itu," imbuhnya.

Anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdanev Jopa menuturkan anak-anak yang dilahirkan korban pemerkosaan diduga dimanfaatkan oleh Herry untuk meraup cuan. Mereka dijadikan bahan proposal untuk menghimpun dana dengan kedok untuk ‘anak yatim’. Selain itu, para santriwati di bawah umur dipekerjakan sebagai pekerja fisik.

"Kalau dari cerita fakta persidangan, mereka waktu pembangunan salah satu gedung sekolah itu kan dieksploitasi, disuruh kerja juga santriwati-santriwati ini, jadi kuli," kata Abdanev kepada reporter detikX.

Karena itu, Wakil Ketua LPSK Livia Istania mendorong penyidik membukakemungkinan menjerat Herry dengan pasal-pasal lain.

"Gunakan pasal-pasal berlapis. Jangan hanya pasal perlindungan anak saja," kata Livia kepada reporter detikX.

"Pelaku kan menggunakan relasi kuasanya," lanjut Livia. "Dia kan guru, dia membujuk rayu."

Tim detikX mendatangi salah satu TKP pemerkosaan di Yayasan Manarul Huda Antapani di daerah Kota Bandung, Rabu, 15 Desember 2021. Suasana perumahan cukup sepi, hanya terlihat dua satpam yang berjaga di pos masuk kompleks tersebut. Agus Supriyatna, ketua RT setempat, mengatakan rumah yang digunakan Herry sebagai yayasan atau pesantren tersebut milik orang lain yang tinggal di Jakarta.

Rumah Tahfidz yang dikelola Herry Wirawan.
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

“Dia (Herry) sekitar 2015 ya mengaku sebagai suruhan si pemilik rumah untuk menggunakan rumah tersebut sebagai tempat penampungan anak yatim,” kata Agus ketika menceritakan awal mula Herry masuk ke wilayahnya.

Agus menuturkan rumah yang dijadikan yayasan atau pesantren itu hanya dijadikan rumah singgah anak yatim sebanyak 5 sampai 6 orang.

Dana lain yang diterima Herry didapatkan dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP). Sejumlah dana bantuan yang seharusnya diberikan ke para siswa tersebut diambil oleh Herry dengan dalih dititipkan.

Terkait dana BOS, Kabid Ponpes Kemenag Jawa Barat Abdurrohim menjelaskan setiap siswa di tingkat tsanawiyah atau SMP yang didirikan Herry mendapat bantuan dana Rp 1,1 juta per siswa. Sedangkan murid di tingkat ulya atau SMA itu mendapatkan Rp 1,4 juta per siswa. Dana ini diberikan setahun sekali untuk kegiatan operasional sekolah.

Menurut catatan Kemenag Jawa Barat, santriwati yang dinaungi Yayasan Manarul Huda ini terbagi atas 21 santriwati tingkat wustha dan 15 santriwati tingkat ulya. Jika diakumulasi dari data di atas, dana BOS yang disalurkan ke yayasan tersebut sebesar sekitar Rp 44 juta. Ini belum termasuk aliran dana dari PIP dan yang lain.

Abdurrohim mengungkapkan, sejak dibangun pada 2018, Madani Boarding School di Cibiru tak pernah dilaporkan Herry kepada Kementerian Agama. Jadi tak diketahui tanah sekolah tersebut hibah, wakaf, atau milik pribadi Herry. Sekolah tersebut dianggap bodong.

“Tidak pernah ada pemberitahuan dan pengajuan izin ke Kemenag,” tuturnya.

Selain itu, menurut pengakuan salah satu orang tua korban kepada reporter detikX, selain diperkosa, beberapa santriwati disuruh membuat proposal untuk mencari sumbangan. Bahkan ada dari mereka yang disuruh keliling mencari sumbangan beras kepada warga sekitar.

Terkait adanya dugaan temuan eksploitasi ekonomi dalam fakta persidangan yang dilakukan Herry terhadap para santrinya, Pelaksana Tugas Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Riyono belum bisa mengungkap dengan jelas temuan tersebut.

"Kalau dari berkas yang kami sidangkan, kalau saya bicara yang dipersidangkan, memang tidak terungkap jelas. Tapi mungkin, kalau dari investigasi-investigasi yang dilakukan oleh lembaga di luar APH kejaksaan, mungkin menemukan karena dia langsung terjun ke lapangan,” ujar Riyono kepada reporter detikX.

Sedangkan Ira Mambo, pengacara Herry, menilai dugaan eksploitasi ekonomi yang masuk dalam persidangan masih terlalu dini untuk disimpulkan.

“Jadi untuk perkara ini, itu bukan jadi pokok perkara. Karena eksploitasi ekonomi itu masih terlalu dini kita beropini atau berasumsi seperti itu di kasus ini,” kata Ira kepada reporter detikX.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE