INVESTIGASI

Penyiksaan Murid SPN Dirgantara Batam

Pelarian Calon Pilot yang Disiksa

Seorang pelajar SPN Dirgantara Batam berhasil kabur setelah diduga disiksa oleh pembina sekolahnya sendiri. Dia berjalan sejauh 19 kilometer, yang ditempuh selama empat jam. Namun, bukan kebebasan yang dia dapatkan, melainkan siksaan yang lebih parah.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 8 Desember 2021

Nurul—bukan nama sebenarnya—tak kuasa menahan tangis ketika anak lelakinya pulang dengan wajah memar pada Rabu, 3 Juni 2020. Sekitar pukul 4.30 pagi itu, anaknya, Sadid—bukan nama sebenarnya—mengetuk pintu dan langsung berjalan ke dapur tanpa mengucapkan sepatah kata.

Di dapur, Sadid duduk di bangku kecil dan menatap kosong ke arah depan. Nurul dan suaminya mencoba memberanikan diri bertanya kepada Sadid, mengapa dia pulang dengan wajah babak belur.

“Nanti Sadid mati, Mak,” jawab Sadid lirih dengan bibir benjut yang menyebabkan ia kesulitan berbicara, sebagaimana diceritakan Nurul kepada reporter detikX pekan lalu. Kepada ibunya, Sadid lalu menceritakan apa yang dialaminya.

Ruang UKS SPN Dirgantara Batam
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikcom


Dia cita-citanya mau jadi pilot. Makanya kami masukkan ke penerbangan. Sampai sekarang masih. Tetap mau jadi pilot. Tapi dia sudah nggak mau lagi sekolah di penerbangan sini (SPN Dirgantara Batam).”

Sehari sebelumnya, 2 Juni 2020, sekitar pukul 9 pagi, Sadid, yang merupakan pelajar Sekolah Penerbangan Nusantara (SPN) Dirgantara Batam, meminjam ponsel seniornya. Senior Sadid ini merupakan alumnus sekolah yang direkrut untuk menjadi pengawas para murid di sekolah tersebut.

Melalui ponsel pinjaman itu, Sadid mengirimkan pesan kepada ibunya via aplikasi Facebook Messenger. Isi pesannya, Sadid menceritakan, dirinya menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan Erwin Depari, pembina sekolah yang juga seorang polisi aktif berpangkat ajun inspektur polisi satu (aiptu).

Sialnya, aturan di SPN Dirgantara Batam, semua murid dilarang menggunakan ponsel. Erwin, menurut Nurul, geram mengetahui Sadid meminjam ponsel seniornya untuk menghubungi ibunya. Di hadapan rekan-rekannya, Erwin membentak Sadid dan memintanya membuka isi pesan tersebut.

Dua kali Sadid salah mengetik kata sandi akun Facebook miliknya. Dua kali itu pula pipi Sadid ditampar dengan kedua tangan Erwin. Sampai akhirnya akun Facebook Sadid bisa dibuka, Erwin mendapati pesan Sadid yang berisi aduan tentang kekerasan di SPN Dirgantara Batam kepada ibunya. Pesan itu langsung dihapus oleh Erwin sebelum sempat dibaca oleh orang tua Sadid.

“Pembina (Erwin) langsung matikan handphone, diletakkan di meja. Emosi. Dia bilang, ‘Orang begini nggak bisa dibiarkan, nih’. Langsung dia dipukul sampai 10 kali pakai kedua tangan. Anak saya hitung memang,” beber Nurul.

“Terakhir pakai tangan kiri,” lanjut Nurul. “Itulah langsung mengeluarkan darah dari hidung, sampai bibirnya pecah, sampai anak saya terlempar ke pintu, sempat pingsan sebentar.”

Ketika tak sadarkan diri, Sadid dibawa ke ruangan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Tempat ini terpisah dari SPN Dirgantara Batam. Jaraknya sekitar 30 meter. SPN Dirgantara Batam berada di dua ruko yang dibobol menjadi satu. Sedangkan lokasi UKS terpisah tiga ruko dari lokasi sekolah. Ruang UKS ini berada satu area dengan tempat lokakarya dan kantin sekolah. Di situlah Sadid dirawat oleh salah seorang rekan seangkatannya sampai siuman.

Malam hari, sekitar pukul 02.00 WIB, Sadid mendapati ruang UKS sudah kosong. Saat itulah ia mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Dia pun kabur dari SPN Dirgantara Batam malam itu juga. Dia berjalan sekitar 19 kilometer menuju tempat tinggal kedua orang tuanya. Butuh waktu sekitar 4 jam berjalan kaki bagi Sadid untuk sampai ke rumahnya itu.

Kala itu, Pemerintah Kota Batam tengah menerapkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dalam rangka meredam penyebaran virus COVID-19. Saban malam, mulai pukul 20.00 WIB, seluruh lampu kota dimatikan agar tidak ada orang yang keluyuran.

Malam itu, pelajar yang masih berusia 16 tahun ini pun harus menyusuri gelap malam seorang diri. Dia melintasi jalan-jalan yang di sisi kanan dan kirinya dipenuhi pepohonan tinggi-besar yang berjajar di antara hutan Taman Wisata Alam Muka Kuning, Bukit Daeng, dan Danau Biru Bintan.

Tampak dari depan Gedung SPN Dirgantara Batam
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikcom

Sudah begitu, tidak sampai tiga jam di rumah, Sadid kembali dijemput oleh pengurus sekolah. Erwin Depari datang ke rumahnya sekitar pukul 07.00 WIB. Dia meminta Nurul menyerahkan anaknya kembali ke sekolah. Sadid berteriak dan meronta tidak mau kembali ke sekolahnya itu. Namun Nurul dan suaminya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali merelakan buah hatinya itu dijemput paksa oleh Erwin.

“Pembina ke rumah pakai baju dinas (polisi). Saya tidak enak sama tetangga, dikira ada apa-apa,” ujar Nurul sambil menggenggam erat kedua tangannya sendiri. Terasa betul bahwa ia masih trauma mengenang kejadian itu.

Sekembali Sadid ke sekolah, rupanya aksi kekerasan belum juga berhenti. Sekitar pertengahan Agustus 2020, SPN Dirgantara Batam melaksanakan latihan pendidikan dasar di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam. Sadid menjadi salah satu panitia pelaksana karena dia merupakan salah satu polisi taruna yang bertugas mengawasi murid lainnya.

Namun, dalam latihan pembinaan mental itu, Sadid-lah yang justru paling menderita. Nurul bercerita, setiap kali ada adik kelas anaknya melakukan kesalahan, Sadid-lah yang bakal melaksanakan hukumannya. Dia dihukum melakukan aktivitas fisik, mulai push-up, sit-up, berguling, hingga penganiayaan berupa tamparan atau pukulan dari pembina.

Sadid tidak kuat dan akhirnya kabur lagi dari sekolah itu. Namun, lagi-lagi, pembina sekolah, Erwin Depari, menjemputnya dari rumah. Erwin datang malam hari sekitar pukul 23.00 ke rumah Sadid. Dia meminta kepada orang tua Sadid agar anaknya kembali diserahkan ke pihak sekolah.

Namun, malam itu, Nurul dan suaminya berkeras tidak mau menyekolahkan anaknya lagi di SPN Dirgantara Batam. Sudah cukup bagi Nurul dan suaminya melihat anaknya terus-menerus menderita begitu.

Sikap orang tua Sadid itu ternyata membuat Erwin marah besar. Sadid dituduh sebagai pengguna narkoba. Erwin mengancam bakal memenjarakan Sadid, juga orang tuanya, kalau tidak mau menyerahkan anaknya ke pihak sekolah.

“Ibu, anak Ibu narkoba. Ini nanti rumah Ibu, mobil Ibu, semua habis. Anak Ibu, potong telinga saya nih, kalau bisa jadi dokter. Ini saya laporkan. Pokoknya malam ini tidur di Polres,” cerita Nurul menirukan pernyataan Erwin kala itu.

Dengan berat hati, Nurul pun menyerahkan kembali anaknya ke pihak sekolah. Di sekolah, Sadid mendapat hukuman lagi. Tangannya diborgol dan kakinya dililit dengan rantai dalam sebuah ruangan sempit berukuran 2x3 meter. Pihak sekolah menyebut ruangan itu sebagai ruang konseling. Tapi, bagi Sadid dan para pelajar SPN Dirgantara Batam, ruangan itu lebih seperti “neraka” karena saking sempit dan pengapnya.

Hampir dua pekan di ruang itu, Sadid merasa semakin tidak kuat. Dia memohon kepada seorang senior yang memegang kunci gembok untuk sedikit melonggarkan rantai di kakinya. Seniornya yang merasa kasihan dengan Sadid pun melonggarkan rantai itu. Namun Erwin datang dan memergoki gembok rantai di kaki Sadid telah terbuka. Erwin murka. Dia malah memindahkan rantai di kaki Sadid ke lehernya.

Siksaan demi siksaan terus diderita Sadid sampai pada akhirnya kasus kekerasan ini pun dilaporkan ke Polda Kepulauan Riau pada 17 November 2021. Sadid keluar dari sekolah itu dan pindah ke sekolah penerbangan lainnya di Kota Batam. Nurul bilang anaknya masih bermimpi bahwa suatu saat dia bisa menerbangkan pesawat dan mengajak kedua orang tuanya terbang keliling Nusantara.

“Dia cita-citanya mau jadi pilot. Makanya kami masukkan ke penerbangan. Sampai sekarang masih. Tetap mau jadi pilot. Tapi dia sudah nggak mau lagi sekolah di penerbangan sini (SPN Dirgantara Batam),” kata Nurul.

Belakangan, Sadid harus bolak-balik ke psikolog untuk memeriksakan kondisi psikisnya. Psikolog klinis RSPP Batam, Dini Rakhmawati, yang memeriksa Sadid mendiagnosis, calon pilot ini mengalami gejala Stockholm syndrome. Sadid cenderung membenarkan aksi kekerasan yang dilakukan pembina sekolahnya. Dia merasa wajar terhadap aksi kekerasan itu guna melatih mental dan karakternya sebagai seorang calon pilot.

“Karena saat saya bertanya mengenai kekerasan dan lain sebagainya, dia menganggap itu ada gunanya. Gunanya di mana? Ya kan badannya jadi terbentuk, kita jadi tidak melakukan kegiatan negatif, seperti merokok dan lain sebagainya,” kata Dini kepada reporter detikX pekan lalu.

Erwin Depari membantah segala cerita yang disampaikan Nurul. Erwin bilang tidak pernah ada kekerasan di SPN Dirgantara Batam. Dia juga mengatakan tidak pernah mengancam bakal memenjarakan Sadid dan orang tuanya.

“Justru kami bersyukur murid itu (Sadid) keluar. Wong itu kami yang drop out kok. Tapi kami kan sekolah tidak bisa langsung drop out siswa. Jadi kami minta orang tuanya mengajukan surat pindah,” pungkas Erwin.

Selain Sadid, ada juga empat korban lainnya yang juga mengalami peristiwa kekerasan serupa yang diduga dilakukan Erwin Depari. Saat ini kasus tersebut tengah ditangani Polda Kepri. Sebanyak 16 saksi telah diperiksa dan korban telah mendapatkan pendampingan dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak Kepulauan Riau.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE