INVESTIGASI

Neraka di Lantai Empat Sekolah Montir Pesawat

Para pelajar itu dikurung dalam terungku. Mereka diborgol, dirantai, ditendang hidungnya, dan ditinju hingga rahang satu di antara mereka bergeser. Hasil investigasi detikX, terduga pelaku adalah pembina sekolah yang juga merupakan seorang polisi aktif.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 6 Desember 2021

Pengap. Tidak ada kasur, apalagi penyejuk udara. Sepuluh orang pelajar dipaksa tidur berimpitan dalam terungku penyiksaan di lantai empat Sekolah Penerbangan Nusantara (SPN) Dirgantara Batam itu sejak Sabtu, 29 September 2021. Ukuran ruangan itu hanya sekitar 3x2 meter. Setiap sisi ditutupi terali besi yang dilapisi tripleks.

Satu-satunya ventilasi udara hanyalah lubang berukuran sekitar 20 sentimeter yang digunakan untuk mengikat rantai dengan gembok sebagai pengunci pintu ruangan.

“Kalau kami mau hirup udara segar, ya di (lubang 20 sentimeter) situlah. Di depannya itu ada kamar mandi. Kamar mandi pun nggak ada pintunya,” tutur Abdi—bukan nama sebenarnya—salah seorang korban, kepada detikX di kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kepulauan Riau, Selasa, 30 November 2021.

Dalam surat pemanggilan sekolah kepada salah satu korban yang detikX dapatkan, mereka bakal dikurung dalam ruangan sempit itu selama tiga bulan. Pengurus sekolah yang beralamat di Jalan Ahmad Yani Taman Eden, Batam, Kepulauan Riau, tersebut menyebut terungku itu sebagai ruang konseling.

Bagian depan SPN Dirgantara Batam.
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikX


Mama, pengen pulanglah adik, aku gak kuat lagi di sini. Jemput aku mak, mohon please. Aku (nama korban) pengen pulang aja. Nggak mau di sini lagi. Di sini kayak neraka.”

Tidak kuat berlama-lama di sana, salah seorang korban lainnya, Risman—bukan nama sebenarnya—berupaya kabur. Risman membobol atap kamar dan kabur melalui plafon pada 30 September lalu.

Lantaran Risman kabur, sembilan orang yang masih bertahan di ruangan itu mendapat getahnya, yaitu siksaan yang lebih parah. Tangan mereka diborgol seperti temali yang dikaitkan satu dengan lainnya. Jika satu orang ke toilet, semua harus ikut. Apabila satu orang membalikkan badan, semua harus ikut membalikkan badan.

Saat detikX berkunjung ke sekolah yang setara dengan SMK itu pada 2 Desember 2021, ruangan khusus penyiksaan telah diperbaiki. Sudah ada kasur dan penyejuk udara portabel. Namun sumber detikX dari tim khusus yang dibentuk Inspektorat Daerah Provinsi Kepri, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta sejumlah lembaga pemerhati anak mengatakan pihak sekolah memang sudah beberapa kali mengatur ulang ruangan tersebut untuk mengelabui tim khusus dan aparat.

Terhitung sudah tiga kali pihak sekolah mengubah tampilan ruangan tersebut. Itu terlihat dari perbedaan beberapa hasil foto dan video yang detikX dapatkan pada tanggal yang berbeda-beda, yakni 6 Oktober, 17 November, dan 18 November 2021.

“Pertama itu teralinya masih kelihatan. Kunjungan kedua sama KPAI teralinya sudah (dipasangi) tripleks. Yang ketiga itu sudah dikasih AC, tapi AC yang portabel,” tutur sumber ini pekan lalu.

Kasus kekerasan terhadap pelajar di SPN Dirgantara Batam ini sempat dilaporkan ke Polresta Barelang pada 27 Oktober 2021. Namun laporan ditolak oleh petugas di Unit VI Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) lantaran belum cukup bukti. Sumber detikX yang hadir dalam pelaporan itu mengungkapkan petugas meminta hasil visum sebagai bukti.

Kasi Humas Polresta Barelang Iptu Tigor Dabariba membantah pernyataan tersebut. Menurut Tigor, petugas hanya meminta pelapor melengkapi bukti para korban adalah anak-anak. Salah satunya dengan menunjukkan akta kelahiran korban.

“Kalau pelapor menyatakan dia anak-anak, harus ada akta kelahiran, dong. Kami nggak tahu nanti. Kalaupun menurut kasatmata terlihat anak-anak, kita harus dikuatkan oleh alat bukti lain,” ucap Tigor kepada detikX di kantornya, Polresta Barelang, Rabu, 1 Desember 2021.

Pengusutan kasus kekerasan ini sempat tenggelam nyaris tiga pekan. Kasus ini baru mulai diusut pada 17 November 2021 setelah orang tua korban melapor ke Polda Kepulauan Riau (Kepri). Dalam pelaporan itu, orang tua korban didampingi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kota Batam, Inspektorat Daerah Provinsi Kepulauan Riau, dan pejabat dari Kemendikbud-Ristek.

Mereka membawa sejumlah bukti foto dan video yang membuktikan adanya kekerasan di SPN Dirgantara Batam. Dalam foto-foto itu, terlihat leher salah satu korban dililit dengan rantai dan digembok. Korban lainnya, tangannya diborgol seperti maling.

Orang tua korban dan tim khusus juga memberikan temuan-temuan lapangan saat melakukan inspeksi mendadak di SPN Dirgantara Batam pada 17 November. Satu di antaranya adalah sepotong surat dari salah satu siswi di sekolah itu yang minta dibebaskan. Surat itu terselip dalam buku pelajaran salah satu murid yang tengah belajar pada saat sidak berlangsung.

“Mama, pengen pulanglah adik, aku gak kuat lagi di sini. Jemput aku mak, mohon please. Aku (nama korban) pengen pulang aja. Nggak mau di sini lagi. Di sini kayak neraka,” tulis salah seorang murid SPN Dirgantara Batam dalam surat itu yang salinannya diterima detikX.

Ruang kelas di SPN Dirgantara Batam
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

Dari hasil pemeriksaan kepolisian diketahui bahwa ternyata para korban tidak hanya dikurung. Mereka juga mengalami penganiayaan fisik. Satu korban ditampar sebanyak dua kali hingga rahangnya bergeser. Korban lainnya ditinju hidungnya hingga memar dan tak sadarkan diri. Kemudian ada pula korban yang ditampar dengan kedua tangan di bagian pipi. Satu korban lainnya ditampar dengan kedua tangan sebanyak sepuluh kali, kemudian ditinju sampai terpelanting, dan pingsan.

Penyiksaan itu terjadi berulang sejak 2018. Dua orang tua korban mengatakan anaknya sempat minta keluar dari SPN Dirgantara Batam sejak semester I karena tidak kuat. Satu orang tua lainnya menyebut, pada Juni 2020, anaknya pernah pulang ke rumah dengan bibir benjut dan penuh darah. Hasil rekam medis korban yang detikX dapatkan menunjukkan korban memiliki benjolan di bibirnya yang menyebabkan sulit mengunyah. Orang tua korban mengatakan dokter Rumah Sakit Graha Hermine di Batu Aji, Batam, yang memeriksa mendiagnosis bahwa si anak mengalami benturan benda tumpul yang keras berkali-kali.

“Waktu bulan Juni (2020) saya lihat bibirnya benjol. Tetapi saya kembalikan lagi ke sekolah. Cuma, sampai Desember (2020), saya lihat lagi kok masih jontor bibirnya. Akhirnya saya izin periksa itu, makanya hasilnya itu baru keluar 26 Januari (2021),” tutur salah satu orang tua korban kepada detikX pekan lalu.

Saat ditanya polisi siapa yang melakukan kekerasan itu kepada mereka, para korban menjawab nama yang sama. Terduga pelaku adalah pembina sekolah: Erwin Depari. Erwin merupakan pimpinan Yayasan Sapta Lencana, yang menaungi SPN Dirgantara Batam. Dia juga polisi aktif berpangkat ajun inspektur polisi satu (aiptu).

Saat ini Erwin merupakan anggota kesatuan Bagian Operasional Polres Natuna. Dia didemosi dari Polresta Barelang sejak 10 Maret 2021 berdasarkan Surat Telegram Kapolda Kepri Nomor STR/113/III/Kep/2021. Dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Batam, rupanya Erwin pernah terjerat kasus serupa pada 2018. Dia didakwa hukuman pidana penjara selama 8 bulan masa percobaan. Demosi ke Polres Natuna merupakan bagian dari hukuman kode etik kepolisian yang dijatuhkan Propam Polresta Barelang kepada Erwin.

Novita, kakak korban kekerasan SPN Dirgantara Batam pada 2018, mengatakan Erwin memborgol adiknya dan menggiringnya seperti maling di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. “Dia (korban) diseret-seret, kawan-kawan se-lichting-nya (angkatan) disuruh mukulin dia, dituduh narkoba,” kata Novita kepada detikX.

Erwin membantah semua tudingan yang datang kepadanya. Erwin bilang tidak pernah ada kekerasan di SPN Dirgantara Batam. Hanya, kata Erwin, cara didik di SPN Dirgantara Batam memang keras. Sebab, pendidikan di SPN Dirgantara mengutamakan kedisiplinan, pembangunan mental, dan karakter. Namun itu bukan berarti sampai ada aksi pemukulan atau apa pun yang dituduhkan kepadanya.

“Karena dasar dari kami, penerbangan ini adalah kami siap kerja untuk di maskapai-maskapai, kemudian di hanggar-hanggar,” kata Erwin kepada detikX di kantornya, Kamis, 2 Desember 2021.

“Kalau nggak disiplin,” lanjut Erwin, “memperbaiki pesawat, salah pasang kabel, pesawatnya rusak, itu bisa mengorbankan penumpang.”

Meski membantah semua tudingan itu, Erwin diduga sempat mengkoordinasi perlawanan untuk mendiskreditkan para pelapor. Pada Rabu, 24 November 2021, puluhan orang yang mengaku sebagai wali murid dan alumni SPN Dirgantara Batam berkumpul di depan RS Graha Hermine. Mereka menyatakan dukungan kepada SPN Dirgantara Batam dan bersaksi tidak pernah ada kekerasan di sekolah itu.

Salah satu ruangan khusus di SPN Dirgantara Batam
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

detikX mendapatkan foto bukti percakapan orang yang diduga sebagai suruhan Erwin kepada para peserta demo. Dalam percakapan itu, orang yang diduga sebagai koordinator aksi mengajak para alumni SPN Dirgantara Batam membuat pernyataan: tidak ada kekerasan di sekolah tersebut.

“Coba ajak alusta-alusta (alumni) juga buat pernyataan kompak untuk menghajar 5 orang yang melapor,” demikian bunyi percakapan tersebut. “Instruksi bang Erwin.”

Kini kasus kekerasan di SPN Dirgantara Batam tengah diselidiki oleh Polda Kepri. Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhardt mengatakan kepolisian telah memeriksa 16 saksi dalam kasus tersebut. Mereka merupakan para korban, orang tua korban, dan pengawas dari Dinas Pendidikan Kepri.

“Kami juga melakukan pemeriksaan kesehatan pelapor atau korban ke Rumah Sakit Graha Hermine dan melakukan koordinasi dengan UPTD PPA untuk melakukan pemeriksaan psikologi terhadap lima anak didik yang diduga mendapat perlakuan kekerasan,” ungkap Harry kepada detikX melalui sambungan telepon pekan lalu.

Psikolog klinis RSPP Batam, Dini Rakhmawati, yang mendampingi korban, mengatakan saat ini kondisi korban mengalami kecemasan dan gangguan stres ringan hingga berat. Mereka trauma pada kata ‘konseling’. Sebab, pengurus sekolah menyebut ruang penyiksaan itu sebagai ruang konseling, sehingga para korban meminta agar sebutan ‘konseling’, yang biasa digunakan untuk jadwal pertemuan dengan psikolog, diganti namanya dengan ‘treatment’.

Selain itu, satu orang korban juga terindikasi mengalami gejala Stockholm syndrome. Ini merupakan gangguan psikologis pada korban penyanderaan yang membuat mereka merasa bersimpati kepada pelaku. Dampaknya, korban cenderung membenarkan aksi kekerasan yang diduga dilakukan Erwin. Korban merasa wajar aksi kekerasan itu dilakukan guna melatih mental dan karakternya.

“Tapi untuk mencari tahu apakah kasus kekerasan itu mempengaruhi mereka atau tidak, itu memang perlu dilakukan pemeriksaan yang jauh lebih mendalam, biasanya visum psikologis,” ungkap Dini kepada detikX.

Belakangan, Ketua KPPAD Kota Batam Abdillah kembali menerima laporan terkait kasus kekerasan yang diduga dilakukan Erwin. Para korban dan kerabatnya secara diam-diam melaporkan aksi kekerasan di SPN Dirgantara Batam melalui pesan WhatsApp, telepon, dan aduan daring melalui Google Form. Namun, kata Abdillah, mereka belum berani membuat laporan resmi karena takut kepada terlapor.


Jauh sebelum itu, pada pertengahan 2020, KPPAD juga menerima laporan serupa. Namun pelapor tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.

“Jadi sekarang kami lagi berupaya memberikan pemahaman agar pelapor seperti ini bersedia memberikan laporan resmi ke KPPAD Kota Batam atau ke Polda atau ke kepolisian terdekat,” ungkap Abdillah.

Komisioner KPAI Retno Listyarti berharap agar kasus kekerasan ini diusut tuntas. Sebab, kata Retno, aksi kekerasan itu telah terjadi berulang sejak 2018. Retno dan tim khusus yang mengawal kasus ini telah merekomendasikan sejumlah opsi sanksi untuk SPN Dirgantara Batam. Empat opsi itu: mencabut izin operasional sekolah, menghentikan pencairan dana BOS, menghentikan penerimaan peserta didik baru, dan membuka ruang asesmen pelajar SPN Dirgantara Batam untuk pindah ke sekolahlain.

"Tapi sanksi itu akan ditentukantergantung hasil audit dari tim investigasi," pungkas Retno.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE