INVESTIGASI

Penyiksaan Murid SPN Dirgantara Batam

Di Bawah Asuhan Bapak Pembina

SPN Dirgantara Batam kembali menuai sorotan. Sebab kasus tindak kekerasan terhadap anak yang terjadi pada 2018, kembali terulang.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 7 Desember 2021

Erwin Depari merupakan pembina Sekolah Penerbangan Nusantara (SPN) Dirgantara Batam. Dia juga tercatat sebagai pimpinan Yayasan Sapta Lencana, yang menaungi sekolah tersebut. Selain itu, Erwin juga pebisnis yang diduga menjadi komisaris PT Tambang Energi Nasional.

Nama Erwin melambung karena ia diduga melakukan tindak kekerasan terhadap pelajar di SPN Dirgantara Batam sekitar dua bulan yang lalu. Sebelumnya, ia divonis Pengadilan Negeri (PN) Batam karena melakukan tindakan serupa dengan hukuman 4 bulan kurungan penjara pada Februari 2020. Namun hukuman tersebut tak perlu dijalani selama, dalam masa percobaan delapan bulan, ia tak melakukan tindak pidana lagi.

detikX melakukan konfirmasi terkait jabatannya sebagai pimpinan Yayasan Sapta Lencana. Erwin berdalih posisi tersebut seharusnya diisi oleh istrinya. Ia diberi jabatan itu karena istrinya mengaku tak memiliki pengalaman.

Erwin Depari, pembina SPN Dirgantara Batam
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/Detikcom


Jika nantinya terbukti melakukan pelanggaran yang sama, selain diancam dengan pasal-pasal pidana dan hukuman penjara, Erwin Depari juga terancam sanksi etik dengan ancaman tertinggi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).”

“Bukan, komisaris (kepala yayasan) itu Istri. Saya mendapat kuasa dari dia. Jadi yayasan itu (milik) keluarga, ada Istri sebagai kepala yayasan, ada adik saya, dan keluarga saya juga,” kata polisi yang berpangkat ajun inspektur polisi satu (aiptu) itu, saat ditemui reporter detikX di ruangan Kepala SPN Dirgantara Batam, Kamis, 2 Desember 2021.

Kemudian, ketika dimintai konfirmasi kembali terkait posisinya sebagai komisaris di PT Tambang Energi Nasional, Erwin berdalih bahwa perusahaan itu sudah tidak aktif.

“Kalau itu nggak aktif itu, nggak jalan itu, dicek saja, nggak aktif itu. Itu dulu hanya masalah administratif saja nama saya dicantumin. Saya nggak tahu itu (namanya dicantumkan). Saya seharusnya pembinaan saja, saya sudah bilang,” ujar pria jangkung itu.

detikX menanyakan kepada komisioner Kompolnas Poengky Indarti terkait rangkap jabatan Erwin di luar kepolisian. Menurutnya, seorang anggota kepolisian seperti Erwin, bisa menduduki jabatan di luar Polri hanya jika telah mengundurkan diri dari dinas kepolisian. Itu sesuai dengan Pasal 28 ayat (3) UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Jika kita melihat tugas Aiptu ED sebagai pembina di sebuah sekolah, tugas tersebut seharusnya bukan tugas kepolisian. Selain itu, tidak ada penugasan dari Kapolri, sehingga Propam harus memeriksa mengapa Aiptu ED bisa bertugas di sana,” ujar Poengky.

Poengky menduga Erwin menyalahgunakan kewenangannya sebagai polisi untuk bertindak sewenang-wenang di SPN Dirgantara Batam.

“Karena yang bersangkutan sebagai pimpinan yayasan, kemudian hadir di sekolah sebagai pengawas siswa, sementara kerjanya sehari-hari adalah sebagai polisi,” katanya.

Poengky menuturkan tahu kasus Erwin sebelumnya. Dia pernah melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Riau dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membahas kasus Erwin. Ini terkait dengan kasus Erwin yang membelenggu siswa dengan borgol besi miliknya, yang didapat karena bekerja sebagai polisi. Kasus ini terjadi pada 2018 dan Erwin divonis majelis hakim PN Batam pada Februari 2020.

Poengky Indarti
Foto : Ari Saputra/Detikcom

Poengky meminta Polda Kepulauan Riau, khususnya Bidpropam dan Ditreskrimum, agar memeriksa Erwin. Sebab, Erwin diduga mengulangi perbuatan pidana.

“Jika nantinya terbukti melakukan pelanggaran yang sama, selain diancam dengan pasal-pasal pidana dan hukuman penjara, Erwin Depari juga terancam sanksi etik dengan ancaman tertinggi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH),” ujarnya.

Ketika dihubungi terkait dugaan kekerasan dan penganiayaan terhadap siswa SPN Dirgantara Batam yang dilakukan Erwin Depari, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhardt menjelaskan pihaknya berencana memeriksa Erwin Depari.

Harry juga menjelaskan akan menyampaikan temuan tim detikX terkait posisi yang diduduki Erwin Depari di luar tugasnya sebagai anggota polri aktif. Dia akan mengarahkan ke fungsi pengawasan internal Polda Kepri.

“Terkait info penelusurannya, saya akan sampaikan ke fungsi pengawasan internal,” ujar Harry kepada reporter detikX melalui pesan singkat.

Meski begitu, Erwin membantah melakukan tindak kekerasan terhadap siswanya. Erwin menuturkan, tidak pernah ada kekerasan di SPN Dirgantara Batam. Hanya saja, kata Erwin, cara didik di SPN Dirgantara Batam memang keras. Sebab, pendidikan di SPN Dirgantara mengutamakan kedisiplinan, pembangunan mental, dan karakter. Namun itu bukan berarti sampai ada aksi pemukulan atau apa pun yang dituduhkan kepadanya.

“Karena dasar dari kami, penerbangan ini adalah kami siap kerja untuk di maskapai-maskapai, kemudian di hanggar-hanggar,” kata Erwin kepada detikX di kantornya, Kamis, 2 Desember 2021.

Guna mendalami kasus kekerasan di SPN Dirgantara Batam, tim khusus dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepri. Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Riau Muhammad Dali ditunjuk sebagai ketua tim. Sedangkan Kepala Inspektorat Daerah Provinsi Kepulauan Riau Irmendes ditunjuk sebagai wakil ketua pelaksana.

“Saat ini sedang proses pengawasan dan verifikasi,” kata Muhammad Dali melalui pesan singkat kepada reporter detikX.

Sedangkan pihak Inspektorat Daerah Kepri lebih berfokus terhadap audit keuangan sekolah dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Lebih lanjut Irmendes menjelaskan proses audit ini dilakukan bersama dua instansi lainnya, yaitu Dinas Pendidikan serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kepada detikX, Irmendes mengaku belum dapat memberikan hasil audit terhadap SPN Dirgantara Batam. Namun dirinya menargetkan proses audit ini selesai pada pertengahan Desember ini.

“Kami belum bisa memberikan informasi terkait hal tersebut. Kalau sudah selesai, insyaallah kami sampaikan ya hasilnya. Mudah-mudahan segera ya, pertengahan bulan bisa selesai ya,” katanya kepada reporter detikX.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE