INVESTIGASI

Kalapas Tangerang Victor: Saya Bertanggung Jawab

“Saya rasa saya sudah maksimal dalam mengemban pekerjaan ini walaupun toh tetap ada korban dalam bencana kebakaran.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 22 September 2021

Semenjak si jago merah melahap Blok C2 Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang pada Rabu, 8 September 2021, tak sehari pun Kepala Lapas Kelas I Tangerang Victor Teguh Prihartono bisa beristirahat dengan tenang. “Sudah dua minggu saya tidak bisa tidur dengan enak. Kalaupun tidur, itu pun hanya tidur ayam,” ujarnya.

Berbalut kemeja kotak-kotak, celana jins, dan sepatu kets abu-abu, Victor menemui detikX di halaman depan Lapas Kelas I Tangerang, Banten, pekan lalu. Raut mukanya terlihat lelah. Belum lagi kantong matanya yang menghitam tanda belum mendapat tidur yang cukup. Maklum, hingga larut malam sejak kebakaran itu terjadi, ia terus memenuhi panggilan proses pemeriksaan kasus ini.

Tak pernah terbayangkan di benak Victor, pada usia kariernya yang ke-30, ia akan dihadapkan pada musibah kebakaran api di lapas yang begitu hebat. Ia sendiri baru delapan bulan menjabat Kalapas dan dikenal sebagai sosok pekerja keras. Victor selalu meninggalkan lapas tengah malam. Termasuk pada saat kebakaran yang menewaskan 49 orang, ia baru saja pulang dari lapas.

Bagian kamar sel dalam Lapas Kelas I Tangerang yang hangus terbakar.
Foto: ANTARA Foto 

Lantas bagaimana musibah kebakaran itu bisa terjadi menurut Victor? Kepada detikX, Victor merekonstruksi kejadian itu, blak-blakan tentang kehidupan di lapas selama ini, serta menceritakan hari-harinya pascakebakaran. Berikut ini petikannya:

Akhir pekan begini Anda masih sibuk di kantor?

Saya ke ruang tata usaha untuk menyelesaikan pemeriksaan dari Inspektorat. Baru Jumat, 17 September 2021, saya bisa istirahat karena telah serah-terima pelaksanaan harian (plh), digantikan Nirhono Jatmokoadi pada porsi pengendalian lapangan. Setelah (keluarnya) surat keputusan Kemenkumham, saya dibebastugaskan dari posisi saya menjadi Kalapas agar bisa fokus dalam pemeriksaan.

Katanya sudah seminggu Kepala Kantor Wilayah Tangerang (Kakanwil), lalu Dirjen Pemasyarakatan, berkantor di sini?

Betul. Terakhir Kamis, 16 September 2021. Ngantor bersama Kakanwil, Dirjen Pas (Pemasyarakatan). Semua unsur dirjen dan Kantor Wilayah itu sebagai respons dari keadaan tanggap kedaruratan bencana.

Berapa kali Anda diperiksa oleh polisi?

Sekali. Rabu, 15 September 2021, dari sekitar pukul 13.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB.

Jadi, setelah serah-terima pelaksana harian, Anda tidak mengurus Lapas lagi?

Pimpinan telah mengambil sikap membebaskan pelaksanaan tugas saya di Lapas dengan surat perintah plh terhadap kepala divisi Pas. Disampaikan dan ditandatangani oleh Kakanwil selaku atasan saya. Saya menerimanya dengan legowo karena saya harus berkonsentrasi pada proses pemeriksaan oleh Polda Metro Jaya dan Inspektorat Jenderal.

Sebetulnya bagaimana kronologi kebakaran lapas?

Malam itu, saya tinggalkan Lapas pukul 01.15 WIB. Saya jalan kaki pulang ke rumah dinas saya yang berada di samping kantor. Jaraknya sekitar 500 meter. Lalu, sampai rumah, sayanyalakan televisi. Sandar-sandaran di kursi, lalu saya tertidur. Telepon lalu berdering pukul 02.12 WIB. Istri saya yang angkat, lalu dia bangunkan saya ‘kebakaran di kantor, kebakaran di kantor’. Saya nggak sadar langsung lari ke Lapas masih pakai baju rumah, kausan doang, dengan luaran rompi jaket. Ketemu sama petugas jaga namanya Gustaf, dia lalu melapor ‘kebakaran, Pak, di C2’. Pemadam kebakaran ternyata sudah dihubungi, polisi juga saat itu sudah stand by.

Lalu, saya perintahkan untuk menjaga pintu karena resisten terhadap pelarian dan pemberontakan. Kemudian saya perintahkan juga untuk menambah personel pengamanan. Nggak lama ada dua mobil ambulans dan dua mobil pemadam. Menurut prediksi teman-teman yang melihat asap, itu kejadiannya pukul 01.45 WIB. Jadi, kalau menurut pemeriksaan kemarin, asap muncul pertama dari atas kamar Nomor 4, terlihat pertama kali oleh penjaga Pos 2. Kalau menurut keterangan napi yang berada di dalam, muncul ledakan-ledakan kecil dan percikan api persis di depan kamar Nomor 4.

Menurut Anda, apa penyebab terjadinya kebakaran?

Kecepatan yang dibutuhkan para napi untuk keluar dari kamar dengan kebutuhan waktu yang diperlukan untuk menolong, di sinilah krusialnya. Overcrowded. C2 itu ada 19 kamar. Seharusnya kapasitas C2 itu 36 orang, berarti satu kamar seharusnya diisi oleh dua orang. Kemudian terjadi lonjakan jumlah napi, yang seharusnya kapasitas seluruh bangunan ini 600 orang menjadi 2.069.

Penampaka kobaran api yang membakar Blok C2 Lapas Tangerang
Foto: Istimewa 

Bagaimana mekanisme pengaturan kapasitas Lapas yang overcrowded?

Dengan jumlah 2.069, kami atur komposisi kamar dengan 122 orang menempati aula karena akses kamar mandi hanya berada di dalam kamar. Jadi 19 kamar ini pintunya terbuka. Pada saat kejadian, ada yang mengunci kamarnya pakai kawat. Lalu terjadi kepanikan karena mati lampu. Di pertengahan kejadian plafon aula runtuh. Di situlah banyak korban. Yang selamat mereka yang berada di pinggir-pinggir pintu menunggu petugas untuk membuka pintu C2. 49 korban tewas, 71 berhasil keluar kami bawa ke halaman depan Blok C. Syukurnya, dua orang yang sedang dirawat sudah baikan kondisinya.

Malam itu ada 13 petugas, sedangkan 17 titik perlu dijaga. Bagaimana penjelasan Anda?

Perbandingan mungkin bisa dihitung pakai matematika. Tetapi, kalau masuk ke dalam teknis pelaksanaan tugas, nggak ada jumlah petugas ideal. Petugas telah diberi mandat untuk mencegah pelarian, keributan, dan kerusuhan napi. 13 petugas yang berjaga. Memang tidak ideal, tetapi itulah kondisi yang harus kita jalani.

Apakah benar scan barcode untuk check point sudah rusak?

Ada, bagus. Setiap dua jam dilakukan pengontrolan dengan alat check point. Jadi ada barcode yang kita tempatkan di 17 titik pos. Malam itu terakhir pengecekan point pukul 00.00 WIB sudah dipastikan seluruh blok kamar-kamar terkunci.

Berapa lama sampai petugas pemadam kebakaran tiba?

Menurut komandan jaga, itu sekitar 15 menit. Ada 12 mobil damkar yang tiba.

Api bisa dipadamkan sekitar jam berapa?

Pukul 03.30 WIB sudah padam.

Bagaimana tanggapan Anda soal keterangan polisi sumber api berasal dari kamar Nomor 4 tetapi tidak ada korban di kamar tersebut?

Kalau menurut saya, itu keberuntungan mereka. Menurut kesaksian napi yang selamat, korban yang terbakar bertumpuk di kamar Nomor 16 karena mereka salah mengambil langkah penyelamatan diri. Mereka malah lari ke arah belakang blok, itu justru api malah masuk ke sana. Sedangkan napi yang selamat, mereka yang menerobos dan mendekati pintu. Ada juga yang memutari mengelilingi api menginjak-injak orang yang saat itu mungkin masih tidur.

Apakah benar Blok G itu blok khusus napi berduit dan memiliki fasilitas mewah seperti biliar dan fitness?

Tidak benar. Blok itu memang bangunan baru, tapi kondisi kamarnya sama dengan blok-blok lain. Nggak ada ruang fitness. Alat-alat olahraga itu kreasi buatan napi. Kalau biliar, itu fasilitas untuk saya.

Narasumber kami, eks napi di sini, bilang bahwa banyak napi yang mencuri listrik. Apakah pihak Lapas mengetahui hal itu?

Kita akui banyak yang melakukan pencurian listrik, dan kami sudah sering melakukan razia. Memang pintar-pintar napi melakukan pencurian listrik. Dia nyolong, lalu lubangnya ditutupi pakai semen. Nggak terlihat jadinya sama kita. Setiap penggeledahan, ketika kami menemukan kabel tambahan, itu kita sita. Sebulan kita melakukan lima kali penggeledahan. Temuan itu banyak. Tapi sekuat-kuatnya temuan, mereka lebih banyak akal. Kita nggak mungkin melakukan pengawasan 24 jam. Napi itu pintarnya luar biasa.

Eks napi juga bilang bahwa banyak yang membawa kompor listrik, termos, bahkan telepon seluler. Mengapa barang-barang itu bisa lolos?

Kurang-lebih 8 bulan saya berada di sini. Pada awal bertugas, saya melakukan pengecekan kondisi ke kamar-kamar. Saya memang banyak menemukan barang-barang itu. Saya langsung menyita barang-barang tersebut. Kecurigaan kita ada petugas yang ikut membantu mereka memasukkan barang ke dalam.

Pernah menemukan narkoba?

Sulit menemukannya. Bong dan bungkusannya mungkin kita temukan. Nyari barangnya yang nggak dapet.

Ada istilah ‘apotek’ untuk napi yang berjualan narkoba di Lapas Tangerang. Apakah itu benar?

Bayangan saya, apotek itu toko atau lapak, itu nggak ada. Saya berani pastikan itu. Tetapi, ketika terjadi transaksi, pembeli itu yang tidak bisa saya kendalikan karena mereka melakukan secara sembunyi. Mulai dari masukin barang, kalau itu kita temukan, kita tangkap tangan, kita laporkan ke polisi. Tapi sejauh saya menjabat, yang ditemukan hanya bong dan bungkusannya saja.

Jenazah para napi yang menjadi korban kebakaran Lapas Kelas 1 Tangerang
Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA Foto 

Berarti penemuan barang itu sudah termasuk adanya indikasi penggunaan narkoba oleh napi?

Jadi di kamar, yang kita temukan barang itu. Penghuninya empat orang kami panggil, kami periksa, tapi nggak ada yang mengaku. Karena ada indikasi mereka yang memakai dan melakukan pelanggaran, akhirnya mereka naik menara atau sel pengasingan, hukumannya 12 hari. Permohonan bebas bersyarat dari mereka juga dicabut.

Apa upaya yang Anda lakukan untuk menindak pelanggaran barang-barang yang dilarang oleh lapas?

Pada Februari 2021, saya membentuk Satuan Tugas P4GN (Pengendalian, Pencegahan, Peredaran Gelap Narkoba). Kedua, saya membentuk tim pelaksana penggeledahan, bertugas menertibkan barang-barang yang dilarang. Mekanismenya, jangan sampai kita mengambil barang-barang kemudian menimbulkan masalah baru yang resisten terhadap penolakan dan pemberontakan napi. Jadi langkahnya sosialisasi kebijakan Kalapas terkait penertiban barang-barang yang dilarang.

Caranya humanis, dengan membuat papan pengumuman bahwa barang-barang yang dilarang diharap segera dikembalikan kepada pihak keluarga. Kita punya datanya banyak napi akhirnya mengembalikan ke keluarga karena ancamannya ini termasuk pelanggaran berat. Selanjutnya melakukan penggeledahan secara insidental. Barang-barang yang ditemukan kompor,handphonecharger. Jadi proses dilakukan secara terus-menerus.

Apakah benar napi yang baru masuk akan ditatar dalam menara pengasingan?

SOP-nya, orang yang baru masuk ke dalam lingkungan lapas harus menjalani admisi orientasi. Prosesnya disesuaikan dengan kebutuhan: apakah yang bersangkutan ini punya musuh, utang, sakit, indikasi gangguan jiwa, dan sebagainya. Tapi rata-rata masa orientasi sebulan.

Bagaimana keseharian Anda setelah peristiwa kebakaran?

Capek, lelah. Saya belum istirahat. Kadang nggak tidur. Tidur juga tidur-tidur ayam karena orientasi utama saya kerja memastikan kontrol pengendalian, pengawasan. Kalau saya belum merasa tenang, saya tidak akan meninggalkan kantor. Sehingga kemarin, saat tanggung jawab saya diambil alih oleh plh, saya tidak kecewa, karena saya rasa saya sudah maksimal dalam mengemban pekerjaan ini. Walaupun toh tetap ada korban dalam bencana kebakaran, saya sadari itu amanah. Semua itu ada konsekuensi. Saat diperiksa, saya bilang saya siap bertanggung jawab. Dalam kondisi kebakaran tadi, perlu diingat, tidak ada keributan setelah upaya pemadaman di Blok 1 dan 3. Mereka juga kami keluarkan di halaman blok karena mencegah penjalaran api kurang-lebih 300 orang. Kita berhasil menenangkan napi.

Artinya Blok C1 dan C3 belum difungsikan, ya?

Belum, para penghuni kami sebar ke blok-blok lain

Setelah dinonaktifkan, apa saja kegiatan Anda?

Karena jabatan saya eselon 2, jadi saya termasuk pimpinan tinggi di kantor wilayah. Saya yakin masalah ini akan selesai dengan baik. Ketika ada kesalahan, itu memang harus dilalui. Semua ini bagian dari proses karier saya.

Setelah dinonaktifkan apakah Anda akan terus ke lapas?

Saya hanya memantau saja.

Menurut Anda siapa yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini?

Saya yang paling bertanggung jawab atas masalah ini. Tetapi semuanya saya serahkan terhadap proses penyelidikan polisi.

Bagaimana jika nanti Anda ditetapkan sebagai tersangka?

Saya terima, saya ikhlas.


Reporter: Fajar Yusuf, Rani Rahayu
Penulis: Rani Rahayu
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE