INVESTIGASI

12 Menit Ketika Langit Lapas Terbakar

Kebakaran di Paviliun C2 Lapas Kelas 1 Tangerang diduga bersumber dari salah satu kamar narapidana. Namun tidak ada korban meninggal dunia yang berasal dari kamar itu.

Ilustrasi : Fuad Hashim

Senin, 20 September 2021

Pontang-panting para narapidana berlarian ketika api membakar atap Paviliun C2, Blok C, Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang. Tak ada jalan keluar dan kebakaran membuat listrik mati kala itu, sementara api terus menjalar di bagian atap, lalu jatuh ke bawah bersama puing langit-langit. Di hunian seluas 429 meter persegi atau seukuran lapangan basket itu, 122 napi berada di antara hidup dan mati pada Rabu, 8 September, sekitar pukul 01.45 WIB.

“Kebakaran! Tolong! Kebakaran!” mereka berteriak, berharap sipir lapas mendengar dan segera membukakan pintu utama paviliun.

Sebagian dari mereka terjatuh dan terinjak-injak di tengah kekacauan itu. Ada pula napi yang tertimpa langit-langit yang terbakar. Sedikit dari mereka memaksa masuk ke kamar sel untuk mencari air di toilet dengan maksud memadamkan api tersebut.

Kondisi Lapas Tangerang pascakebakaran maut.
Foto : ANTARA FOTO


Ada jarak waktu antara api yang menjalar dan waktu petugas mengambil dua kunci itu.”

Sementara itu, di luar paviliun, petugas lapas di salah satu pos penjagaan melihat ada asap mengepul dari arah Blok C. Petugas ini kemudian memberi tahu para petugas lainnya melalui handy talkie. Dini hari itu, hanya ada 13 orang petugas yang berjaga.

Sipir di sekitar Blok C yang mendengar kabar itu langsung bergegas. Dia mulai menyadari ada kebakaran, tetapi dia tidak memegang kunci. Dia pun menuju tempat penitipan kunci di pos petugas pengamanan Penjaga Pintu Utama (P2U). Dia mengambil kunci, kembali ke Blok C, lalu membuka pintu blok.

Namun, ketika pintu blok terbuka, sipir tersebut baru menyadari ternyata asap berasal dari Paviliun C2. Sialnya, dia tak membawa kunci paviliun itu. Dia pun harus kembali bergegas ke P2U untuk mengambil kunci Paviliun C2.

Kepala Lapas Victor Teguh Prihartono mengatakan seluruh pintu paviliun dan blok memang dikunci setiap pukul 17.00 WIB. Kunci-kunci itu kemudian dikumpulkan di tempat P2U. Dari Blok C ke P2U, jaraknya sekitar 200 meter. Butuh waktu sekitar tiga menit dengan cara berlari untuk menempuh jarak itu.

“Petugas jaga malam itu mengambil kunci dua kali. Kunci untuk Blok C dan untuk Paviliun C2,” kata Victor saat ditemui detikX, Sabtu, 18 September 2021. “Ada jarak waktu antara api yang menjalar dan waktu petugas mengambil dua kunci itu.”

Ketika petugas tadi kembali ke pintu PaviliunC2, asap sudah semakin mengepul dan api kian berkobar. Akses keluar dari paviliunseukuran pintu rumah itu pun dibuka. Sesaat kemudian, puluhan napi berebutkeluar dengan penuh kepanikan.

Jika ditotal, petugas itu membutuhkan waktu sekitar 12 menit untuk membuka pintu paviliun yang terbakar. Tiga menit pertama dia gunakan untuk bergegas dari Blok C ke P2U guna mengambil kunci Blok C. Tiga menit kedua, dia kembali ke Blok C dan membuka pintu blok. Tiga menit ketiga, dia kembali lagi ke P2U untuk mengambil kunci Paviliun C2. Tiga menit terakhir, dia menuju Paviliun C2 dan membuka pintu hunian yang terbakar itu.

Petugas lapas lainnya menghubungi pemadam kebakaran. Enam mobil pemadam kebakaran datang ke lokasi. Api yang melahap bangunan C2 itu baru padam dua jam setelahnya, sekitar pukul 03.15 WIB.

Sebanyak 41 dari 122 narapidana yang tertinggal di paviliun itu meninggal di tempat. Petugas menemukan ada jenazah menumpuk di salah satu kamar setelah kejadian. Diduga, mereka adalah para napi yang sempat berusaha memadamkan api dengan air di kamar mandi sel.

Mereka yang hidup mengalami luka ringan, tetapi sebagian dari mereka mengalami luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang. Belakangan, korban kebakaran yang dirawat juga meninggal, sehingga total korban berjumlah 49 orang.

Korban selamat bernama Anton bercerita kepada Pendeta John Manoppo dari Yayasan Indonesia Bangkit dan Bersinar dalam proses bimbingan kerohanian pascakebakaran. Dengan luka di tangan dan di kaki, Anton mengatakan, kala itu dia menyelamatkan diri dengan menerobos api. Dia melihat ada langit-langit terbakar yang jatuh menimpa napi lain. Banyak pula napi yang jatuh dan terinjak-injak ketika hendak menyelamatkan diri.

John mengatakan Anton mengalami trauma berat saat ini. Dia sering melamun. “Dia berpikir, waktu itu dia dalam pilihan antara hidup dan mati,” kata John kepada detikX pekan lalu.

*   *   *

Kalapas Kelas I Tangerang Victor Teguh Prihartono
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

Lapas Kelas 1 Tangerang hampir berumur setengah abad. Dibangun pada 1972, lapas ini diresmikan pada 6 Desember 1982. Sekarang, lapas dengan luas tanah sekitar 5 hektare ini memiliki tujuh blok, Blok A sampai Blok G. Setiap blok memiliki tiga paviliun. Paviliun C2 terdiri atas 19 kamar sel dan satu aula. Setiap kamar berisi dua sampai lima orang. Sisanya berada di aula.

Kamar-kamar tersebut tidak pernah dikunci. Tujuannya, agar para napi di aula bisa dengan mudah menggunakan kamar mandi. Sebab, kamar mandi hanya ada di dalam kamar. Namun ada narapidana di dalam kamar yang membuat kunci kamar sendiri dengan menggunakan kawat agar tidak dimasuki narapidana lain.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai lapas tersebut tidak manusiawi. Selain karena bangunan yang sudah tua, komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan, hunian di lapas tersebut sudah melampaui kapasitas. Menurutnya, kelebihan kapasitas inilah yang membuat peristiwa tersebut memakan banyak korban. “Bayangkan, di bangunan sekecil itu, isinya banyak sekali orang. Masa mau dibilang manusiawi?” kata Anam kepada detikX pekan lalu.

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menduga Paviliun C2 Lapas Kelas 1 Tangerang terbakar karena korsleting listrik. Menkumham Yasonna Laoly mengakui, memang, sejak awal berdiri, lapas ini tidak pernah mendapat perbaikan berkaitan dengan instalasi listrik. “Sejak itu kita tidak memperbaiki instalasi listrik,” kata Yasonna setelah mengecek lokasi kebakaran, Rabu, 8 September 2021.

Dua sumber detikX yang pernah menghuni lapas itu mengatakan para narapidana memang kerap mengakali listrik sendiri. Para napi membuat sambungan listrik yang bersumber dari colokan kipas angin di dalam kamar. Tujuannya agar para napi bisa men-charge telepon seluler secara bersama-sama.

Salah satu sumber menceritakan, dulu, dia pernah mengalami kondisi ketika listrik mengalami korsleting. Namun itu tidak menyebabkan kebakaran. Hanya, listrik menjadi padam. “Orang di dalam pada kreatif,” kata sumber ini. “Banyak yang mengerti listrik.”

Kepala Lapas Kelas 1 Tangerang Victor Teguh Prihartono mengakui memang banyak narapidana yang membuat sambungan listrik sendiri. Namun petugas lapas melakukan pengawasan secara rutin. Jika ditemukan hal-hal seperti ini, Victor mengklaim, petugas akan langsung bertindak.

“Para narapidana itu menyambungkan listrik sendiri. Bikinnya malam-malam, kemudian ditutup pakai semen supaya tidak terlihat,” kata Victor.

Begitu juga dengan penggunaan barang-barang terlarang di dalam lapas, salah satunya ponsel. Victor mencurigai penggunaan ponsel di dalam lapas bisa terjadi karena ada oknum petugas yang bermain. Selain itu, mungkin karena adanya penyelundupan barang dari pengunjung lapas.

“Mungkin masuknya dari pengunjung yang lupa digeledah,” kata Victor. “Kalau ketahuan, akan ditindak, tetapi kita berhati-hati jangan sampai penindakan justru mendapat resistensi dan menjadi masalah baru.”

Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya telah menggelar olah tempat kejadian perkara kebakaran di Paviliun C2. Polisi mengusut dugaan adanya kelalaian atau kesengajaan yang mengakibatkan peristiwa kebakaran tersebut. Dari hasil olah TKP, polisi menyimpulkan, api yang membakar bangunan tua itu berasal dari satu titik di balik plafon berbahan tripleks. Tripleks tersebut mudah terbakar.

“Dari hasil olah TKP disimpulkan titik apinya satu. Titik api bersumber di satu titik,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat seusai kejadian. “Hasil temuan sementara belum dapat dipastikan. Namun diduga akibat hubungan pendek arus listrik.”

Hubungan pendek arus listrik atau short circuit listrik adalah penyebab korsleting. Dalam hubungan pendek arus listrik, nilai arus listrik yang mengalir tidak sesuai dengan nilai hambatan, sehingga mengakibatkan lonjakan arus listrik yang besar. Lonjakan arus listrik itu dapat memunculkan percikan api, bahkan ledakan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus menyebut titik api yang dimaksud itu berasal dari kamar Nomor 4. Namun hal ini masih perlu dibuktikan dengan pengujian laboratorium. “Nanti yang berhak menyampaikan dari mana asalnya, apa penyebabnya, adalah ahlinya. Dalam hal ini dari Pusat Laboratorium Forensik,” kata Yusri, Senin, 13 September 2021.

Sampai saat ini, polisi sudah memeriksa 34 saksi. Mereka adalah pegawai lapas, narapidana, pemadam kebakaran, petugas PLN, dan warga sekitar lokasi. Senin, 20 September 2021, Polda Metro Jaya menetapkan tiga orang petugas pengamanan yang berjaga pada malam itu sebagai tersangka. Mereka berinisial RU, S, dan Y.

Pintu jeruji menuju Blok C di Lapas Kelas 1 Tangerang
Foto: Istimewa

detikX mendapatkan data 41 korban yang meninggal dunia di lokasi saat kejadian. Kepala Lapas Victor Teguh Prihartono mengkonfirmasi data ini. Berdasarkan data tersebut, para korban meninggal itu menghuni berbagai kamar, tetapi lebih banyak yang menghuni aula. Yang jelas, mereka tidak ada yang berasal dari kamar Nomor 4.

Tubagus menolak memberi penjelasan mengenai hal ini. Kepada detikX, dia mengatakan polisi masih terus mendalami peristiwa kebakaran tersebut. “Kita masih bekerja. Nanti saya sampaikan pada saat rilis biar tidak sepotong-sepotong,” kata dia.

Sementara itu, Victor Teguh tidak bisa menjelaskan mengenai tidak adanya korban dari kamar Nomor 4. Victor hanya menilai keberuntungan ada pada penghuni kamar tersebut. “Mungkin mereka masih diberi kesempatan untuk hidup,” kata dia.

Yang jelas, Victor menegaskan, dirinya bertanggung jawab atas peristiwa kebakaran di Paviliun C2 Lapas Kelas 1 Tangerang. Sebab, peristiwa itu telah memakan banyak korban jiwa. Namun, dia meminta semua pihak menunggu selesainya proses hukum. “Siapa yang bertanggung jawab secara hukum? Kita tunggu hasilnya.”


Reporter: May Rahmadi, RaniRahayu, Fajar Yusuf
Penulis: May Rahmadi
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE