INVESTIGASI

Petaka di Pantai Matras

Kehadiran kapal isap pasir milik mitra PT Timah membuat penghasilan nelayan Pantai Matras, Bangka, menurun drastis. Karamnya kapal Mega Fajar dan tibanya angin tenggara memperparah kondisi.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 28 April 2021

Angin barat berembus kencang pada Sabtu, 2 Januari 2021. Gulita menyergap perairan di sepanjang Pantai Matras-Pesaren, Sungailiat, Bangka, malam itu. Dari kejauhan terlihat samar-samar nyala kecil bergerak tidak beraturan. Perlahan sinarnya semakin dekat ke bibir pantai.

Anggi alias Acoy, nelayan Pantai Matras, mengamati sinar yang perlahan menampilkan sisi geladak kapal berwarna oranye itu terombang-ambing oleh arus ombak. Ketika cahaya semakin dekat, Anggi berlari menuju bedeng kayu tempat singgah para nelayan Pantai Matras. Abdul Roni, seorang aktivis lingkungan hidup Bangka Belitung, tengah menginap di bedeng malam itu.

“Ron, ada kapal mau nabrak talut (tumpukan bebatuan pemecah ombak),” pekik Acoy membangunkan Roni, yang tengah tertidur, dan beberapa kawan nelayan lainnya.

Penampakan KMP Mega Fajar yang terdampar di Pantai Matras
Foto: Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

Malam itu, ombak setinggi 1,5-2 meter menghempaskan kapal isap pasir (KIP) milik mitra PT Timah (Persero) Tbk ke pesisir Pantai Matras, Sungailiat, Bangka. Sekitar pukul 02.15 WIB, kapal bernama Mega Fajar itu menghantam talut yang berada persis di pelabuhan tambat nelayan Pantai Matras.

Pertanyaan ini jugalah yang disampaikan nelayan kemarin yang nggak bisa kita jawab. Kalau dari perusahaan yang nye-scrap (memotong) itu, paling lama 2 bulan. Paling cepat 1 bulan. Tapi (itu) kalau pencabutan akta grosse sudah dibuat.”

Beberapa kali Mega Fajar mencoba kembali ke tempat beroperasinya pada jarak 1 mil dari bibir pantai. Tetapi kencangnya angin dan tingginya ombak lagi-lagi menghempaskan kapal itu ke pesisir pantai sampai akhirnya kandas di talut.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Pesisir Matras, Yaman alias Blek, menyesalkan peristiwa itu. Pasalnya, Mega Fajar terdampar persis di depan pelabuhan tambat nelayan Matras. Badan kapal itu menghalangi jalur tangkap 11 kapal nelayan Pantai Matras. Persis di bawah haluan kapal, 22 jaring nelayan tertindih dan tidak dapat diambil lagi.

Para nelayan, kata Blek, sudah melakukan audiensi dengan PT Timah untuk meminta ganti rugi. Tapi beberapa kali audiensi itu menemui jalan buntu. Baru pada Sabtu, 23 Januari 2021, kedua belah pihak menyepakati sebuah surat perjanjian. Pihak mitra PT Timah bersedia mengganti rugi atas tidak dapat melautnya 11 kapal nelayan dengan nilai nominal Rp 500 ribu per hari. Total ganti rugi Rp 77 juta dengan batas waktu pembayaran pada 31 Januari 2021.

“Apabila KIP Mega Fajar pada tanggal 1 Februari 2021 belum bisa diangkat, otomatis akan dihitung dari awal, yakni Rp 500 ribu per hari per perahu, total 11 kapal,” tulis surat perjanjian yang ditandatangani Blek dan Kabid Pengawas KIP PT Timah Tbk, Ronanta, serta disaksikan oleh Wakil Danlanal Fajar Hasta.

Namun perjanjian itu tidak diindahkan oleh PT Timah. Dari total yang disepakati, PT Timah dan mitranya baru membayar Rp 38,5 juta atau setengah dari kesepakatan. Ronanta sempat datang kembali ke Pantai Matras pada 27 Januari dan menyatakan ketidaksanggupan PT Timah dan mitranya untuk mengevakuasi Mega Fajar pada tanggal yang ditentukan. “Ini kan wanprestasi,” kata Roni. “Mereka melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati sendiri.”

Ronanta berkilah mereka juga ingin mengangkat kapal itu secepatnya. Masalahnya, kapal saat ini sudah dalam kondisi rusak parah. Tidak mungkin menarik kapal itu melalui laut. Cara satu-satunya adalah memotong-motong setiap bagian kapal dan membawanya melalui jalur darat. Tetapi itu pun butuh waktu sekitar dua bulan.

Perahu-perahu nelayan di Pantai Matras
Foto: Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

Untuk melakukan pemotongan, dibutuhkan izin grosse akta kapal dari Dirjen Perhubungan Laut di Jakarta. Menurut Ronanta, pengajuan grosse akta kapal itu telah disetujui. Tinggal menunggu tanda tangan Dirjen Perhubungan Laut. Namun Ronanta tidak bisa menjanjikan kapan kapal Mega Fajar bisa dievakuasi.

“Pertanyaan ini jugalah yang disampaikan nelayan kemarin yang nggak bisa kita jawab. Kalau dari perusahaan yang nye-scrap (memotong) itu, paling lama 2 bulan. Paling cepat 1 bulan. Tapi (itu) kalau pencabutan akta grosse sudah dibuat,” imbuh Ronanta kepada detikX pekan lalu.

Sampai Ronanta mengatakan itu, kapal Mega Fajar masih berada di Pantai Matras. Kondisinya sudah rusak parah. Pompong kiri kapal hancur sehingga memperlihatkan sisi dalam kapal. Pasir pantai memenuhi bagian dalam kapal seolah-olah kapal ini adalah terumbu karang. Tiang-tiang penyangga kapal telah reot dan berkarat tidak ubahnya barang rongsok di pengepul besi.

Sementara itu, musim angin tenggara pada akhir April atau awal Mei semakin dekat. Ketika tiba musim ini, angin kencang dan ombak besar bakal berembus dari sisi tenggara. Kapal-kapal nelayan yang saat ini tengah diungsikan di sisi barat pantai terancam rusak lantaran hempasan ombak dan angin kencang. Sebab, talut yang berada di sisi barat pantai memang hanya didesain untuk menahan hempasan angin barat. “Kami harus pindah ke pelabuhan tambat ini (persis di depan Mega Fajar),” ungkap Blek.

Kemarahan nelayan atas karamnya Mega Fajar sebetulnya hanya akumulasi dari konflik nelayan Pantai Matras dengan PT Timah. Jauh sebelum itu, nelayan-nelayan di pantai ini telah menolak keras adanya aktivitas tambang di perairan tempat mereka mencari nafkah. Terlebih izin tambang di perairan ini diduga keluar lantaran permainan rente antara mitra PT Timah dan oknum yang mengaku nelayan Pantai Matras.

Para oknum itu diiming-imingi sejumlah uang supaya mau menandatangani izin operasi sejumlah KIP milik mitra PT Timah. Sedangkan nelayan Pantai Matras yang betul-betul terdampak, kata Blek, tidak pernah menyetujui adanya operasi tambang timah di wilayah pantai mereka.

Cecep, nelayan yang terdampak oleh penambangan timah di laut Matras
Foto: Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

Cecep, seorang nelayan Pantai Matras yang sudah 10 tahun melaut, mengaku geram terhadap permainan ini. Pasalnya, semenjak hadirnya kapal-kapal isap di wilayah Pantai Matras, penghasilannya berkurang drastis. Sementara dulu dia bisa dengan mudah menjaring 70-80 kilogram ikan kiu dalam sehari, sekarang menghasilkan 10 kilogram pun sulit. Tidak jarang, kata Cecep, dia melaut tanpa hasil tangkapan sama sekali.“Dulu gampang nyari Rp 400-500 ribu. Sekarang sering kami nggak dapat tangkapan sama sekali,” terang Cecep kepada detikX.

Kehadiran aktivitas penambangan membuat perairan di Pantai Matras tercemar oleh sedimen bawah laut yang terangkat ke permukaan laut. Pencemaran itu, tambah Cecep, menyebabkan ikan-ikan yang berada dekat pesisir pantai kabur menjauh. Terlebih kapal-kapal ini beroperasi dari titik 0-2,5 mil dari bibir pantai. Sementara itu, kapal nelayan tradisional di Pantai Matras rata-rata hanya berukuran 8 meter. Dengan kapal kecil ini, nelayan kesulitan menerjang arus ombak untuk menjaring ikan di jarak lebih dari 2,5 mil.

detikX berkunjung ke Pantai Matras, pada Kamis, 8 April 2021, untuk melihat bagaimana kapal isap milik mitra PT Timah beroperasi. Dengan menumpang kapal nelayan, detikX berlayar mendekat ke lokasi kapal-kapal isap itu berada. Baru saja berlayar, tidak jauh dari pantai, terlihat beberapa titik riak air memecah gelombang laut. “Itu beting (pendangkalan),” kata Cecep. “Bahaya buat kapal nelayan yang berlayar malam hari.”

Pendangkalan disebabkan oleh terangkatnya sedimen bawah laut oleh aktivitas pengisapan pasir oleh KIP. Sedimen-sedimen itu pada akhirnya membuat gundukan di laut seperti gunung-gunung kecil. Satu di antaranya bahkan telah membuat pulau kecil seukuran 2 meter. Gundukan ini membahayakan kapal nelayan yang berlayar malam hari. Boleh jadi, jika tidak sangat berhati-hati, kapal mereka menabrak beting dan karam.

“Sudah semakin sulit, kita berangkat ke tengah atau pulangnya sangat berisiko. Ada pendangkalan air laut yang disebabkan limbah mereka. Kalaupun dapat hasil, risikonya tidak sebanding,” keluh Cecep.

Dari jarak sekitar 100 meter, detikX merekam aktivitas penambangan yang dilakukan kapal-kapal isap ini. Ada 11 kapal isap yang tengah beroperasi hari itu. Kapal-kapal ini bergerak memutar untuk mengisap pasir laut dan menyaring kandungan timah yang berada di dalamnya.

Aktivitas penambangan timah yang dilakukan kapal isap pasir milik mitra PT Timah di Bangka
Foto: Dok Detikcom

Jaraknya tidak sampai 1 mil dari bibir Pantai Matras. Suara deru mesin isap terdengar bising dari jarak sekitar 100 meter dari lokasi kapal. Kapal-kapal ini menyemburkan sedimen bawah laut berwarna cokelat ‘bajigur’ ke permukaan. “Keajaiban dunia,” kata Acoy sesaat setelah kami melintasi batas antara air laut berwarna biru yang berubah kecokelatan. “Air laut berubah warna.”

Roni kemudian menyambut pernyataan Acoy. Ini, kata Roni, baru terjadi di Pantai Matras. Wilayah IUP PT Timah mencapai luas 6.000 hektare dari Pantai Matras hingga Pesaren. Sebagian IUP ini juga masuk ke Pantai Tuing, Bangka, yang merupakan wilayah konservasi. Kawasan ini belum pernah tersentuh aktivitas tambang. Masih asri. “Kalau mereka nanti beroperasi sampai ke sana (Pantai Tuing), rusak sudah,” sesal Roni.

Dampaknya tidak hanya pada persoalan lingkungan, tapi juga ekonomi masyarakat. Menurut Roni, ada total 2.000 nelayan dari Pantai Matras-Pesaren yang bakal terdampak jika kapal-kapal ini tetap beroperasi. “Zona tangkapnya (nelayan-nelayan) itu 0-10 mil, sementara KIP ini beroperasi 0-2 mil,” pungkas Roni.


Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE