INVESTIGASI

Keringat dan Air Mata
di Ruang Isolasi

“APD terus dipasang kalau di zona merah. Kadang kalau pasiennya perlu tindakan kita empat jam pakai APD.”

Ilustrasi: Fuad Hashim

Selasa, 16 Februari 2021

Sudah 15 tahun Isman M Toha bekerja di Rumah Sakit Umum Pusat dr Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat. Selama itu pula dia bersentuhan dengan pasien yang terjangkit berbagai macam virus mematikan yang dirawat di Ruang Isolasi Khusus Kemuning (RIKK). Di ruangan khusus yang menangani kejadian luar biasa (KLB) itu, Isman banyak bersentuhan dengan pasien yang terpapar virus flu burung, flu babi dan kini, Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). “Saya sudah terbiasa menghadapi wabah tersebut dari zaman flu burung, flu babi. Itu sudah jadi keseharian. Sudah tidak ada perbedaan lagi. Protokol yang diterapkan juga sama," kata Isman kepada detikX, Senin, 15 Februari 2020.

Namun, wabah COVID-19 yang merebak di Indonesia sejak Maret 2020 lalu memberikan tantangan lebih berat ketimbang pendahulunya. Setiap hari, Isman melihat pasien yang terpapar corona terus berdatangan ke rumah sakit. Sementara, ruang perawatan di RIKK sangat terbatas. Ruangan itu sebelumnya berisi 99 ranjang dan telah ditambah menjadi 238 ranjang khusus untuk pasien COVID-19. Bila ada satu pasien corona yang sembuh, pindah, atau pulang, sudah ada pasien lainnya yang antre di luar untuk masuk. "Kewalahan ada. Apalagi kalau pasiennya mengalami perburukan, ekstra perhatiannya di RIKK, ruangan high care dan intensif, jadi lebih hectic (sibuk)," kata perawat tersebut.

Tenaga kesehatan, benteng pertahanan yang terlibat langsung menangani pasien COVID-19, harus menerapkan pola hidup bersih. Selain itu, mereka juga diwajibkan memakai alat pelindung diri (APD) berlapis-lapis. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak tetesan keringat dokter dan perawat dalam menangani pasien COVID-19 ini. Mereka harus bergiliran berjaga di ruang isolasi minimal dua jam agar tak kelelahan. “APD terus dipasang kalau di zona merah. Kadang kalau pasiennya perlu tindakan kita empat jam pakai APD,” ucap Isman.

Tak hanya keringat, para nakes juga harus meneteskan air mata ketika mengetahui ada teman sejawat maupun keluarga mereka yang terpapar COVID-19, bahkan sampai kehilangan nyawa. "Banyak lagi teman-teman tenaga kesehatan ada yang meninggal, perawat di ruang intensif juga ada yang meninggal karena COVID-19," kenang Isman.

Lain RSHS Bandung, lain pula Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Tangerang. Rumah Sakit tipe B dan yang terbaik se-Banten itu memiliki 1.400 nakes dan karyawan. Sejak terjadi pandemi COVID-19 hingga sekarang, tercatat ada 200-an nakes yang terpapar penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu. Namun, uniknya, penularan itu bukan dari pasien COVID-19.

Isman M Toha, salah satu tenaga medis COVID-19 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Hasan Sadikin Bandung
Foto : dok Pribadi

“Ya, nggak sekaligus semua. Tapi kita tracing, tidak ada satu pun dari nakes yang kena COVID-19 yang terpapar dari pasien, karena kita menerapkan APD secara ketat. Terpaparnya justru dari luar rumah sakit,” ujar Wakil Direktur bidang Pelayanan RSU Tangerang, Mohamad Rifki, yang ditemui detikX di rumah sakit itu, Jalan Ahmad Yani, Kota Tangerang, Banten, Senin, 15 Februari 2021.

Syukurnya, lanjut Rifki, sejauh ini belum ada dokter, perawat atau tenaga kesehatan lainnya di RSU Tangerang yang gugur karena COVID-19. Koordinator Instalasi Gawat Darurat RSU Tangerang, Muhammad Fiza, menambahkan untuk para nakes yang menangani pasien COVID-19, pihak rumah sakit membekali dengan APD level tiga yang super aman.

Fiza menuturkan, para nakes sempat kecolongan ketika menerima pasien di IGD di awal-awal pandemi. Misalnya ada pasien baru yang datang dan dites polymerase chain reaction sebanyak dua kali hasilnya negatif, tapi lalu ternyata positif dan terlanjur masuk IGD. Karena itu, RSU Tangerang membangun IGD baru untuk menyaring pasien COVID-19. “Setelah jelas statusnya, ada yang stay di IGD khusus COVID-19, dan ada yang masuk IGD steril atau non-COVID-19,” tutur Fiza.

Setelah ditangani di IGD, baru diputuskan apakah seorang pasien COVID-19 akan dirawat di ruang biasa atau intensif. Kedua ruangan itu sebenarnya sama-sama ruang isolasi. Ruang biasa untuk pasien COVID-19 yang bergejala ringan hingga sedang. Sementara ruang intensif diperuntukkan bagi pasien COVID-19 yang bergejala berat. “Nah, yang berat itu ICU COVID-19. Jangankan ICU COVID, itu bangsal-bangsal kita buka semua untuk menambah kapasitas bed. Jumlah itu tak pernah cukup dengan pasien yang datang. Artinya terjadi stagnasi di IGD. Penuh,” terang Fiza.

Sejak dua bulan lalu, pihaknya juga memberlakukan sistem buka-tutup. Artinya, ketika ruang IGD overload, maka sementara tak menerima pasien COVID-19. Pasien itu akan dirujuk ke sejumlah rumah sakit lainnya. Sedangkan untuk pasien non-COVID-19 masih diterima. Kapasitas ideal IGD yang hanya sembilan ranjang atau pasien, ditoleransi bisa menerima sampai 20 pasien. “Jadi kita berlakukan buka-tutup IGD. Ini baru pertama kali dalam sejarah di IGD kita. Sejak dua bulan lalu kita berlakukan,” jelas Fiza.

Potret tenaga kesehatan COVID-19
Foto : Rony Muharram/ANTARA Foto

Dalam tugasnya, Fiza membawahi sekitar 80 orang dokter dan perawat di ruang IGD. Dokter bertugas per 12 jam, sedangkan tugas perawat dibagi dalam tiga shift dalam sehari mulai pagi hingga sore. Dalam satu shift, ada 16 nakes yang bertugas, yaitu tiga dokter, 10 perawat, dan tiga pembantu orang sakit (POS). “Jadi total satu shift idealnya 16 orang, tapi kan dalam satu shift, biasalah, ada yang cuti, ada yang sakit, ada yang kena COVID-19, ada isman (isolasi mandiri). Jadi dijadwal 16 orang, di lapangan cuma 14-15 orang,” ia merinci.

Pengalaman yang menarik bagi Fiza selama bertugas menangani pasien COVID-19 adalah banyak menemukan kasus yang tadinya bukan COVID-19 namun akhirnya COVID-19. Secara keilmuan, gejala COVID-19 yang muncul adalah demam, batuk, sesak nafas, hilang indra penciuman dan diare. “Ada yang nggak kenapa-kenapa atau sakitnya beda, tiba-tiba jadi COVID-19. Contoh ada pasien korban kecelakaan bermotor, biasa cedera di kepala, ketika kita rapid antigen, kok reaktif, tes PCR ternyata positif COVID-19,” jelas Fiza keheranan.

Tak heran bila muncul anggapan di sebagian besar masyarakat bahwa ada pasien sengaja “di-COVID-kan” oleh rumah sakit. Padahal, virus itu memang menginfeksi, tapi gejalanya belum muncul. Oleh karena itu, butuh upaya yang lebih guna menjelaskan kepada masyarakat akan hal tersebut. “Nah, ada yang ngerti dan banyak juga yang nggak ngerti,” tandas Fiza.

Di masa pandemi, Fiza pernah tak pulang sampai berminggu-minggu, karena khawatir keluarganya akan tertular corona. Ia melakukan isolasi mandiri di tempat lain. Apalagi di awal-awal virus ini muncul berbagai metode pengetesan masih sangat minim. “Jadi frekuensi ketemu keluarga, istri dan anak bisa seminggu ngilang. Sekarang perkembangan ada antigen, swab, semua barang yang di RS nggak dibawa ke rumah, bahkan mobil saya cuci dulu,” katanya.

Nakes yang menangani langsung pasien COVID-19 di RSU Tangerang menerima dana insentif hingga bulan Agustus 2020. Insentif itu belum diterima lagi hingga sekarang. Nilai insentif berbeda antara dokter umum, dokter spesialis, dan perawat sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2539/2020. Tapi dana yang didapat itu dikumpulkan untuk dibagi lagi kepada nakes lainnya yang sebenarnya punya andil dalam penanganan COVID-19, tapi tak masuk kategori penerima dana insentif.

dr Muhammad Fiza (Foto M Rizal/detikX).

dr Mohamad Fikri (Foto: M Rizal/detikX).

“Kayak petugas kamar jenazah. Ada pasien COVID-19 meninggal, dia pakai APD level tiga menjemput jenazah, proses memandikan dan proses pelepasan. Lalu tenaga farmasi yang juga mengedukasi dan menyediakan obat. Lalu ada POS yang mengantarkan orang sakit. Jadi ada beberapa yang memang akhirnya kita siasati di lapangan agar merasakan,” tutur Fiza sembari menambahkan sejak September 2020 hingga Januari 2021 belum menerima dana insentif lagi.

Rifki menambahkan dana insentif adalah bonus sebagai bentuk penyemangat. Tentunya berbeda dengan gaji atau honor yang bersifat wajib dan hak karyawan yang pemberiannya tak boleh ditunda-tunda. Tapi karena pemerintah sendiri yang mengumumkan kepada masyarakat, justru hal itu menjadi tanda tanya bagi nakes dan keluarganya. Walau sebenarnya harapan insentif akan keluar tapi butuh birokrasi yang panjang.

“Saya kira pasti itu akan keluar, ini soal masalah waktu, saya harap sih kejelasan waktu itu pemerintah bisa memberikan kejelasan kepada kita, kapan? Lain soal kalau memang insentif itu dari awal nggak ada gitu. Kan ada atau nggak ada insentif bukan hak kita. Kita sih kerja ya kerja saja jalan terus,” jelas Fikri.

Sedangkan Isman enggan dimintai komentar seputar dana insentif. Menurutnya, selama ini nakes selalu berjuang sebaik mungkin sebagai garda terdepan. "Itu apresiasi dari pemerintah pusat, bukan soal ada atau tidak insentif, pelayanan akan tetap berjalan di RIKK," pungkasnya.


Reporter: M Rizal Maslan, Yudha Maulana (Bandung)
Penulis: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE