INVESTIGASI

Penyelundupan Pemudik

"Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung"

Kami bertanya kepada oknum yang mengantar pemudik di masa pandemi. Tarif ke Tegal dipatok Rp 500 ribu. Tak berani beroperasi setelah 7 Mei 2020.

Foto: Penyekatan pemudik di Tol Jakarta-Cikampek (Fakhri Hermansyah/ANTARA Foto

Sabtu, 02 Mei 2020

Dua mobil travel akhirnya tidak bisa berkutik ketika polisi dari jajaran Polda Metro Jaya dan Bekasi menyetopnya di Pospam Kedung Waringin, Bekasi, Rabu, 29 April 2020, sekitar pukul 22.30 WIB. Kedua mobil yang mengangkut total delapan penumpang tersebut kedapatan membawa pemudik yang hendak pulang kampung ke Jawa. Meski mudik telah dilarang di tengah pandemi virus corona, mereka nekad menyelundupkan pemudik ke kampung halaman.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo, mengatakan, dua sopir travel itu sedang diperiksa di Polda Metro Jaya. Sebelumnya mereka menawarkan jasa dapat mengantarkan pemudik melalui media sosial Facebook. "Tadi malam Ditlantas Polda Metro Jaya dibantu oleh jajaran Polres Bekasi berhasil amankan dua buah kendaraan travel yang mereka beriklan melalui Facebook 'dapat mengantarkan pemudik' ke daerah Jawa Tengah," kata Sambodo di Gedung Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis, 30 April 2020.

Penyekatan merupakan salah satu cara membatasi pemudik, namun sebagian masih nekad mudik.
Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA Foto 

Menurut Sambodo, travel gelap tersebut menawarkan jasa mengantarkan pemudik dari Jakarta dengan tujuan ke Jawa Tengah. Satu orang penumpang dipatok tarif hingga Rp 500 ribu untuk sampai ke depan pintu rumah pemudik. Selain pelanggaran larangan mudik, para sopir travel itu juga dikenakan sanksi sesuai pasal 308 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009, yaitu orang yang tidak memiliki izin layak untuk mengangkut penumpang. Sebab, plat nomor kendaraan mereka berwarna hitam.

Sebagai yang setiap hari di jalan ya, semua travel kalau setelah tanggal 7 (Mei) itu semuanya nggak berani, cuma ya ntar lihat situasi dan kondisi dulu.'

Jasa mengantar pemudik di musim pandemi melalui medsos memang marak sejak pemerintah melarang mudik pada 24 April 2020. Mereka tak ragu-ragu menawarkan jasa tersebut lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi. Bahkan, ada sopir travel yang terang-terangan berpromosi mampu menembus blokade penjagaan yang dilakukan polisi dan dinas perhubungan hingga pemudik dapat tiba di kampung halaman dengan ‘aman’ dan ‘nyaman’. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,” kata seorang penyedia jasa travel di medsos.

detikX pun sempat mencoba menghubungi salah satu oknum penawar jasa mudik di medsos pada Rabu, 29 April 2019. Oknum tersebut mengaku bisa mengantarkan pemudik ke Tegal, Jawa Tengah, dengan tarif Rp 400 ribu bila menggunakan mobil Isuzu Elf, dan Rp 500 ribu dengan mobil yang lebih besar, Toyota Hiace. Ia juga mengirim foto kendaraan berwarna putih yang sudah disiapkan untuk mengangkut penumpang. Di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta dan berbagai daerah, kapasitas penumpang pun dibatasi. “Karena ada PSBB, mobil isinya 50%, bos," katanya.

Bus yang kedapatan hendak membawa enam penumpang ke Semarang
Foto: Dok Ditlantas Polda Metro Jaya

Sopir itu yakin mampu mengantarkan pemudik sampai ke kampung halaman bila mengambil jadwal pemberangkatan sebelum 7 Mei 2020 dari wilayah sekitar Jakarta. Apabila baru berangkat pada tanggal 7 Mei atau setelahnya, ia masih ragu-ragu apakah dapat lolos penjagaan atau tidak. Seperti diketahui, tanggal 7 Mei mendatang pemerintah mulai menerapkan sanksi bagi siapa pun yang mudik di masa pencegahan virus corona.

“Makanya saya saranin sebelum tanggal 7 (Mei) kalau bisa, terakhir tanggal 6 (Mei). Itu ya saran saya ya bos, kalau mau dipakai ya monggo, kalau nggak itu hak sampeyan, ya. Sebagai yang setiap hari di jalan ya, semua travel kalau setelah tanggal 7 (Mei) itu semuanya nggak berani, cuma ya ntar lihat situasi dan kondisi dulu," katanya saat dihubungi via aplikasi percakapan WhatsApp. Hingga Sabtu, 2 Mei 2020, jasa antar pemudik itu bisa dibuka.

Selain menggunakan mobil travel, penyelundupan pemudik juga dilakukan dengan berbagai cara. Pada Rabu, 29 April malam itu juga, polisi di Pospam Kedung Waringin mengamankan satu unit bus yang hendak membawa enam pemudik ke Semarang, Jawa Tengah. Untuk mengelabui petugas, penumpang bersembunyi dan merebahkan tempat duduknya. Ketika ditanya, sang sopir yang bernama Parjo mengaku tidak membawa pemudik. Namun, setelah memeriksa ke dalam bus, petugas menemukan enam orang pemudik bersembunyi di balik bangku penumpang. Bus itu lantas diperintahkan untuk putar balik menuju Jakarta.

Pada Jumat 1 Mei 2020 siang, polisi menghentikan sebuah truk di Gerbang Tol Cikarang Barat. Polisi menaruh curiga dengan muatan truk yang berangkat dari Pasar Cibitung, Kabupaten Bekasi, itu. Benar saja, truk yang hendak kembali ke Brebes, Jawa Tengah, itu mengangkut enam pemudik. Mereka bersembunyi di bak truk. Kasi Dikmas Dirlantas Polda Metro Jaya, Kompol Joko Sutriono mengatakan sang supir menerima bayaran Rp 100 ribu dari seluruh penumpang. “Mengganti bensin, mengganti solar, gitu," kata Joko.

Polisi saat mengamankan pemudik di Cilegon
Foto : Istimewa

Modus yang hampir sama dilakukan oleh seorang sopir mobil pikap yang hendak menyelundupkan pemudik di Cilegon, Banten. Mobil itu mengangkut kerupuk, namun polisi curiga karena muatannya seperti berlebihan. Benar saja, di dalam mobil pikap tersebut terdapat seorang perempuan dan laki-laki. Mereka mengaku berasal dari Semarang dan hendak mudik ke Bengkulu. “Kita nggak menyelidiki lebih lanjut dan kita suruh putar balik,” kata Kapolsek Pulomerak AKP Rifki Seftirian.

Kementerian Perhubungan meminta agar para pemudik menaati aturan larangan mudik pemerintah. Tindakan tegas akan diberlakukan kepada pemudik yang tetap ingin pulang ke kampung halaman, termasuk bagi pada agen travel nakal. "Kita apresiasi sekali kepada kepolisian. Kan mereka yang bertugas di lapangan untuk melakukan pengawasan dan penindakan. Dan kita juga berharap penegakan hukum seperti itu harus terus dilakukan dengan tegas," ujar juru bicara Kemenhub Adita Irawati.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE