Tnyafar Kearifan Lokal Masyarakat Tanimbar
Tnyafar, Kearifan Lokal
Masyarakat Tanimbar
Ada hal yang menarik dari masyarakat di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Namanya ‘Tnyafar’? Tradisi unik ini dilakukan oleh warga Desa Adaut sejak zaman nenek moyang dan menjadi salah satu cara bertahan hidup khas masyarakat setempat.
Indonesia kaya akan suku, adat, budaya dan beragam kearifan lokalnya. Ini salah satu yang berasal dari kepulauan di timur Indonesia. Kearifan lokal jadi entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang diketahui sebagai perilaku sosial masyarakat lokal dalam berinteraksi dan berinterelasi di kehidupannya.
Tnyafar dalam bahasa Yamdena berarti rumah kebun. Tujuan dibentuknya Tnyafar adalah untuk menjalankan aktivitas perkebunan dan usaha kelautan. Mereka meninggalkan rumah tinggalnya untuk secara sederhana hidup di Tnyafar tanpa adanya listrik digubuk pinggir pantai sambil membudidaya rumput laut.
Pemandangan gubuk kayu dengan atap daun kelapa berbaris rapi di sepanjang pesisir pantai. Hampir setiap rumah memiliki tempat pengeringan rumput laut karena mayoritas warga di sana merupakan petani rumput laut atau yang biasa dikenal dengan agar-agar. Tak sedikit juga yang tetap berkebun di darat menanam ubi, singkong, dan tanaman yang bisa tumbuh di sana.
Secara sosiologis, Tnyafar merupakan satuan organisasi sosial yang terdiri dari beberapa keluarga dan lebih bercorak sosio-ekonomi. Dikatakan satuan organisasi sosial karena ada sistem pengorganisasian komunitas di Tnyafar yang diselenggarakan secara bersama melalui koordinasi ketua, sekretaris, bendahara, dan dilantik oleh kepala desa.
Tnyafar terpisah dari desa induk atau terkonsentrasi di dusun-dusun atau pulau-pulau yang terpisah dari desa induk. Biasanya masyarakat/keluarga yang terlibat dalam Tnyafar tinggal dalam jangka panjang, yakni seminggu sekali mereka kembali ke desa pada sabtu dan minggu untuk beribadah di Gereja.
Saat masa panen, mereka menjual hasil-hasilnya ke pasar di desa atau pasar di pusat kabupaten. Mereka menggunakan metode tali bentang untuk membudidayakan komoditas yang mereka sebut agar-agar ini. Bermodalkan tali sepanjang kurang lebih 25 meter, mereka mengikatkan bibit rumput laut induk dan anakan lalu melepasnya ke perairan.
Masing-masing petani telah memiliki area kavling yang ditentukan bersama oleh warga Tnyafar. Adapun masa tanam bibit rumput laut ini berkisar 1,5-2 bulan. Selama periode tersebut, petani harus sesekali membersihkan kotoran yang menempel di tali rumput laut agar kualitasnya tetap terjaga.
Setelah masa tanam usai, para petani akan menarik tali tersebut dan mengumpulkan hasil panen dalam keranjang-keranjang besar. Rumput laut yang sudah dilepas dari tali lalu dikeringkan selama 2-3 hari di bawah sinar matahari untuk kemudian dibawa agen yang akan menjualnya ke kota/kabupaten. Harga rumput laut dipetani berkisar Rp 27 ribu perkiloram. Sekali panen rata-rata warga bisa mendapatkan beberapa ton.
Tua, Muda dan anak-anak pun menikmati suasana Tnyafar.
Tinggal dan menetap di pesisir pantai.
Kondisi ruangan dapur.
Panen rumput laut atau Agar-agar.



