INTERMESO

Kisah dr Soetomo-Sukarno Berguru ke Eyang Santri

Eyang Santri Girijaya atau KPH Djojokusumo kerap didatangi sejumlah tokoh pergerakan. Ia juga disebut menyumbang dana untuk acara Sumpah Pemuda pada 1928.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 24 Juni 2022

Setelah melanglang buana untuk menghindari kejaran pasukan Belanda pasca-Perang Jawa (1825-1830), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Djojokusumo memutuskan menetap di Desa Girijaya, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1896. Di kaki Gunung Salak itu, pendukung tokoh perang Jawa Pangeran Diponegoro ini menjadi seorang pemuka agama dengan nama Kiai Muhammad Santri atau Eyang Santri Girijaya.

Trah Keraton Mangkunegaran, Solo, tersebut tidak hanya menjadi guru bagi masyarakat yang ingin memperdalam agama Islam. Eyang Santri juga menjadi rujukan bagi banyak tokoh pergerakan nasional. Mereka datang ke Kaki Gunung Salak untuk berdiskusi dan meminta nasihat Eyang Santri dalam upayanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Cucu Eyang Santri, Raden Ayu (RA) Ahdiyati Samita (71 tahun), membenarkan kakeknya dulu sering didatangi oleh para tokoh pergerakan nasional. Setelah Perang Diponegoro berakhir, sang kakek memang mengubah siasat dalam perjuangannya. Ia kini menghimpun sejumlah orang pandai untuk memerdekakan Indonesia. “Semua datang berguru ke Eyang Santri dan data autentiknya ada semua,” kata perempuan yang akrab disapa dengan panggilan Hajah Tito itu kepada detikX di Girijaya, Selasa, 21 Juni 2022.

Jalan menuju pemakaman Eyang Santri di Girijaya, Cidahu, Sukabumi
Foto: M Rizal/detikcom

Di dalam buku Marilah Kehutan karya R Supardi, yang diterbitkan Balai Pustaka (1962), disebutkan, menuju Girijaya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 bukanlah  perkara mudah. Desa itu adalah tempat tertinggi di lereng bagian tenggara Gunung Salak. Pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak di tengah hutan. Juga harus melewati perkebunan teh yang luas.

Di antara mereka yang datang ke Eyang Santri adalah pelajar dari School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta, Middelbare Landbouwschool (MLS), dan Nederlandsch Indische Veeartsen School (NIVAS) di Bogor. Termasuk dr Soetomo, pelajar STOVIA yang kemudian menjadi pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Hal tersebut juga dikisahkan dalam buku Kenang-Kenangan Dokter Soetomo yang ditulis Paul W van der Veur pada 1921 dan diterbitkan pada 1984.

Menurut Hajah Tito, dr Soetomo berguru kepada kakeknya sebelum lulus dan mendapatkan gelar dokter. Dr Soetomo sempat akan mendeklarasikan organisasi Kebangkitan Bangsa, tapi dicegah oleh Eyang Santri. Pencari dana untuk Diponegoro dalam Perang Jawa itu ingin agar dr Soetomo merampungkan studinya terlebih dulu. dr Soetomo akhirnya mendeklarasikan Budi Utomo pada 1908.

Selain dr Soetomo, tokoh-tokoh yang sempat berguru kepada Eyang Santri, menurut Hajah Tito, adalah dr Wahidin Sudirohusodo, Cipto Mangunkusumo, Sosro Kartono (kakak kandung RA Kartini), dan HOS Cokroaminoto. Di saat berkunjung ke Girijaya, Cokroaminoto sering mengajak murid kesayangannya, Sukarno. Saat itu Sukarno masih duduk di Hogere Burgerschool (HBS) di Surabaya.

“Itu ada cerita nggak tertulis. Pak Karno naik tangkal (pohon) nangka. Karagragan (kejatuhan) nangka Eyang Santri sama Pak Karno. Mangkat...! Pergi kamu…! Kamu nanti pulang harus jadi presiden. Eyang marah karena ketimpa nangka kepalanya. Itu dongengnya orang sini,” tutur Hajah Tito.

KPH Djojokusumo atau Kiai Muhammad Santri
Foto: Repro 

Selain Sukarno, yang datang juga tokoh Abdul Gaffar Pringgodigdo, anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Rumah Eyang Santri sempat dijadikan tempat pertemuan anggota-anggota BPUPKI. “Setelah Indonesia merdeka, Sukarno menjadi Presiden RI pertama, dan Pringgodigdo menjadi Sekretaris Presiden pertama Sukarno,” imbuhnya.

Sebenarnya ada tokoh lain yang menjadi murid Eyang Santri, yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Di kemudian hari, Kartosuwiryo memilih melakukan pemberontakan dengan membentuk Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan berseberangan dengan Sukarno.

Eyang Santri juga disebut memiliki peranan penting dalam lahirnya Sumpah Pemuda. Ia disebutkan menyumbangkan uangnya untuk penyelenggaraan Sumpah Pemuda pada 1928 tersebut. Menurut keterangan secara lisan dari ayahnya, Raden Mas Saparman Joyokusumo, Hajah Tito mengetahui bahwa kakeknya itu menyumbang uang sebesar 1.000 gulden untuk penyelenggaraan Sumpah Pemuda. “Kata ayahku, Eyang Santri menyumbang 1.000 gulden kepada Sumpah Pemuda dari total biaya 1.500 gulden melalui Muhammad Yamin,” ungkap Hajah Tito.

Uang sumbangan itu berasal dari hasil kebun teh seluas 60 hektare di Girijaya. Saat itu hasil teh di kawasan Cidahu hingga Parakansalak merupakan teh terbaik di dunia. Teh berkualitas tinggi yang mengalahkan teh China itu diekspor ke Eropa dengan harga tinggi. Tak mengherankan jika saat itu bisa dikatakan Eyang Santri merupakan orang kaya di kawasan tersebut.

“Ayahku dulu lulusan OSVIA, sekarang, mah, mungkin lulusan APDN. Kerja di Karesidenan Bogor, digaji 75 gulden sebulan. Sama bapaknya (Eyang Santri) dikasih uang saku 350 gulden, ya jadi ogah kerjalah,” ucap Hajah Tito tertawa.

Menariknya, Eyang Santri juga didatangi oleh orang-orang Belanda yang meminta saran bagaimana harus menyikapi munculnya pergerakan kaum muda di Hindia Belanda. Mereka tidak tahu bahwa Eyang Santri dulu merupakan tokoh yang dicari-cari oleh Belanda pada Perang Jawa.

Sukarno
Foto: Getty Images

Dua di antaranya orang Belanda yang menyambangi Eyang Santri itu adalah D van Hinloopen Labberton, seorang guru bahasa Jawa di sekolah controleur dan teosofis Ign Meyl. Dalam kesaksian dr Soetomo, kedua orang itu harus menanggalkan sepatu dan celananya untuk kemudian berganti memakai sarung.

Selain tokoh pergerakan, Eyang Santri sempat kedatangan tamu seorang filsuf dan pujangga besar asal India, Rabindranath Tagore. “Itu pujangga India datang ke sini, kata Ibu Surtinah, istri pertama bapak saya, yang cerita masih ketemu Rabindranath Tagore,” jelas Hajah Tito.

Saat ini Hajah Tito bersama kerabat Mangkunegaran tengah mengumpulkan data autentik lainnya untuk diteliti tentang peran Eyang Santri agar bisa diajukan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah. “Menunggu Mangkunegara X, kalau sudah di-acc, tinggal diajukan, karena Presiden Joko Widodo akan percaya sama Raja,” pungkasnya.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE