INTERMESO

Wuhan,
Long Time No See

Lockdown di Kota Wuhan dicabut. Ada kegembiraan, tapi sebagian merasakan trauma baru saja dimulai.

Kebijakan lockdown di kawasan Wuhan berakhir pada 8 April 2020. Area transportasi, seperti stasiun hingga bandara, di wilayah itu pun kembali ramai oleh penumpang.
Foto: Ng Han Guan/AP

Kamis, 9 April 2020

Stasiun kereta Wuchang, Wuhan, Provinsi Hubei, China, telah dipenuhi calon penumpang pada Rabu, 8 April 2020, pagi. Ribuan orang mengantre untuk pergi ke kota-kota lain di China. Orang-orang itu bergembira pada akhirnya diperbolehkan pergi meninggalkan Wuhan.

“Wuhan telah banyak kehilangan akibat wabah (virus Corona) ini. Sekarang penguncian kota (lockdown) sudah dicabut. Saya pikir semua orang senang,” kata seorang pria bermarga Yao seperti dikutip channelnewsasia. Pria berusia 21 tahun itu sudah tak sabar kembali ke Shanghai, tempatnya mengadu nasib sebagai karyawan restoran.

Li Xiaoli dalam beberapa hari terakhir juga telah kembali masuk kerja di sebuah dealer mobil di Wuhan. Perusahaannya telah buka kembali setelah ditutup sekian lama akibat lockdown. Warga Kota Wuhan itu pun harus memastikan cairan pembersih tangan dan alat pelindung diri lainnya tersedia di kantor perusahaannya.

Ribuan orang terinfeksi virus Corona di Wuhan, China. Berbulan-bulan berjibaku melawan COVID-19, Wuhan bangkit dan melaporkan tak ada kasus baru virus Corona.
Foto: dok. AP

Pada Rabu, 8 April 2020, pukul 00.00 waktu setempat, pemerintah China mencabut penerapan lockdown di Wuhan, kota yang menjadi titik nol penyebaran virus Corona (Coronavirus Disease-2019/COVID-19). Sebanyak 11 juta penduduk sebelumnya dikunci pergerakannya di Wuhan sejak 23 Januari 2020 atau selama 76 hari.

Meskipun epidemi telah berakhir, untuk beberapa kelompok orang, trauma mungkin baru saja dimulai."

Pembukaan lockdown itu dilakukan setelah tidak ditemukan lagi transmisi lokal virus yang menyerang saluran pernapasan itu dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Komisi Kesehatan Nasional China, terdapat lebih dari 50 ribu kasus COVID-19 di kota industri di tepi Sungai Yangtze tersebut. Lebih dari 2.500 berujung kematian. Di seluruh China, virus itu telah menginfeksi lebih dari 81 ribu orang.

CNN melaporkan, selama dua bulan, transportasi umum di Wuhan ditangguhkan. Bisnis ditutup. Jutaan penduduk dipaksa tinggal di rumah. Bahkan mereka tak diizinkan pergi belanja makanan. Namun langkah-langkah ini tampaknya berhasil. Pada pertengahan Maret, jumlah infeksi baru di Wuhan melambat. Presiden China Xi Jinping mengunjungi Wuhan pada 10 Maret 2020 dan memuji warganya sebagai orang-orang heroik.

China telah membuka lockdown karena tidak ada kasus virus Corona yang baru di negaranya. Sejumlah pasar di Wuhan pun kembali beroperasi.
Foto: Olivia Zhang/AP

Lalu, selama dua minggu terakhir, penduduk Wuhan dengan kode QR hijau di ponselnya telah diperbolehkan kembali ke tempat kerja. Kode itu berarti mereka dinyatakan sehat dan aman untuk bepergian. Satu orang per satu rumah tangga dengan kode tersebut pun boleh pergi dengan durasi dua jam per hari. 25 Maret 2020, bus umum dan kereta bawah tanah mulai beroperasi.

Menjelang akhir Maret, bisnis dan toko secara bertahap dibuka. Luo, seorang pejabat di Wuhan, bilang sudah ada 10.641 pabrik dan bisnis skala besar dibuka pada 3 April 2020, atau 91,4 persen dari jumlah total pabrik dan bisnis di Wuhan. Namun sekolah masih tetap diliburkan.

Sejak lockdown dibuka, sebanyak 55 ribu orang diperkirakan meninggalkan Wuhan dengan kereta api. BBC melaporkan, dengan layanan yang masih terbatas, penerbangan juga mulai dibuka. Pada Rabu kemarin, 200 penerbangan dijadwalkan berangkat dari Wuhan dengan membawa 10 ribu penumpang. Outlet media China pada Rabu, seperti dilaporkan channelnewsasia, memuji penghapusan larangan perjalanan tersebut dengan headline "Wuhan, Long Time, No See”.

Chinadailyhk mencatat total ada 276 kereta penumpang akan meninggalkan Wuhan ke Shanghai, Shenzhen, dan kota-kota lain. Petugas mewajibkan para penumpang memindai QR kode kesehatan dan pemeriksaan suhu sebelum memasuki stasiun. Kereta kecepatan tinggi G431 berangkat dari stasiun Wuhan pada pukul 07.06 pagi waktu setempat. Ini adalah kereta berkecepatan tinggi pertama yang berangkat dari Wuhan sejak lockdown.

Kehidupan masyarakat Wuhan saat isolasi
Foto: dok. Reuters

Namun, di balik kegembiraan akan kembali hidup normal, sebagian masyarakat Wuhan seperti memasuki tahap awal dari trauma. Mereka masih terbayang-bayang oleh sulitnya kehidupan pada masa lockdown. Panik, takut, dan merasa tak berdaya adalah keluhan umum mereka. Terlebih bagi mantan pasien virus Corona yang harus menghadapi stigma dari masyarakat.

Mengutip Reuters, ChannelNewsAsia menuliskan, seorang pekerja medis Du Mingjun membuat hotline kesehatan mental. Ia telah menerima 2.300 telepon dari beberapa pekerja medis dan warga yang dikarantina. “Meskipun epidemi telah berakhir, untuk beberapa kelompok orang, trauma mungkin baru saja dimulai,” katanya.

Selain itu, ada banyak masalah yang harus diselesaikan terkait dengan pekerjaan penduduk Wuhan di banyak perusahaan. Hingga sekarang belum jelas langkah pemerintah setempat untuk recovery pascabencana. Belum lagi kekhawatiran atas merebaknya gelombang kedua infeksi virus Corona di Wuhan, sehingga semua pihak sebetulnya masih harus bersikap waspada.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE