Kisah Cinta Bu Ati yang Setia Merawat Pak Kun Melawan Meningitis

Wong Cilik

Kisah Cinta Bu Ati yang Setia Merawat Pak Kun Melawan Meningitis

- detikNews
Kamis, 26 Jun 2014 19:38 WIB
Kisah Cinta Bu Ati yang Setia Merawat Pak Kun Melawan Meningitis
Jakarta - Sebuah kamar kost berukuran sedang di Jl Nangka, Cipete Utara, Jakarta Selatan terlihat seorang laki-laki yang hanya duduk di atas kasur kapuk. Segala keperluan pribadi dia diletakan dekat-dekat agar mudah dijangkau karena rupanya pria itu tak mampu berjalan.

Sudah 14 tahun pria bernama Kundiarto (39) itu melawan meningitis, sebuah virus yang menyebabkan radang otak. Terdengar kemudian suara seseorang sedang menggoreng makanan.

"Itu istri saya namanya Suprastin, panggilannya Ati. Dia yang merawat saya lima tahun ini," ujar Pak Kun pada hari Senin (23/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak lama tercium aroma khas pisang goreng yang manis,sangat manis. Siapa pun akan tergoda dengan aroma itu walau pun tidak ada tambahan coklat yang sering menghinggapi.

"Jadi ceritanya waktu itu saya masih belum pakai kursi roda. Masih bisa pakai tongkat. Saya jualan keripik, peci, dan sarung keliling waktu itu," kenang Pak Kun.

Ketika berkeliling, Pak Kun singgah pada sebuah masjid di Cipete. Sering sekali dia singgah di situ untuk beribadah, sering pula Pak Kun melihat Bu Ati beribadah di situ.

Satu,dua, tiga kali melihat, Pak Kun kemudian memberanikan diri berkenalan dengan Bu Ati. Sosok yang sepertinya mampu merawat dirinya hingga akhir hayat nanti.

"Saya tanya, kamu mau tidak jadi pendamping saya? Saya langsung tembak saja begitu," ujar Pak Kun.

"Ternyata dia mau. Tiga minggu setelah itu saya langsung lamar. Soalnya dia bilang kalau saya harus minta izin orang tuanya dulu di kampung," imbuh Pak Kun.

Pisang goreng hangat nan nikmat kemudian tersaji dekat dengan Pak Kun. Bercengkrama kemudian sepasang sejoli itu.

"Ayo, Umi sudah mandi belum? Kita berangkat sebentar lagi ya," kata Pak Kun ke Bu Ati.

"Belum, Abi. Kan Abi katanya puasa, katanya hari ini mau libur," balas Bu Ati.

"Mandi dulu lah, Umi. Dari tadi ngurusin kucing melulu sih," canda Pak Kun.

Rupanya pisang goreng itu untuk dijual sore hari nanti. Sehari-hari Pak Kun dan Bu Ati berjualan kopi dan makanan camilan keliling.

Sambil menunggu istrinya mandi dan bersiap-siap, Pak Kun menyiapkan barang-barang yang hendak dijual. Sambil merangkak menuju tempat menyimpan barang-barang itu, kucing-kucing peliharaan Bu Ati menghampiri.

"Saya tertarik sama dia karena ikut sunnah Rasul. Kan mencari istri itu cari yang cantik, kaya, atau solehah. Nah dia kan tidak begitu cantik, tidak kaya, tapi solehah. Ya saya pilih saja," tutur Pak Kun.

"Sebelumnya saya sudah nembak 12 cewek, tapi ditolak semua," canda Pak Kun sambil terkekeh.

Tak lama kemudian Bu Ati telah siap untuk berangkat jualan. Dibantunya Pak Kun untuk naik ke kursi roda ukuran kecil.

Kursi roda itu hanya sebagai penghubung saja karena kursi yang besar tak bisa masuk ke kamar kost. Kursi roda yang besar sudah diberi perlengkapan berjualan, lengkap dengan bendera Merah Putih.

Membuka pagar kompleks kamar kost yang terletak di sudut jalan, Bu Ati mendorong kursi roda besar penuh dengan barang dagangan. Pak Kun yang duduk di situ lalu berteriak menjajakan ke orang-orang yang melintas.

(bpn/trq)


Berita Terkait