Ada kalanya segelintir orang masih bertahan dengan teknologi lama. Ada kalanya pula bagi Kakek Abbas Hidayat (75) mengais rezeki dari panci-panci lama yang sudah usang.
"Pertama kali ke Jakarta tahun 1967. Pertamanya mematri ikut teman membikin talang-talang atap yang dari seng. Tapi lama kelamaan atap seng sudah mulai ditinggalkan orang, jadinya pindah ke mematri perabotan keliling. Tapi semakin ke sini semakin sepi orang yang mau mematri," tutur Kakek Abbas di kediamannya yang terletak di RT 06/RW 04, Tegalparang, Jakarta Selatan, Jumat (2/5/2014) lalu.
Menumpang pada sebidang tanah kosong, Kakek Abbas harus bayar sewa sebesar Rp 150.000 untuk sebuah gubuk seluas 2x3 meter persegi. Padahal penghasilan Kakek Abbas sangat pas-pasan karena memang langka sekali orang yang hendak memanfaatkan jasa profesional Kakek Abbas.
"Soalnya sekarang orang-orang sudah jarang yang pakai kompor minyak. Padahal kalau kompor gas sudah tidak bisa dipatri lagi. Panci sekarang juga yang dari alumunium itu kan tidak bisa dipatri, kecuali masih ada yang pakai panci kuningan atau besi yang zaman dulu itu. Sekali mematri sih nggak mesti harganya, kadang ada yang Rp 10.000, kadang ada juga yang Rp 25.000. Tergantung besarnya lubang," kata Kakek Abbas.
Meski di Jakarta hanya hidup sendiri, Kakek Abbas memiliki delapan orang anak dari seorang istri yang usianya 25 tahun lebih muda dibandingkan dirinya. Dari kedelapan anak itu Kakek Abbas juga dikaruniai 13 cucu dan seorang cicit. Kesemua keluarga terkasih Kakek Abbas tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Anak yang paling kecil umurnya masih 12 tahun, perempuan. Masih kelas enam SD. Kalau yang sudah menikah ada lima anak yang semuanya perempuan. Dua lagi ada laki-laki masih pada di pesantren. Biaya sekolah sih memang katanya gratis, tapi kan tetap saja ada permintaan ini dan itu, biaya buku dan seragam kan tidak gratis. Tapi biar bagaimana juga kebutuhan anak itu kewajiban orang tua yang mencari biaya," ucap Kakek Abbas lirih.
"Kalau ibunya anak-anak kerjanya jadi dukun beranak, kayak bidan begitu tapi tradisional. Jadi kadang ada juga penghasilan sedikit buat bantu-bantu. Sementara mantu-mantu saya kerjanya di (buruh) bangunan, jadi cuman bisa cukupin keluarga sendiri doang," imbuh dia.
Bilamana keping-keping uang telah dirasa cukup untuk pulang ke kampung halaman, Kakek Abbas akan pulang sambil membawa secercah harapan untuk keluarga. Namun bila tabungan dia tak seberapa, dia pun hanya menitipkan uang biaya hidup ke keponakan untuk disampaikan ke sana.
Bertahun-tahun meniup bara hingga melekatkan besi, tubuh Kakek Abbas kurus dan wajahnya pucat. Rupa-rupanya dia pernah mengidap penyakit paru-paru cukup parah yang seharusnya diobati secara rutin, atau mungkin sudah waktunya Kakek Abbas βpensiunβ sebagai tukang patri.
"Tapi biaya rumah sakit itu mahal, jadi ya diobati seadanya saja. Kecuali pas kepepet ya terpaksanya ke rumah sakit. Buat saya yang penting anak-anak dan ibunya bisa sehat semua," ucap kakek itu ketika adzan berkumandang.
(bpn/rmd)











































