"Kalau jujur sih saya sakit hati setiap melihat koruptor di sana. Namanya korupsi kan efeknya ke rakyat kecil juga. Tapi kita namanya rakyat kecil hanya bisa pasrah, yang penting saling memberi semangat saja," ujar pria asal Cirebon, Jawa Barat sambil memegang nampan yang di atasnya terdapat dua es kopi di depan Kantor KPK, Jakarta Selatan, Jumat (7/3/2014).
Apa lacur Taud yang sekedar rakyat kecil hanya bisa pura-pura tersenyum bila ingat wajah-wajah koruptor yang membuat rakyat sengsara. Dia dan sang istri yang bernama Zuhro (45) tetap melayani pelanggan dengan sepenuh hati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak usah ditanya lagi, Taud pasti ingin perubahan negeri ini ke arah yang lebih baik. Taud berharap arah kebijakan ekonomi lebih berpihak kepada rakyat kecil, bukan hanya tunduk seperti kerbau dicocok hidungnya kepada pasar bebas.
"Sekarang apa-apa mahal. Mungkin inilah tuntutan dari ekonomi yang terlalu patuh sama kerjasama dengan luar negeri," kata Taud.
Cukup geleng-geleng kepala tanpa harus mengumpat yang tak perlu, Taud kembali melayani pelanggan dengan ikhlas. Taud pun berpesan kepada para perusak negeri berdarah dingin.
"Semoga mereka introspeksi diri lah. Harus sadar kalau perbuatan mereka merusak hidup banyak orang," tutur Taud menutup siang.
(bpn/van)











































