Beberapa persiapan telah dilakukan Din Syamsuddin, di antaranya dengan membentuk sejumlah organisasi. Di antaranya organisasi yang menyuarakan masalah keragaman, seperti Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), yang dibentuk setahun lalu. Lalu siapa yang akan meminangnya? Berikut petikan wawancara Deden Gunawan dari detikcom dengan Prof. Dr. Sirajuddin Syamsuddin, baru-baru ini:
Saat ini banyak terbentuk organisasi ke-Islaman di Indonesia. Apakah ini sebagai pertanda kebangkitan umat Islam?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyaknya kelompok politik maupun parpol Islam bisa menjadi kelemahan umat, tapi bisa juga menjadi kekuatan. Tergantung kita menyiasatinya. Jadi perlu ada penyikapan yang arif dan tetap harus diupayakan adanya kesatuan.
Untuk mengatasi kelemahan caranya seperti apa?
Misalnya untuk parpol Islam. Sebenarnya bisa saja melakukan fusi dengan sejumlah parpol Islam, terutama bagi parpol yang tidak tercapai threshold. Dengan berkumpulnya umat Islam, seperti partai Masyumi dulu, diharapkan lebih maksimal dalam menampung aspirasi umat. Tapi ini baru sebatas wacana.
Soalnya bangsa kita adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, ras, serta golongan. Sebab negara kita geografisnya kepulauan. Jadi perlu ada penyikapan yang arif dalam masalah ini. Sehingga persatuan dan kesatuan bisa tetap terjaga.
Belakangan ini banyak dikeluhkan tentang kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan Islam. Bagaimana bisa terjadi?
Segala bentuk kekerasan harus kita tolak. Sebab kekerasan yang mengatasnamakan agama sebenarnya menyimpang dari ajaran agama itu sendiri. Sebab dari banyak hadis yang sahih telah dijelaskan kalau Islam itu adalah agama rahmatan lilalamin serta saling kasih mengasihi sesama umat manusia.
Jadi apa alasan kekerasan yang sering dilakukan beberapa ormas Islam ?
Itu lebih karena pemahaman mereka yang masih keliru soal agama Islam. Selain itu, juga disebabkan kesenjangan ekonomi, politik dan budaya.
Bagaimana caranya untuk mengatasi hal tersebut?
Memotong akar masalahnya. Yakni, dengan memberikan pemahaman yang benar terhadap mereka. Sehingga mereka tidak keliru lagi dalam menafsirkan perintah-perintah agama. Sedangkan di pihak lain, pemerintah juga wajib mengatasi kesenjangan yang ada di masyarakat, terutama masalah ekonomi. Sebab faktor ekonomi juga menjadi faktor yang sangat dominan menjadi penyebab tindak kekerasan.
Jika pemerintah tidak bisa mengatasi kemiskinan, risiko kekerasan oleh kelompok masyarakat akan sering terjadi. Kebetulan di Indonesia mayoritas beragama Islam. Jadi kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam lebih kelihatan.
Selain itu pemerintah harus tegas dalam menindak setiap aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manapun. Sehingga mereka akan berfikir dua kali untuk melakukan aksi anarkis.
Apakah terjunnya Anda ke dunia politik sebagai salah satu upaya untuk mengatasai persoalan-persoalan tersebut?
Salah satunya iya. Tapi yang paling pokok adalah, terjunnya saya ke arena politik hanya menjalankan amanat dari PP Muhammadiyah, yang kebetulan saya sebagai ketua umumnya. Dalam maklumat PP Muhammadiyah menugaskan saya untuk berkiprah di dunia politik.
Tapi yang jadi penekanan bukan politiknya, melainkan soal bagaimana menyejahterakan umat. Adapun untuk melakukan hal tersebut perlu kekuatan politik, terutama di level kebijakan atau pemerintahan.
Apakah siap untuk memimpin Indonesia dengan berbagai permasalahannya?
Tentu siap. Sebab tugas saya dalam mengembangkan Muhammadiyah, sebagai
organisasi yang terbentuk sebelum RI lahir, jauh lebih besar dan kompleks di banding mengurusi negara Indonesia. Jadi Insya Allah, saya tidak akan mengalami kesulitan untuk mengurusi bangsa jika diamanatkan rakyat.
Sejauh ini parpol mana yang sudah positif mencalonkan anda sebagai cawapres?
Saat ini semua calon secara resmi belum menyatakan secara terbuka. Baru Megawati saja dengan PDIP yang sejak lama telah mengungkapkan capresnya. Sedangkan mengenai pencalonan saya, sebenarnya sudah banyak parpol yang meminta. Tapi semuanya belum ada yang definitif. Jadi tinggal tunggu tanggal mainnya saja.
BIODATA
Nama Lengkap : Prof. Dr. Sirajuddin Syamsuddin
Lahir : Sumbawa Besar, 31 Agustus 1958
Agama : Islam
Istri : Fira Beranata
Anak : Tiga Orang
Pendidikan :
S1 IAIN Jakarta
S2 University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat (1982)
S3 University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat (1996)
Karir :
Dirjen Binapenta, Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia
Ketua Litbang Golongan Karya
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Ketua DPP Sementara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM, 1985)
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1989-1993)
Wakil Ketua PP Muhammadiyah (2000-2005)
Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (2005-2010) (ddg/iy)











































