Blak-Blakan Zaenal Ma\'arif (1)
Apa Saya Salah Berpoligami?
Jumat, 08 Jun 2007 10:58 WIB
Jakarta - Nasib Zaenal Ma'arif kini di ujung tanduk. Konflik internal di Partai Bintang Reformasi (PBR) berbuntut pemecatan dirinya di partai yang digagasnya. Tidak itu saja, jabatannya sebagai anggota DPR juga terancam hilang. Apalagi Ketua DPR Agung Laksono telah menyetujui pergantian tersebut.Persetujuan Agung tentu membuat kesal Zaenal. Pasalnya, selama bertugas sebagai Wakil Ketua mendampingi Agung Laksono di DPR, pria asal Solo, Jawa Tengah ini merasa tidak mempunyai kesalahan yang membuat dirinya pantas di tendang.Kemarahan Zaenal kemudian ditumpahkan dengan melayangnya surat somasi terhadap Agung. Sebab sebagai pimpinan DPR dinilai tidak pantas memberikan keputusan seperti itu.Apakah nasib yang menimpa Zaenal buah dari poligami yang dilakukannya? Berikut penuturannya kepada detikcom: Bisa diceritakan soal langkah somasi terhadap Ketua DPR Agung Laksono yang Anda lakukan? Somasi terhadap Agung adalah bentuk perlawanan saya terhadap keputusannya. Sebab saya melihat keputusan tersebut tidak fair. Seharusnya eksekusi apapun dari DPR harus mengacu kepada hukum. Sebab hukumlah yang menjadi panglima di negeri ini.Jadi harusnya pimpinan DPR menunggu dulu proses hukum yang sedang berjalan terkait konflik di PBR. Saat ini sejumlah DPW PBR tengah melakukan gugatan terhadap DPP PBR pimpinan Bursah Zarnubi. Gugatannya sendiri saat ini sedang diproses di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.Kalau tiba-tiba pimpinan DPR tidak melihat aspek tersebut, berarti pimpinan DPR sangat tidak prosedural dan putusannya cacat hukum. Putusan Agung jelas lebih dominan menggunakan pendekatan kekuasaan. Siapa yang kalah kemudian diinjak.Secara pribadi perasaan Anda sendiri bagaimana terhadap sikap Agung Laksono?Saya juga tidak habis pikir terhadap langkah sahabat saya itu. Padahal sampai saat ini DPP PBR Bursah belum dianggap sah. Dan H. Zainudin MZ saat ini masih sebagai Ketua Dewan Syuro PBR. Apalagi beliau (Zainudin MZ, red) mengaku belum melihat rekomendasi pencopotan diri saya.Jadi saya berharap Agung sabar dulu lah biarkan hukum bekerja. Jangan tergesa-gesa. Kok ya Agung tega amat gitu loh terhadap sahabatnya yang dekat selama dua tahun setengah ini bahu membahu DPR. Apakah saya pernah membuat dia kerepotan. Saya melihat ada aspek-aspek politik dibalik keputusan Agung. Permasalahan yang Anda hadapi sekarang apakah ada kaitannya dengan poligami yang Anda lakukan?Kalau saya pikir-pikir iya. Dua hari setelah saya menikah lagi, Bursah dan teman-teman di partai langsung mengeluarkan statemen kalau PBR mengharamkan anggota atau pimpinan partai berpoligami. Padahal dua hari sebelum saya menikah Bursah sempat memberikan selamat kepada saya. Malah dia mengatakan sangat mendukung langkah saya. " Bagus Bang. Saya akan datang bang. Tapi calon kita jangan sampai samaan yah", begitu komentarnya.Tapi kenapa kemudian Bursah dan beberapa Ketua PBR mengecam tindakan Anda?Itu yang tidak saya mengerti. Alasan mereka sih, karena partai merasa risih karena saya dianggap memblow up pernikahan saya tersebut. Misalnya dengan mengundang wartawan sehingga publik mengetahuinya. Akhirnya poligami yang saya lakukan dianggap telah mencemarkan nama partai. Padahal saya sama sekali tidak mengundang wartawan. Memang sehari sebelum pernikahan ada wartawan yang SMS ke saya dan bertanya tentang rencana pernikahan saya. Dengan jujur saya mengatakan memang saya akan menikah waktu dan tempat pernikahan juga saya beritahu.Tapi kemudian wartawan tersebut ternyata datang bersama sejumlah wartawan lainnya dan ramailah berita pernikahan saya. Itulah yang terjadi.Sebenarnya apa sih alasan Anda berpoligami?Saya kira wajar Mas. Dalam agama Islam masalah poligami tidak dilarang. Lagi pula selama ini di Jakarta saya seorang diri sedangkan istri saya di Solo. Jadi wajar kalau kemudian saya berpoligami. Dari pada saya secara diam-diam berzina dengan pelacur atau wanita simpanan. Kan secara hukum Islam berzina itu jelas dilarang. Tapi ketika saya menikah lagi secara sah kenapa harus diributkan.Apakah sebelum berpoligami Anda tahu konsekwensi politik yang akan terjadi setelahnya?Saya pikir urusan ini hanya urusan pribadi saja. Harusnya bisa dipilah-pilah. Apalagi di Jakarta saya sendiri. Secara manusiawi wajar saya melakukan hal itu. Daripada saya memelihara wanita simpanan atau bermain dengan pelacur.Kalau kemudian pernikahan saya yang kedua dipolitisasi, itu yang saya tidak habis pikir. Karena poligami tidak dilarang agama dan pemerintah. Lantas apa kemudian saya jadi dianggap bersalah dengan berpoligami. Anehnya PBR sebagai partai Islam justru melarang berpoligami. Padahal banyak menteri atau anggota DPR yang berpoligami. Tapi partai mereka tidak mempermasalahkanya kok.Jadi orang-orang yang berpoligami harus hati-hati karena akan mendapatkan perlawanan dari orang yang tidak suka poligami. Jangan-jangan ke depan akan ada undang-undang yang melarang berpoligami. Sekarang seberapa besar peluang Anda untuk mengambil alih PBR dari Bursah?Saya kira peluangnya sangat besar. Sebab beberapa wilayah banyak yang menentang kepemimpinan Bursah. Makanya saya berharap perjuangan teman DPP PBR Penyelamat bisa menyelamatkan partai dari tangan DPP pimpinan Bursah Zarnubi.Selama ini sosok Bursah yang Anda kenal seperti apa? Kok kemudian bisa berbeda jalan?Itulah dinamika politik. Ketika saya masih di Solo saya mengira sosok Bursah begitu baik. Dari berbagai berita yang dimuat di media massa pandangan-pandangannya begitu kritis dan luas. Makanya ketika partai ini (PBR) saya bawa ke Jakarta saya langsung mengajak dia untuk bergabung. Tapi lama kelamaan setelah lama beraktivitas di partai kedok aslinya baru ketahuan. Ternyata dia tidak punya etika politik. Sekarang saja bisa terlihat langkah-langkah politik yang dia ambil. Itulah yang membuat sejumlah DPD tidak suka kepadanya.Tapi ada satu hal yang saya salut padanya, yakni dia itu orangnya pandai cari duit. Kalau saya memang tidak pandai cari duit. Makanya begini-begini aja kehidupan saya.Apakah Anda merasa dihianati oleh BursahBisa jadi iya. Tapi yang pasti dia telah mengecewakan saya. Dan saya merasa telah didzolimi Bursah. Bila kemudian upaya hukum kubu Anda kalah melawan kubu Bursah, apa yang akan Anda lakukan?Sudah pasti saya akan pulang kampung ke Solo. Untuk sementara mungkin saya tidak akan terlibat dulu dalam dunia politik. Saya mengalir saja. Saya kan orang kampung tidak terbiasa berbicara nanti mau dapat apa. Misalnya proses perjalanan saya menjadi Wakil Ketua DPR. Itu sama sekali tidak terbayangkan.Tapi kalau urusan melawan kedzoliman, akan saya lawan sampai manapun. Baik terhadap Bursah maupun terhadap Agung Laksono. Tapi perlawanan saya melalui jalur hukum. Sebab meskipun saya ribut-ribut soal partai, namun saya dan Bursah tetap berteman. Begitupun dengan Agung.(den)
(Deden Gunawan/)











































