DetikNews
Jumat 30 Desember 2016, 15:25 WIB

Wawancara (1)

Kapolda Metro: Sudah Rp 400-an Juta Dana Dicurigai Terkait Makar

Nograhany Widhi Koesmawardhani, Mei Amelia R, Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Kapolda Metro: Sudah Rp 400-an Juta Dana Dicurigai Terkait Makar Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Polda Metro Jaya sedang menyelidiki aliran dana makar yang mencoba mendompleng aksi damai 212. Sudah ada sekitar Rp 400-an juta dana yang dicurigai terkait aksi makar.

"Mungkin Rp 400-an juta, mungkin ada ratusan (juta) lain yang belum terungkap, kami hati-hati sekali untuk itu. Mereka kan sudah pintar, nggak mungkin dana itu ditransfer, pasti cash kan. Bisa ketahuan aliran rekeningnya kan," tutur Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan saat ditanya tentang total dana agregat yang dicurigai dialirkan untuk aksi makar.

Hal itu dikatakan Kapolda Irjen M Iriawan dalam wawancara dengan detikcom di kantornya, Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (28/12/2016) yang ditulis Jumat (31/12/2016).

"Ada yang sekali transfer, ada, mungkin kebetulan nggak ada waktu untuk ngasih cash," imbuhnya.

Iriawan menegaskan, pihaknya sangat berhati-hati sekali mengungkap aliran dana terkait makar ini. Hal ini karena menyangkut kredibilitas seseorang.

"Nanti kalau sudah gamblang. Kembali lagi, ini menyangkut kredibilitas seseorang. Lebih baik saya lambat menyampaikan atau tidak menyampaikan, daripada saya cepat menyampaikan tapi ternyata tidak pas," tegas dia.

Berikut wawancara lengkap wartawan detikcom dengan Kapolda Metro Jaya tentang aksi makar yang mewarnai Pilgub DKI Jakarta serta aliran dana makarnya:

Tahun depan akan ada Pilkada serentak 2017. Kinerja Polda Metro Jaya pastilah menjadi benchmark untuk kinerja Polda di daerah-daerah di Indonesia dalam menangani keamanan Pilkada serentak 2017. Setelah 11 tokoh kemarin diamankan Polda Metro Jaya karena diduga makar, apakah niat dan potensi tersebut masih ada?

Nggak ada kaitan antara makar dan Pilgub DKI. Nggak ada kaitan.

Pengamanan dulu, tentu sesuai ketetapan kami lakukan pengamanan maksimal. Mulai penetapan calon, nomor urut, sampai kampanye dan nanti saat pencoblosan dan penghitungan suara. Masing-masing tahapan sudah kami siapkan pengamanan, sehingga semua rangkaian kegiatan bisa berjalan dengan lancar, aman dan sukses.

Semua pasangan calon, sama di mata kami. Kepolisian harus semua diamankan agar semua orang bisa melaksanakan kompetisi Pilkada DKI secara bersama dan sehat saat yang sama bisa menjadi Pilkada yang jujur, adil, aman dan kondusif.

Sekarang sudah masuk masa kampanye. Sampai sekarang Alhamdulillah, situasi masih kondusif. Meskipun ada riak-riak kecil. Yang menurut saya segera kami atasi seperti gangguan pada pasangan nomor 2. Sudah selesai kasus yang kami ajukan ke peradilan, kasus yang sudah disidangkan sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.

Kemudian sekarang sudah 48 hari lagi menjelang pencoblosan, hemat kami, bisa berjalan dengan lancar. Meski ada beberapa kali penghadangan segala macam, sudah landai sekarang. Tidak ada lagi. Itu hal kurang baik daapat mengganggu dan bisa diproses (hukum) kalau terjadi lagi.

Tentang makar, mengapa Pak Sri Bintang Pamungkas tetap ditahan hingga sekarang?

Kami sampaikan, pada 411 kami sudah melihat indikasi itu (makar-red) ada, namun kami belum dalami berkaitan dengan permufakatan makar. Rencana melakukan makar saja sudah dipidana, pasal 107 jo pasal 110, sehingga baru perbuatan kumpul, tiap pelaksaannya kami tindaklanjuti ke penetapan hukum.

Lebih jelas lagi setelah 212, di mana aksi yang turun memang aksi damai, zikir dan doa diprakarsasi oleh GNPF MUI.

Tapi di luar itu ada yang mendompleng, yang saya bilang beberapa yang malam itu kami ambil, melakukan penangkapan. Polisi tentu sudah memiliki bukti penetapan yang cukup. Tak ada hubungannya dengan Pilkada.

Kenapa mendompleng? Jadi massanya nanti yang sudah disiapkan permufakatan makar, selain massa yang disiapkan, akan mabil massa cair yang pulang dari kegiatan 212 yang hari itu, sehingga nanti diharapkan bisa didomplengi banyak.

Kami sudah dapat informasi sudah tahu perencanaan, gambarnya juga ada. Juga pergunakan buruh yang akan demo di depan Balai Kota yang masalahnya PP 78 tentang pengupahan itu akan diambil, sehingga malam itu kami melakukan langkah agar itu tidak terjadi. Kasihan rakyat kalau itu sampai terjadi, bentrokan akan bawa bergerak ke DPR dengan massa disiapkan, massa cair dengan buruh. Tapi Alhamdulillah massa buruh tak mau terbawa karena kami sudah melakukan komunikasi dengan Iqbal (Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia/KSPI) Said Iqbal-red).

Jadi beda, massa buruh dengan massa damai itu beda, zikir tak ada kaitannya. Mereka itu mendompleng. Makanya orang-orang itu tak ada dalam kegiatan zikir dan doa. Mereka itu siapa, ya tempo hari bu Ratna (Ratna Sarumpaet), Rachmawati, Sri Bintang Cs kan tak ada, dia siap di sekitar Thamrin.

Yang bersangkutan beberapa hari menginapnya di Sari Pan Pacific. Kami sudah ikuti ke sana, mereka akan mengambil massa yang akan pulang. Kan banyak itu ya (massanya), kalau diambil 5 ribu atau 2 ribu aja, kan ramai itu.

Beberapa tersangka dari pelaporan soal Sri Bintang Pamungkas atas orasinya di Kalijodo, aksinya dilakukan sebelum ada permufakatan jahat. Apa memang satu rangkaian?

Ya termasuk itu juga

Pemimpin massa aksi damai itu sadar tidak kalau massanya akan didomplengi?

Itu kan banyak massanya, dari mana saja, tak ada pemimpin, itu berbagai kalangan. Katakan massa dari FBR, dia nggak ngerti juga, tapi dia digiring saja mau ke DPR setelah bubar. Siapa saja yang bisa diangkut bisa terlaksana, 50 keangkut 20 kan lumayan, dia siapkan mobil komandonya, sudah siap juga.

Apa peranan Firza Husein dalam permufakatan makar ini?

Ada, dalam rapat itu ada, dia menyiapkan mobil komando, bersama dengan Ahmad Dhani

Termasuk dengan Eko Suryo Santjojo?

Ya bersama dengan Eko.

Tak ada hubungan dengan yayasan yang dipimpin Firza Husein (Firza Husein adalah Ketua Solidaritas Sahabat Cendana-red)?

Sementara tidak ada. Yang bersangkutan perorangan. Namun kaitan keluar masih kami dalami

Eko juga sebagai salah satu kader Gerindra. Apa ada indikasi keterlibatan Parpol dalam makar ini?

Nggak ada. Kami sudah konfirmasikan, yang ada aksinya ya perorangan. Kami sudah konfirmasikan pada ketua pembinanya, kebetulan kami sudah konfirmasikan.

Ya kelompok itu-itu saja yang beberapa kali rapat di beberapa tempat, ya itu-itu saja.

Permufakatan makar dilakukan beberapa orang, bukan hanya orang per orang. Apa yang mereka inginkan dan tujuan sebenarnya? Menggulingkan pemerintahan yang sah, ada motif apa di balik itu?

Mereka masih bersikukuh bahwa ingin kembali ke UUD 45, ada salah satu poin-poinnya membubarkan pemerintahan yang sah. Ya boleh saja tapi kan ada tata caranya. Kalau memang tak sesusai dengan beberapa aturan yang ada (presiden) bisa di-impeach, tapi itu konstitusional, ada sidang istimewa.

Tapi mereka kan tak ada rencana, mencoba menduduki DPR, memaksa DPR menggelar sidang istimewa. Ada semua rencananya mereka.

Kalau ingin menggulingkan pemerintahan, apa polisi yakin ini aksi perorangan? Apa tidak ada kaitan dengan kelompok parpol atau kelompok tertentu?

Sementara yang kami dapatkan itu, tak boleh berandai-andai. Faktanya itu yang kami dapat. Kalau memang ada kami teruskan, kalau nggak ada ya kami nggak bisa mengarang-ngarang.

Termasuk yang kami ambil soal makar itu, kami nggak mengarang-ngarang, orang boleh bicara apa tapi kami punya bukti. Waktu kami lakukan penggeladahan ketemu beberapa selebaran, pamflet, banner, ada semua.

Mengenai analisa aliran dana makar dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan) bagaimana?

Beberapa manual yang transfer rekening sudah ada ditemukan. PPATK ini masih sedang dianalisa kembali, karena kan banyak ya, jangan sampai salah analisa karena menyangkut kredibilitas seseorang. Tapi yang manual yang mengaku diberikan dana sudah ada.

Berapa orang menerima aliran dana ini? Terpusat ke satu atau beberapa orang?

Sementara satu orang, ada pelaku lapangan yang persiapkan massanya untuk dibenturkan, militan lagi. Massa nggak semua militan. Yang militan 2 ribu saja, dari 10 ribu itu kan kelihatan banyak. Kita bisa lihat kan yang di depan saja (yang militan).

Indikasi awal sudah kami dapatkan. Tapi yang 411 kan damai, ya sudahlah, tidak ada masalah lagi. Tapi 212 akan mencoba lagi, itu settingannya tidak ke Istana tapi ke DPR.

Terkait pemberi dana ini polisi sudah menetapkan sebagai tersangka?

Masih terus. Dia betul-betul telak betul, kan ada yang saya kasihkan tapi untuk survei, karena dia salah satu kelompok tim pemenangan, bisa saja bicara begitu, buat atribut. Kami betul telak bahwa dana dipakai gerakan (makar-red). Yang jelas kami dapatkan indikasi itu ada.

Aliran dana untuk permufakatan makar ini ke siapa saja?

Nggak bisa sebutkan. Ada ke pelaksana lapangan, kira-kira ke sana.

Kapan diungkap pemberi dana makar?

Nanti kalau sudah gamblang. Kembali lagi, ini menyangkut kredibilitas seseorang. Lebih baik saya lambat menyampaikan atau tidak menyampaikan, dari pada saya cepat menyampaikan tapi ternyata tidak pas.

Itu hanya tambahan saja, dana. Yang penting kan permufakatan makar sudah ada, nggak usah ada dana pun, itu sudah jalan. Sudah bergerak, ada perencanaan, pertemuan, tulisan, perkumpulannya persiapan, mereka (makar) pakai apa sudah ada semua. Tidak terjadinya hal tersebut bukan karena kehendak sendiri, tapi karena kita. Tapi permufakatan, perencanaan sudah ada.

Ada kemungkinan analisa aliran dana nggak dilakukan melalui transfer bank, tapi tunai?

Ada, kemungkinan itu ada. Tunai ada, sudah ada pengakuan juga dari Zamran dan Rizal, ada yang memberikan dana (tak melalui bank). Saya yakin ada lagi dana lain yang belum diakui.

Total agregat dana yang dicurigai untuk makar?

Mungkin Rp 400 an juta, mungkin ada ratusan lain yang belum terungkap, kami hati-hati sekali untuk itu. Mereka kan sudah pintar, nggak mungkin dana itu ditransfer, pasti cash kan. Bisa ketahuan aliran rekeningnya kan.

Ada yang sekali transfer ada, mungkin kebetulan nggak ada waktu untuk ngasih cash.

Bagaimana dengan peran Kivlan Zen dan Adityawarman Thaha?

Ya sama, semua dalam satu rangkaian. Permufakatan bukan sendiri, bersama-sama, pertemuannya ada, dokumentasinya kami punya, tapi namanya orang sudah jadi tersangka ya kalau menyangkal itu hak dia. Kami nggak butuh keterangan tersangka kan, kalau bukti lain sudah ada, termasuk Sri Bintang Pamungkas, silakan mau nyiapin (pembelaan) nggak masalah. Kami ada bukti lain.

Bagan aliran dana itu tersebar di media sosial di bagian paling atas ada TS, bisa dikonfirmasi?

Itu yang buat itu siapa, kami nggak ngerti ya. Saya belum bisa komentar ya.

Berarti bila ada suatu komunitas yang melakukan aksi lainnya ke depan, sudah tak ada lagi yang disusupi dan melakukan pendomplengan?

Kelihatannya ya ini saja ya kan, yang 12 orang yang kami ambil. Kalau ada aksi lagi ya, Insyaallah tidak ada lagi yang kayak kemarin ya. Sampai sekarang indikasi lain belum ada.

Atau ada indikasi yang mendompleng akan mencari celah lain?

Ini saja belum selesai. Silakan saja kalau mau. Kami sudah berusaha membantu ya, kami tidak tahan semuanya kan, sudah sepuh, pertimbangan kemanusiasan, ada yang sakit seperti Bu Rachma (Rachmawati Soekarnoputri-red). Yang lain-lain yang tidak ditahan, kami punya pertimbangan lain.

Banyak pertanyaan kenapa tersangka ini sudah sepuh-sepuh kok makar? Kemampuan mereka mengorganisasi makar seberapa jauh, karena kan sudah sepuh?

Tanyakan sama dia hehehehe. Mereka pengalamannya ada, mereka kan orang yang punya pemikiran yang kuat, semua orang berpendidikan, punya wawasan. Kalau bilang saya sudah sepuh, makar kan nggak mesti muda, otaknya masih muda. Silakan sampaikan, nggak ada masalah buat kami.

Agenda pemeriksaan Angga (Pemilik PO) yang di Padang?

Kalau berkaitan kami lakukan (pemeriksaan) boleh saja kan? Kalau nggak ada kaitannya nggak kami kaitkan. Ada bukti, untuk melengkapi keterangan

Berkaitan dengan busnya yang disewa?

Iya, yang disewa, yang nyewa siapa, kapan, kami harus sinkronkan. Para saksi yang dipanggil nggak usah was-was, kalau tak terlibat nggak usah khawatir

Apa ini berarti ada rencana mobilisasi massa dari Padang?

Kemungkinan itu ada, makanya kami lakukan pemeriksaan itu.

9 Tersangka (makar) yang menyiapkan massa itu siapa saja?

Mereka hampir sama-sama punya kapasitas yang sama. Mereka kan sama-sama rapatnya, tujuannya sama-sama disiapkan menghadapi DPR itu.

Sejauh ini belum, ada penambahan tersangka makar lagi setelah Hatta Taliwang dan Ahmad Dhani?

Belum. Ahmad Dani penistaan ada tapi makarnya sedang kami dalami sedikit lagi, maka tak dilakukan penahanan yang bersangkutan. Tunggu perkembangan

Selain 11 orang yang ditahan kemarin, apakah mengarah pada satu master mind-nya?

Sementara nggak ada. 9 (tersangka makar) itu saja.

Dalam aksi 411 termasuk mereka yang ingin memperkeruh dan mendompleng?

Waktu 411 mereka ada di kelompok mobil bareng-bareng kan, berarti masih nyatu ingin masalah Ahok juga. Depan Istana ada Ahmad Dhani juga di atas waktu itu, ada Ratna Sarumpaet juga, Kivlan Zen, ada Adityawarman juga, Rachmawati juga di situ. Saya pkkir mereka sedang meluhat situasi, bisa nggak massa diangkut ke kelompok dia.

Sedangkan 212 mereka nggak ada di panggung kan, itu aja, gampang nilainya.

Yang makar ini dengan (aksi damai) 212 beda, bukan masalah Ahok, (yang makar) ke pemerintah, beda. Kebetulan mendompleng dengan situasi itu, mereka kan tidak punya massa. Yang punya massa ini kan GNPF ini. Tapi beda agendanya.

Pemimpin GNPF dilobi sama kelompok yang makar ini?

Dia nggak mau (Rizieq Shihab). Kan Rachmawati pernah ketemu Habib Rizieq

Pertemuan Rachmawati dan Rizieq Shihab itu untuk melobi?

Ya mungkin itu di antaranya.

Habib Rizieq tidak ada keterkaitan dengan kelompok makar ini?

Sementara belum kami temukan yang bersangkutan masuk di sini. Bahkan kami lihat tak ada tujuan ke sana (makar), dia murni masalah Ahok saja. Pertemuannya tidak ada Habib Rizieq. Kalau ada pasti ketahuan dari komunikasinya, saksinya, pertemuannya tidak pernah ada Habib Rizieq. Rachmawati ke sana bisa saja, kami belum tahu. Tapi kan itu bukan yang terpenting.

Waktu 411 dia ada di sana kan kelihatan, di mobil komando ada Kivlan Zen, Adityawaranman, Ahmad Dhani, ada Rachmawati pakai kursi roda, mungkin mereka ikut dulu di situ, melihat situasi yang berkembang.

Ada pertemuan di Universitas Bung Karno (UBK) waktu itu. Apakah mahasiswa UBK akan digerakkan oleh Rachmawati?

Bisa saja, namun kami tidak dapat, karena mungkin mahasiswa. Kalau ada sudah kami periksa. Kebetulan dia adalah yang punya UBK tapi tak bisa digeneralisasi semua mahasiswa UBK akan ikut aksi, kan nggak bisa begitu. Berdiri sendiri.

Zamran dan Rizal belum ditetapkan tersangka makar?

Belum. Kami dalami banyak saksi yang mengarah hal tersebut. Ada beberapa kali ikut (rapat) tapi kelompok besar tidak, dia nggak butuh itu, dia pelaksana lapangan yang punya massa.

Bagaimana respons pihak Istana atas Polda Metro Jaya yang sudah sukses menggagalkan aksi makar ini dan mengawal aksi damai 212 ini?

Saya ke Kapolri, saya nggak ke Istana langsung, ke Kapolri. Kapolri saya nggak tahu ke Istana. Saya melaksanakan tugas saja demi negara, kepala negara saya yang diganggu, itu tugas saya dibantu TNI.

Saya kan lapor ke Kapolri, saya tahu diri, tak boleh melangkahi beliau. Yang bawahan Presiden langsung kan Kapolri, saya cukup lapor ke Kapolri.

Ada beberapa eks petinggi TNI menjadi tersangka. Proses komunikasinya dengan TNI sendiri bagaimana?

Kami sudah prediksi awal, katakan yang 2, Kivlan Zen dan Adityawarman, kami ambil, kami tangkap, ada upaya paksa Kepolisian. sudah kami prediksi akan terjadi nanti digoyang, bukan TNI, tapi yang adu domba. Ada Golden TV yang bicara singgung TNI, TNI AD bakal diserang, bakal berulang tahun 65 seperti Cakrabirawa mengambil (para jenderal).

Sudah kami hitung Plan A, Plan B-nya. Maka kami sudah bicara sama Pangdam, kami akan ambil ini. Dia bilang "Nggak apa-apa, silakan saja, mereka sudah sipil". Saya tahu, takutnya nanti ada sensitif, sebab itu (Pangdam Jaya) lapor juga dengan Panglima TNI, depan saya lapornya, meskipun seharusnya juga tidak di dampingi POM, dia sudah sipil, kena juga UU umum.

Tapi kami antisipasi, kami siapkan gambarnya, itu akan terjadi kami sudah tahu, akan terjadi nanti, bahwa ada Panglima TNI, kan sudah sipil, tapi kami jaga, ada polemik di media sosial, tidak apa-apa depan tni, Pangdam bicara tidak ada masalah.

Memang tak ada masalah, dan tahu TNI siapa Kivlan Zen dan Adityawarmnan. Tahu bagaimana, ya tanya saja beliau-beliaunya...

Makanya kami sudah menghitung, ambil ini kan terjadi ini, ini antisipasinya, betul kan? Mau diadu. Pasti pihak ketiga yang adu domba.
(Nograhany Widhi K/erd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed