DetikNews
2016/02/12 20:03:44 WIB

Wawancara

Kombes Krishna Murti: Kalijodo 'Dihantam' Tak Masalah, Nggak Ada Premannya Lagi

Mei Amelia R - detikNews
Halaman 1 dari 4
Kombes Krishna Murti: Kalijodo Dihantam Tak Masalah, Nggak Ada Premannya Lagi Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti. (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Komisaris Besar Krishna Murti pernah menjadi Kepala Kepolisian Sektor Penjaringan, Jakarta Utara, pada 2001 sampai 2003. Saat itu pangkat alumni Akademi Kepolisian angkatan 1991 itu masih komisaris polisi.

Wilayah kerja Polsek Penjaringan salah satunya adalah Kalijodo yang terkenal sebagai kawasan prostitusi, judi dan premanisme. Saat nama Kalijodo mencuat kembali pasca insiden kecelakaan Toyota Fortuner di Jl Daan Mogot, Kalideres,  yang menewaskan 4 orang pada Senin 9 Februari, Krishna Murti pun menjadi incaran wartawan dari berbagai media untuk diwawancara. 

Maklum dia pernah menjadi Kepala Kepolisian Sektor di Penjaringan selama kurun waktu 2001 hingga 2004. Dia terlibat langsung dalam menangani konflik sosial dan penyakit masyarakat di Kalijodo.

Dia adalah salah satu polisi yang berhasil menertibkan kawasan Kalijodo dengan membongkar semua lapak perjudian. Dengan bantuan 800 personel Polda Metro Jaya, Krishna juga 'menghantam' kelompok preman di Kalijodo.

Tak hanya itu Krishna yang merupakan lulusan terbaik Sekolah Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tahun 2000 juga melakukan pendalaman soal Kalijodo sebagai bahan thesis S2-nya.  Hasil penelitiannya tersebut kemudian dibuat buku dengan judul, 'Geger Kalijodo' yang terbit tahun 2004.
 
Krishna Murti yang tengah sibuk menangani kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihan sempat tak mau memberikan keterangan kepada wartawan soal Kalijodo. Setelah diyakinkan, dia pun akhirnya bersedia diwawancara detikcom dan jurnalis Warta Kota pada Kamis malam, 11 Februari 2016.

Berikut petikan wawancaranya:


Galiat malam di Kalijodo. (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom)


Seperti apa Kalijodo saat Anda menjadi Kepolsek Penjaringan?
 
Kalijodo zaman sekarang itu beda sama Kalijodo zaman dulu. Kalijodo sekarang itu aman sekali. Bahwa penyakit masyarakat itu selalu ada, iya. Nah Kalijodo itu lokasi yang sebenarnya tanah bantaran sungai yang sebenarnya dikuasai beberapa pihak, dikavlingi. Bangunannya yang awalnya semi permanen kemudian menjadi permanen dan harusnya dikelola oleh negara.

Sekarang tumbuh kafe-kafe, dulu kiri kanan tertutup di dalam situ seperti lawless place, tempat tanpa hukum. Saya sebagai kapolsek waktu itu bersama Pemda setempat membereskan tempat itu dengan pertempuran-pertempuran yang akhirnya sebelah sungai itu dibersihkan, ditata jadi bagus. Sekarang tetap kafe itu tumbuh di situ. Itu dari 2001-2002.

Kafe itu kan awal tumbuhnya itu- kan itu awalnya dipakai nongkrong-nongkrong, terus pacaran. Namanya juga Kalijodo, pesiarlah, liburanlah. Pada main-main ke situ, kemudian muncullah warung-warung. Itu kan ciri-ciri komunitas urban, bangunanya semipermanen, nah akhirnya jadi bukan hanya jadi tempat bukan hanga datang cowok cewek lagi tapi cewek-cewek yang sudah siap di situ. Di situlah ada perdagangan wanita, nah kemudian ada kafe-kafe. Lokasi Kalijodo itu strategis, daerah situ ekonominya bagus.

Jadi kalau orang mau entertain dirinya cari tempat yang kelas bawah, ke situ. Nah karena banyak orang datang sudah dulu dulu muncul namanya perjudian, bagian dari entertaint yang disiapkan oleh operator-operator di sana. Karena di situ juga ada perjudian maka muncullah pengamanan. Muncul premanisme, grup kelompok preman.

Tiga kelompok berdasarkan etnis: Bugis, Mandar dan Banten. Mereka menguasai operator perjudian di 3 titik. Tapi karena ada perjudian di 3 titik, muncul keributan-keributan. Kenapa? Karena kalau di titik satu ramai, di titik lain sepi jadi iri kemudian ada gesekan. Karena tingkat gesekannya tinggi, panas. Kalau sudah terjadi gesekan, bunuh-bunuhan, bakar-bakaran. Belum selesai kalau belum ada yang kebakar.

Waktu saya datang mereka mencoba untuk eksis. Saya katakan nah ini, kalau konflik terus begini Jakarta tidak menunjukkan sebuah kota yang beradab. Maka saya selesaikan. Saya berjuang menyelesaikan itu, perjudian saya tutup, perang itu. Berkali-kali kita hantam yang tadinya polisi tidak bisa masuk sama saya bisa masuk, rata.

Perjudian sudah tutup, kemudian ini kita minta diambrukkan, zaman Pak Sutiyoso ini diambrukkan. Langsung dirapikan, sudah rapi.  Tapi kan pengelolaannya di situ. Masyarakat selalu kan ada ruang-ruang di tanah mana pun yang kemudian tidak bisa terlalu diatur kemudian diisi dan itu sudah ranahnya pemerintah untuk menata ruang itu. Mau diapakan selanjutnya.

Karena tidak di-maintenance mungkin, maka tetap tumbuh. Tapi secara keamanan, itu aman. Orang kalau jalan di situ tidak akan diganggu, karena mereka menjaga kalau dia aman. Maksudnya begini kalau tidak terjadi di situ maka polisi tidak akan masuk kan, mereka takut kalau ada polisi karena akan mengakibatkan ini mereka terganggu, maka mereka menjaga supaya tidak aman.

Anak kecil jalan, perempuan jalan di situ enggak akan diganggu, aman. Orang menikmati di situ sebuah wilayah 'wisata' untuk laki-laki karena kan di sini orang-orang pelaut-pelaut itu kalau pengin hepi-hepi ke situ, semua yang kelas bawah itu.
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed