Dr Sugiri Syarief: Jangan Nikah Dini, Nikah Bukan Sekadar Hubungan Seks

Dr Sugiri Syarief: Jangan Nikah Dini, Nikah Bukan Sekadar Hubungan Seks

- detikNews
Rabu, 18 Mei 2011 15:00 WIB
Dr Sugiri Syarief: Jangan Nikah Dini, Nikah Bukan Sekadar Hubungan Seks
Jakarta - Menikah bukan sekadar melegalkan hubungan seks laki-laki dan perempuan. Lebih dari 
itu, menikah adalah proses membangun keluarga. Karenanya butuh persiapan yang 
benar-benar matang, dari segi medis dan psikologis.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun mengkampanyekan untuk tidak menikah dini. Hal ini dimaksudkan agar para pasangan yang menikah memiliki kesiapan yang memadai. Menurut BKKBN, idealnya perempuan menikah di usia 20-35 tahun dan pria menikah di umur 25-40 tahun.

"Ingat, menikah itu bukan melegalkan hubungan seks. Menikah bukan sekadar hubungan seks, tapi membangun keluarga yang sejahtera," ujar Kepala BKKBN, Dr Sugiri Syarief, 
dalam perbincangan dengan detikcom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini wawancara detikcom dengan Sugiri, Rabu (18/5/2011):

BKKBN menengarai menikah dini banyak terjadi di pedesaan. Bagaimana sosialisasi untuk tidak menikah dini yang dilakukan BKKBN?

Ada penerangan kelompok yang dilakukan oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana 
(PLKB). Mereka menjelaskan kepada suatu kelompok yang berisi 10-20 orang tentang 
menikah dengan usia yang ideal. Lalu ada juga mobil unit penerangan yang berkeliling 
di desa, mengorganisir berbagai kegiatan seperti menonton film yang 
menyosialisasikan jangan menikah di usia dini. Selain itu dilakukan juga kunjungan dan penyuluhan ke rumah warga yang memiliki remaja.

Apakah sosialisasi sejak dulu dilakukan?

Mulai gencar dilakukan tahun ini untuk mendorong agar jangan sampai terjadi pernikahan dini. Program yang kami lakukan diberi nama 'Genre' atau generasi berencana. Begitulah kampanye kita kemas. Ini gencar dilakukan 2011 dan mengarah ke 
seluruh provinsi. Tapi nanti kita akan fokuskan ke kabupaten/kota yang banyak 
terdapat kasus menikah dini.

Bagaimana jika ada pertimbangan, pernikahan dini dilakukan agar ketika anaknya sudah besar, orangtuanya masih berusia produktif sehingga bisa membiayai sekolah anaknya?

Misalnya ada yang menikah lalu punya anak di usia 35 tahun, anaknya selesai kuliah umur 22 tahun, berarti saat itu umur orangtuanya umur 57 tahun. Ini masih produktiflah saya kira. Sekarang begini, kalau masih sangat muda menikah, misalnya umur 17 tahun menikah, seharusnya dia bisa sekolah dulu agar dapat pekerjaan lebih baik, ini malah menikah kan tidak produktif juga. Bagaimana bisa produktif, selesai sekolah saja belum.

Adakah hubungan tingkat pendidikan dan menikah?

Kalau anak lulus SD itu kan sekitar umur 13 tahun, lalu dia tidak melanjutkan SMP. Kalau anak perempuan, hanya di rumah saja bingung mau ngapain, ketika ada yang melamar lalu diterima saja. Kemungkinan pernikahan dininya semakin tinggi. Nah, kalau ada anak lulus SMA, usia menikahnya juga kan lebih matang. Dengan semakin matangnya usia, maka semakin siap pula organ reproduksi dan psikologisnya.

Bagaimana dengan alasan menikah muda dilakukan dengan alasan ingin menimang anak dan cucu lebih lama?

Itu tergantung Tuhan kan mau lebih lama atau tidak menimang anak dan cucu. Saya kira ini nggak bisa jadi alasan. Kalau demi alasan itu, tapi lalu tidak bisa makan karena belum ada kemapanan secara ekonomi bagaimana?

Lagi pula kalau perempuan terlalu dini menikah, risiko kematian ibu saat melahirkan juga tinggi. Ini karena belum siapnya alat reproduksi.

Bagaimana dengan pendapat 'nikah muda menghindarkan diri dari maksiat'?

Pertanyannya, apa betul maksiat bisa dihindarkan dengan menikah dini? Banyak kasus yang selingkuh juga banyak. Lalu ini apa bisa dijamin dengan menikah muda? Maksiat saya kira bukan sekadar masalah menikah atau tidak, tapi juga masalah moral. Jadi jangan dikaitkan dengan hal yang berbeda. Itu kembali lagi ke orangnya, kembali ke moral yang bersangkutan.

Ini sama dengan punya komputer. Dengan komputer itu mau nonton porno atau atau untuk memperdalam agama? Itu kan tergantung kita. Ketika ada yang menonton porno di komputer, tidak bisa menyalahkan komputernya juga.

Sama juga dengan pisau. Pisau itu bisa digunakan untuk mengiris bawang dan bisa juga untuk membunuh orang. Itu semua kembali ke kita, kembali ke keimanan kita. Kalau iman kuat, nggak akan selingkuh yang artinya tidak berzina juga.

Jadi menikah dini bukan sekadar menyoal seks bebas?

Menikah itu kan bersatunya laki-laki dan perempuan di keluarga. Ketika bersatu ada hal yang harus dipahami oleh keduanya dan keluarganya. Kadang begitu menikah, kita tidak menyadari kalau sudah punya keluarga sendiri sehingga orangtua terlalu mengintervensi.

Karena sebenarnya masih sangat bergantung pada orangtua, lalu mau saja diintervensi orangtuanya. Padahal menikah itu adalah membentuk keluarga baru, ada kewajiban dan tugas yang tidak bisa dicampuri orangtua lagi. Orangtua menyarankan boleh, tapi kalau sudah punya keluarga sendiri, maka punya tanggung jawab sendiri.

Ingat, menikah itu bukan melegalkan hubungan seks. Menikah bukan sekadar hubungan 
seks, tapi membangun keluarga yang sejahtera.

Bagaimana dengan pandangan 'nikah itu tergantung kesiapan, sehingga kalau sudah siap ya menikah saja'?

Siapnya dalam arti apa? Siap itu apa? Apakah siap materi? Siap bekal berkeluarga? Tahu fungsi berkeluarga? Tahu bagaimana merawat anak. Lalu tahu juga kalau istri hamil itu perlu apa saja.

Dalam berkeluarga itu, butuh kesiapan dan pengetahuan tentang keluarga. Secara materi juga cukup, secara medis (kesehatan alat reproduksi) juga mendukung. Siap itu bukan sekadar sudah pekerjaan dan gaji lalu memberikan nafkah pada keluarga, tetapi tahu juga fungsi keluarga, cinta kasih, perlindungan dan pendidikan.

Kalau mau menikah harus tahu sejak awal bagaimana mendidik anak sejak kecil. Kalau ada yang bilang bisa dipelajari sambil jalan, mungkin bisa saja. Tapi kalau hal-hal itu sudah diketahui sejak sebelum menikah tentunya akan lebih baik, lebih siap, tidak meraba-raba.

Apakah menikah muda menjadi tren di Indonesia? 

Secara statistik usia menikah dini, sudah mulai berkurang saya rasa. Dulu, tahun 1970-an menikah banyak dilakukan di usia 16-17 tahun. Sedangkan sekarang kan rata-rata menikah umur 19,8 tahun. Ke depan kita berharap rata-rata menikah di usia 20-21 tahun.

Dilihat dari psikologis, pasangan suami istri yang terlalu belia belum mampu menanggung beban rumah tangga?

Kalau masih belia, belum matang secara psikologis. Kondisi kejiwaannya labil, emosional, masih bergantung ibu dan bapak di segala hal. Jadi kalau punya suami atau istri, dia tidak tahu bagaimana tugas, kewajiban dan haknya.

Karena belum tahu tanggung jawab dan kewajiban suami istri, nanti kalau menghadapi masalah jadinya terserah ibu dan bapaknya. Nanti kalau punya anak, sementara dia tidak punya pengetahuan, maka anak diurus seadanya. Nanti kalau anak menangis ditabok, padahal seharusnya disayang-sayang. Seharusnya anak disayang malah mendapat kekerasan.

Meskipun usia tidak berpengaruh pada tingkat kedewasaan?

Lebih berat memang jika sudah usia dewasa tapi masih belum mampu berpikir dewasa. Menikah itu bukan hanya melihat satu sisi, misalnya hanya dari sisi psikologis saja atau materi saja. Kesiapan psikologis itu mengujinya bagaimana? Saya juga menyarankan, kalau usia sudah matang, penting juga mendapat kursus calon pengantin atau pranikah. 

(vit/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini