Berikut wawancara detikcom dengan Effendi Ghazali, Jumat (10/10/2008).
Apakah Presiden SBY harus sering muncul di TV untuk menenangkan pasar akibat krisis global ini?
Tampil di TV secukupnya saja. Misalnya, 1 kali memberikan pernyataan resmi. Setelah itu menyampaikan secara tidak formal, seperti waktu meresmikan masjid, dan jika ada kesempatan lainnya. Kalau terlalu sering, tidak pantas. Orang akan bertanya-tanya, ada apa ini.
Komunikasi macam apa yang harus dilakukan SBY?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu?
Bukan hanya SBY saja. Tetapi orang-orang biasa misalnya, yang selama ini menjadi lawan pemerintah dan berpendapat beda dengan pemerintah juga bisa diminta membuat pernyataan bahwa uang aman di bank. Kejadian ini hanya di pasar modal.
Jadi, lawan-lawan politik dan ekonomi SBY, si tukang kritik, juga diperlukan untuk menenangkan pasar.
Apa krisis global berdampak pada citra SBY kelak?
Tergantung. Orang kata ini global, jauh dari rumah kita. Tetapi bagaimana pun jika rakyat susah hingga pemilu nanti bisa memberikan dampak bagi SBY. Tetapi, kita belum tahu krisis global ini pukulannya seberapa besar.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono sebelumnya meminta Presiden SBY harus pidato di TV yang meyakinkan untuk kurangi ketegangan. Menurut dia, munculnya Presiden SBY di TV secara resmi diharapkan bisa membuat pasar lebih tenang. Terlebih lagi pada hari ini Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menutup perdagangan saham. (aan/iy)











































