DetikNews
Rabu 24 Mei 2017, 09:30 WIB

Waka MA Suwardi Pensiun: Mohon Maaf Jika Ada Kata yang Tak Berkenan

Andi Saputra - detikNews
Waka MA Suwardi Pensiun: Mohon Maaf Jika Ada Kata yang Tak Berkenan Wakil Ketua MA Suwardi di kala santai (dok.pri)
Jakarta - Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA) bidang Nonyudisial Suwardi purna tugas karena memasuki usia 70 tahun pada bulan Mei ini. Mantan Ketua PN Jakut itu meminta maaf bila selama memimpin ada kekurangan.

"Atas nama Beliau, mohon maaf jika ada kata atau perbuatan yang tidak berkenan," kata putri Suwardi, Teti Suwardi menyampaikan amanat ayahnya kepada detikcom, Rabu (24/5/2017).

Pria kelahiran Lampung pada 19 Mei 1947 ini memulai karirnya sebagai PNS Universitas Lampung di 1970-1979. Kemudian pada 1 Februari 1980 beralih menjadi calon hakim di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai hakim di PN Kotabaru.


Tercatat dia pernah menjadi hakim di PN Banyuwangi dan hakim PN Samarinda pada 1987. Selain menjadi hakim, jabatan struktural mulai dia geluti sebagai Wakil Ketua PN Palu pada 1996 dan Ketua PN Jakarta Utara pada tahun 2000.
Lanjut ke selera asal, hobi nyawah (mengelola sawah) di kampung halaman plus momong cucuWakil Ketua MA Suwardi

Setelah itu, kariernya tak terbendung dengan menjadi hakim tinggi Pengadilan Tinggi (PT) Medan pada 2003. Lantas dua tahun setelahnya menjadi Wakil Ketua PT Banten.

Pada 2007, dia kembali ke kampung halaman dengan menjadi Ketua PT Tanjungkarang. Namun tak sampai dua tahun, dia diprmosikan menjadi Wakil Ketua PT Jakarta setahun setelahnya. Setelah kurang lebih 29 tahun menempuh karir sebagai hakim, pada 30 Desember 2008 pun melenggang ke Mahkamah Agung (MA) sebagai hakim agung.

Di MA, kariernya terus menanjak. Setelah didaulat menjadi Ketua Kamar Perdata MA, ia dipilih melalui voting sebagai Waka MA bidang Nonyudisial pada 2014. Dengan jabatannya, Suwardi memegang manajemen pengadilan di luar teknis perkara, seperti pembinaan, pengelolaan keuangan hingga pembangunan sarana dan prasarana.

Lantas apa yang akan dilakukan setelah pensiun?

"Lanjut ke selera asal, hobi nyawah (mengelola sawah) di kampung halaman plus momong cucu," ujar Teti.

Selain menjadi pejabat struktural, Suwardi juga masih tetap mengadili berbagai perkara. Sebagai hakim agung spesialis perdata, banyak perkara besar masuk ke mejanya. Seperti sengketa TPI dengan hasil mengembalikan TPI ke pangkuan Tutut dan sengketa Yayasan Supersemar yang menghukum Yayasan Supersemar lebih dari Rp 3 triliun.

"Terima kasih semua atas doa dan dukungannya," ucap Teti menyampaikan pesan ayahnya.
(asp/rna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed