DetikNews
Kamis 07 Januari 2016, 15:17 WIB

Tokoh Inspirasi

Budi Harta Winata dan Konsep Berbagi Kebahagiaan dengan Sesama

Jabbar Ramdhani - detikNews
Budi Harta Winata dan Konsep Berbagi Kebahagiaan dengan Sesama Foto: dok. pribadi
Jakarta - Dalam hidup, berbagi adalah kunci kebahagiaan. Di dunia usaha, berbagi artinya memberikan manfaat bagi orang banyak, mulai dari karyawan sampai pengguna produk. Prinsip itulah yang terus dipegang oleh Budi Harta Winata.

Pria 39 tahun itu memulai semuanya dari nol. Sejak lulus SMK, dia bekerja sekuat tenaga, mempelajari teknik desain konstruksi, mendirikan usaha las keliling, sampai kini menjadi bos konstruksi baja ternama. Perusahaannya terlibat dalam berbagai proyek, mulai dari pintu tol sampai stasiun kereta.

Kisahnya tentu saja jadi perbincangan di media sosial. Selain kisah hidupnya, prinsipnya yang memiliki jargon 'Utamakan Salat dan Keselamatan Kerja' banyak disebar di mana-mana. Tak banyak pengusaha yang mengkombinasikan kerja dan ibadah agama.

Dia tak pernah memberikan toleransi pada pekerjaan bila tiba waktunya salat. Seluruh karyawan diajak salat berjamaah di musala yang dibuat sebagus mungkin.

"Dari sejak bengkel (las) sudah menerapkan itu. Karena dari dulu saya pengin punya," terang Budi saat berbincang dengan detikcom di kantornya di Cikarang, Bekasi, Jabar, Rabu (6/1/2016).

dok pribadi


"Jadi saya kenapa utamakan salat dan keselamatan kerja? Kenapa saya tulis seperti itu, analogi saya adalah saya suka naik motor. Kalau orang yang salatnya terpaksa karena dipaksa oleh atasannya. Anggaplah dia masih punya rem, tapi masih rem tromol. Tapi kalau 5 lima waktu, dia punya cakram. Tapi kalau dia sudah rajin dengan tahajud dan sunnahnya bagus, maka dia udah ABS (anti brake system)," paparnya.

Budi sadar, dengan menghentikan kegiatan pabrik konstruksi baja, ada potensi kerugian. Dia menyebut, bila mesin disetop selama 15 menit, bisa rugi sampai Rp 25 juta. Namun baginya, itu bukanlah persoalan. Malah dia menjadikan nilai kerugian itu sebagai keuntungan nanti di akhirat.

"Siapa tahu akan berguna bagi kita di akhirat nanti, kalau saya pernah mengajak orang salat meskipun cuma satu orang," ucap pria asal Banyuwangi ini.

dok. pribadi


Selain salat, prinsip utama yang ditanamkan Budi pada karyawannya adalah semangat wirausaha dan berbagi. Dengan berguna bagi orang lain, dia memperoleh kebahagiaan tersendiri.

"Saya ingin lebih banyak orang muslim yang buka usaha. Yang jadi entreprenur jadi membuka pekerjaan untuk orang lain. Mindset dia jadi pengusaha, bukan jadi pegawai negeri atau di perusahaan asing," ceritanya.

"Hari ini kita berguna buat berapa orang? Menurut saya prinsipnya berbagi. Seberapa banyak orang yang bisa kita bahagiakan," sambungnya.

Bila berbuat salah, Budi juga kerap menghitungnya. Saat dia melakukan kesalahan pada satu orang, maka dia bertekad membahagiakan dua orang. Tujuannya agar impas.

"Karena ada di dunia ini orang yang dosanya itu tertutup oleh pahala yang dibuatnya. Manusia ini nggak ada yang sempurna," terangnya.



Di tengah wawancara, detikcom sempat menanyakan hal ringan kepada Budi. Nama belakangnya Winata dan mempunyai perusahaan dengan kata Artha dan Graha, apakah ada kaitannya dengan pengusaha Tomy Winata? Dia menjawab tidak dan itu hanya kebetulan saja.

"Kebetulan saja saya dapat nama seperti ini. Kadang juga ada orang yang bilang ke saya, "Enak ya, Pak. Meneruskan perusahaan keluarga. Saya juga pernah dulu waktu tender di satu perusahaan disangka orang Tomy Winata. Mungkin karena ada yang sama namanya, "Artha", "Graha", "Winata"," ucapnya sambil tertawa.
(mad/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed