Sabtu (22/10/2011), detikcom berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Denny Indrayana dalam menjalankan tugasnya sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM. Tugas pertamanya adalah menggali informasi dan data di sejumlah lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di Jakarta.
Informasi tersebut nantinya akan dijadikan dasar dalam mengeluarkan kebijakan strategis bersama Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin. Dalam satu hari itu Denny berkunjung ke LP dan Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Kantor Imigrasi Khusus Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang terakhir ke LP dan Rutan Salemba Jakarta Pusat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang Staf Bagian Tata Usaha Pimpinan Kemenkum dan HAM menemani Denny duduk di bangku depan. Sementara seorang ajudan Denny bersafari hitam duduk di belakang. Otomatis kami yang berada satu mobil merasa kaku dengan kondisi tersebut.
"Saya memang suka nyopir sendiri walaupun sudah ada sopir. Tapi kalau sedang capek ya disopiri," kata Denny.
Mantan Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, HAM & Pemberantasan KKN ini memang terlihat belum terbiasa menggunakan mobil dinas barunya tersebut. Teknologi dan sistem mengemudi yang otomatis dan digital membuatnya sedikit kaku dalam menjalankan mobil tersebut. Namun tidak lama, Denny pun mampu mengemudi dengan lancar.
Berangkat sekitar pukul 15.00 WIB dari LP dan Rutan Cipinang menuju Bandara Soekarno-Hatta, Denny membawa mobilnya dengan kalem. Perjalanan menuju bandara sepertinya sudah menjadi perjalanan rutinnya selama ini sehingga tanpa ragu melesat dengan cepat. Wuss..
Mulai dari bayar parkir hingga bayar tol Denny sendiri yang melakukannya. Begitu juga saat melakukan pengisian bahan bakar di salah satu SPBU dan memarkirkan kendaraannya di setiap tempat yang dikunjungi. Kami yang berada di dalam mobil tampak sibuk mencoba membantu apa yang dibutuhkan sang sopir.
Setibanya di bandara, tidak ada penyambutan yang spesial untuk seorang pejabat negara yang sedang melakukan kunjungan kerja. Disambut oleh Kepala Kantor Imigrasi Bandara Dirman Sukardi, Denny berkeliling sambil menyapa beberapa calon penumpang.
Denny bertanya juga kepada sejumlah pegawai imigrasi mengenai keluhan dan apa yang menjadi kebutuhan para bawahannya tersebut. Buku notes kecil dan pulpen tidak lepas dari tangannya untuk mencatat setiap informasi yang dia kumpulkan.
Selama kurang lebih satu jam tiga puluh menit, Denny merasa cukup mendapat informasi dan data yang dia butuhkan dan mengakhiri kunjungan kerjanya tersebut. Sekitar pukul 17.30 WIB, Denny berencana melanjutkan kunjungan kerjanya ke Rutan dan LP Salemba, Jakarta Pusat.
Selama dalam perjalanan, telepon genggamnya tidak berhenti berdering. Sejumlah wartawan menelponnya untuk sekedar bertanya apa saja kegiatan Denny hari itu. Meski terlihat kesulitan saat harus mengemudi sambil menerima telepon, Denny tidak sungkan menjawab setiap pertanyaan wartawan.
Hingga salah seorang wartawan televisi memintanya untuk hadir untuk memberikan keterangan dalam program beritanya, Denny pun tidak keberatan. Akhirnya perjalanan menuju Rutan dan LP Salemba beralih ke tempat syuting televisi tersebut yang berada di kawasan Bundaran HI.
"Saya harus izin dulu sama Pak Menteri apakah diizinkan atau tidak. Tapi ternyata Pak Menteri berkenan agar saya memberikan keterangan di televisi," tutur Guru Besar Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada ini usai meminta izin kepada Menkum HAM Amir Syamsuddin melalui sambungan telepon.
Ternyata, pada hari itu, Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum ini sedang menjalankan ibadah puasa sunah. Titiba ada yang menelepon untuk mengingatkan bahwa sudah masuk waktu Maghrib dan agar segera berbuka. Ajudan dan staf dari Kemkum HAM yang ikut dalam mobil tersebut langsung berusaha menawarkan air mineral yang ada di mobil. Namun saat menawarkan roti yang juga ada di mobil dan menawarkan hendak makan di mana, Denny menolaknya.
"Saya Puasa Nabi Daud. Jadi sehari puasa, sehari tidak. Untuk menjaga kesehatan juga agar tidak overweight," jelasnya.
Tiba di studio televisi yang hendak mewawancarainya, Denny pun tidak sempat berganti pakaian yang sudah dipakainya sejak pagi. Dia langsung masuk kedalam studio karena sudah ditunggu oleh pembawa acara tersebut. Hanya sekitar 30 menit, usai wawancara, Denny melanjutkan perjalanannya menuju LP dan Rutan Salemba.
Tapi sebelumnya, Denny tidak lupa untuk mengisi perut terlebih dahulu. Salah satu tempat makan yang menjadi favoritnya adalah Warung Sate Jaya Agung yang berada di Jl Wahid Hasyim tepatnya di samping Gedung Djakarta Theatre. Menu yang dipesan malam itu serba Kambing. Mulai dari gulai hingga sate kambing.
"Tidak ada cerita khusus kenapa harus makan di sini. Tapi karena ingin makan sate kambing, kebetulan di sini enak dan yang terdekat saja," ungkapnya.
Usai makan malam, perjalanan pun berlanjut menuju LP dan Rutan Salemba. Setir mobil masih mantap dipegangnya untuk melaju menuju lokasi yang berada di Jakarta Pusat tersebut. Saat melalui Jalan Cikini tepatnya di Taman Ismail Marzuki, antrean panjang tampak terlihat. Kendaraan kami pun terjebak macet yang cukup lama di jalan tersebut. Namun gaya mengemudi pria kelahiran Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan, 11 Desember 1972 ini tetap kalem. Ajudan Denny pun tampak sibuk karena harus turun ke jalan untuk membantu mengurai kemacetan dan membuka jalan.
Sekitar pukul 20.30 WIB, tiba di Rutan Salemba. Sejumlah pemburu berita sudah menyambut kedatangan Denny untuk mengetahui tujuan dan maksud kedatangannya di rutan tersebut. Setelah diberondong sejumlah pertanyaan, akhirnya Denny masuk ke dalam rutan ditemani Karutan Salemba, Slamet Prihantoro. Teman-teman media yang hendak meliput tidak diizinkan masuk tapi hanya menunggu di ruang tunggu pengunjung.
Setelah selesai berkunjung, Denny tidak lupa menyampaikan informasi dan data kepada rekan media yang sudah menunggunya. Di antaranya mengenai permasalahan yang mendasar dalam rutan dan LP ada masalah over capacity. Pihaknya berjanji akan mencari solusi dan sudah menyiapkan anggaran sekitar Rp 1 triliun untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Waktu menunjukan pukul 22.00 WIB. Akhirnya perjalanan kunjungan berakhir dan akan dilanjutkan pada waktu yang akan disesuaikan.
"Nanti apa yang kita dapat hari ini dilaporkan kepada Pak Menteri kemudian dikaji kembali untuk menjadi solusi yang terbaik. Mudah-mudahan, bismilllah ada jalan keluarnya," ujarnya menutup kunjungan hari itu.
(mpr/nwk)










































